Pinrang
Kisah Ramaliah, Setiap Hari Bertaruh Nyawa Selama Satu Jam untuk Mengakses Kebunnya
Untuk sampai ke kebunnya itu, Ramaliah mengakses jalan alternatif penghubung dua kecamatan tersebut.
Penulis: Nining Angraeni | Editor: Saldy Irawan
Dinding tebing pertama ini kemiringannya diperkirakan 75 derajat.
Ramaliah pun mulai meraih tali yang terbuat dari plastik bekas pembungkus kabel yang diikat di pohon.
Untuk menjaga keseimbangan bagi pengguna jalan, dinding tebing di pahat berlubang.
Ukurannya cukup untuk pijakan kaki.
Ramaliah menarik tali dan kakinya berpijak di lubang pahatan tebing.
Tahap kedua, dijumpai tangga ukuran 15 meter dengan kemiringan 75 derajat.
Ada 21 anak tangga yang dipijak Ramaliah.
Jarak antar anak tangga itu sekitar 40 cm.
Setelah melewati itu, Ramaliah berjalan lagi untuk meraih tangga ke tiga.
Menariknya, barang bawaan Ramaliah tidak jatuh saat menaiki tangga meskipun dijunjung di kepala.
Tangga ini terbilang pendek.
Hanya delapan anak tangga yang dipijaki.
Setelah itu, Ramaliah harus berjibaku lagi dengan berpegangan tali dan kayu.
Hampir sama dengan tahapan pertama.
Hanya saja, Ramaliah harus memanjat sekitar 15 sampai 20 meter dengan berpegangan ke tali.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/nining-665.jpg)