Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Pinrang

Kisah Ramaliah, Setiap Hari Bertaruh Nyawa Selama Satu Jam untuk Mengakses Kebunnya

Untuk sampai ke kebunnya itu, Ramaliah mengakses jalan alternatif penghubung dua kecamatan tersebut.

Penulis: Nining Angraeni | Editor: Saldy Irawan
tribun-timur/nining
Ramaliah (60) saat menaiki Tangga Kaluppio dengan membawa barang di atas kepalanya.  

TRIBUNPINRANG.COM, PINRANG - Kisah perjuangan Ramaliah (60), warga Kabupaten Pinrang, Sulawesi Selatan, setiap hari harus menuruni atau menaiki tangga yang berada di dinding tebing. 

Ramaliah yang tinggal di Dusun Lomba, Kecamatan Lembang, Kabupaten Pinrang

Ia mempunyai kebun jagung yang berada di Dusun Salu Baka, Desa Kaserallau, Kecamatan Batulappa.

Untuk sampai ke kebunnya itu, Ramaliah mengakses jalan alternatif penghubung dua kecamatan tersebut.

Ramaliah harus menuruni atau menaiki tangga yang ekstrem.

Warga lokal menamai tangga tersebut Tangga Kaluppio.

Tangga ini berada di dinding tebing dengan kemiringan 90 derajat.

Pukul 15.00 Wita, Ramaliah baru saja selesai dari kebun miliknya yang berada di Dusun Salu Baka.

Ia kemudian berjalan ke arah Tangga Kaluppio untuk pulang ke rumahnya yang berada di atas tebing.

Dengan mengenakan stelan baju putih, celana training dan jilbab coklat, Ramaliah menjunjung barang di atas kepalanya.

Barang yang ia bawa itu isinya alat makan yang di simpan di tas berbahan karung.

"Kalau turun ke bawah itu saya bawa nasi, sayur dan ikan untuk bekal di kebun. Tapi dalam tas ini sudah habis makanannya. Jadi sisa alat makannya saja untuk dibawa naik lagi," katanya.

Untuk sampai ke rumahnya, Ramaliah  memulai dengan mendaki kaki tebing dengan kecuraman 45 derajat dengan vegetasi hutan.

Ramaliah harus melewati tujuh tahapan.

Setelah melewati kaki tebing, tahap pertama yang ditemui Ramaliah adalah dinding tebing dengan tinggi 10 meter.

Dinding tebing pertama ini kemiringannya diperkirakan 75 derajat.

Ramaliah pun mulai meraih tali yang terbuat dari plastik bekas pembungkus kabel yang diikat di pohon.

Untuk menjaga keseimbangan bagi pengguna jalan, dinding tebing di pahat berlubang.

Ukurannya cukup untuk pijakan kaki.

Ramaliah menarik tali dan kakinya berpijak di lubang pahatan tebing.

Tahap kedua, dijumpai tangga ukuran 15 meter dengan kemiringan 75 derajat.

Ada 21 anak tangga yang dipijak Ramaliah.

Jarak antar anak tangga itu sekitar 40 cm.

Setelah melewati itu, Ramaliah berjalan lagi untuk meraih tangga ke tiga.

Menariknya, barang bawaan Ramaliah tidak jatuh saat menaiki tangga meskipun dijunjung di kepala.

Tangga ini terbilang pendek.

Hanya delapan anak tangga yang dipijaki.

Setelah itu, Ramaliah harus berjibaku lagi dengan berpegangan tali dan kayu.

Hampir sama dengan tahapan pertama.

Hanya saja, Ramaliah harus memanjat sekitar 15 sampai 20 meter dengan berpegangan ke tali.

Untuk tahapan ke lima, Ramaliah menaiki tangga lagi dengan 11 anak tangga.

Ramaliah tampak beristirahat sebentar.

Usai beristirahat sekitar 5 menit, ia melanjutkan perjalanan menaiki tebing lagi.

Mendekati puncak, dua tangga terakhir kondisinya lebih ekstrem.

Karena kemiringannya sekitar 90 derajat berada di ketinggian 150 meter.

Tangga hanya ditopang potongan kayu kemudian diikat kawat agar tidak goyang.

Dua tangga dengan tinggi 15 meter hingga 20 meter digunakan menuju puncak.

Ada 22 anak tangga yang harus dipijak.

Begitu pula dengan tangga terakhir.

Sampailah Ramaliah di puncak perjalanan dengan tetap menjunjung barangnya di kepala.

Ia kemudian beristirahat sekitar 10 menit sembari menikmati panorama dari atas tebing sebelum melanjutkan perjalanan ke rumahnya yang berada di Dusun Lomba.

Sepanjang menaiki tebing, Ramaliah tidak menggunakan pengaman apapun.

Ramaliah pun bercerita jika ia sudah biasa menaiki atau menuruni Tangga Kaluppio.

Setiap harinya, ia menuruni tangga jam 08.00 pagi untuk ke kebunnya.

Kemudian pulang dari kebun sekitar pukul 15.00 Wita.

"Saya setiap hari turun melewati tangga Kaluppio untuk ke kebun saya. Begitu pula kalau pulang. Naik tangga ini lagi," katanya.

Dikatakan, Tangga Kaluppio akses tercepatnya.

Ketimbang harus melewati jalanan umum yang memakan waktu lama.

"Kalau lewat jalan umum saya harus memutar dulu. Bisa lewat Enrekang atau kota Pinrang. Tapi butuh waktu tiga jam menggunakan kendaraan," paparnya.

Namun, kata Ramaliah, jika lewat Tangga Kaluppio, ia hanya butuh waktu satu jam untuk sampai ke kebunnya.

"Lebih baik lewat Tangga Kaluppio karena hanya butuh waktu satu jam dan sudah sampai di kebun," ucapnya.

Ramaliah menuturkan, jika Tangga Kaluppio ini sudah ada sejak ratusan tahun.

Dulunya tangganya terbuat dari bambu.

Kemudian sekitar 20 tahun, warga menggantinya dengan kayu.

"Dulu masih bambu. Tapi karena ini akses tercepat warga di dua kecamatan, makanya kami bergotong royong menggantinya dengan kayu," tuturnya.

Hingga saat ini, Tangga Kaluppio menjadi akses utama warga di dua kecamatan tersebut. 

Laporan wartawan Tribunpinrang.com, Nining Angreani

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved