Pinrang
Kisah Ramaliah, Setiap Hari Bertaruh Nyawa Selama Satu Jam untuk Mengakses Kebunnya
Untuk sampai ke kebunnya itu, Ramaliah mengakses jalan alternatif penghubung dua kecamatan tersebut.
Penulis: Nining Angraeni | Editor: Saldy Irawan
Untuk tahapan ke lima, Ramaliah menaiki tangga lagi dengan 11 anak tangga.
Ramaliah tampak beristirahat sebentar.
Usai beristirahat sekitar 5 menit, ia melanjutkan perjalanan menaiki tebing lagi.
Mendekati puncak, dua tangga terakhir kondisinya lebih ekstrem.
Karena kemiringannya sekitar 90 derajat berada di ketinggian 150 meter.
Tangga hanya ditopang potongan kayu kemudian diikat kawat agar tidak goyang.
Dua tangga dengan tinggi 15 meter hingga 20 meter digunakan menuju puncak.
Ada 22 anak tangga yang harus dipijak.
Begitu pula dengan tangga terakhir.
Sampailah Ramaliah di puncak perjalanan dengan tetap menjunjung barangnya di kepala.
Ia kemudian beristirahat sekitar 10 menit sembari menikmati panorama dari atas tebing sebelum melanjutkan perjalanan ke rumahnya yang berada di Dusun Lomba.
Sepanjang menaiki tebing, Ramaliah tidak menggunakan pengaman apapun.
Ramaliah pun bercerita jika ia sudah biasa menaiki atau menuruni Tangga Kaluppio.
Setiap harinya, ia menuruni tangga jam 08.00 pagi untuk ke kebunnya.
Kemudian pulang dari kebun sekitar pukul 15.00 Wita.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/nining-665.jpg)