Keindonesiaan
100 Tahun Sudjatmoko
BEBERAPA Intelektual di Jakara memperingati 100 tahun Dr.Sudajamoko, 10 Januari 2022 lalu.
Oleh Anwar Arifin AndiPate
BEBERAPA Intelektual di Jakara memperingati 100 tahun Dr Sudajamoko, 10 Januari 2022 lalu.
Sudjamoko dilahirkan 10 Januari 1922 di Sawahlunto Sumatera Barat.
Ia memperoleh gelar doktor bidang humaniora di Amerika Serikat (AS) dan menjadi Duta Besar Indonesia di AS (1968-1971).
Soedjamoko pernah hadir di Kampus Universitas Hasanuddin Ujung Pandang selaku narasumber dalam Seminar Ilmiah tentang “Indonesia dan Perkembangan Asia Pasifik”, 19-21 Mei 1980.
Ketika mneyampaikan prasarannya, Dr. Sudjamoko (Koko) yang didampingi Drs.Halide (Ketua Sidang) dan Drs.Anwar Arifin (Sekertaris), Koko berbicara lagi tentang MORAL.
Ia membentangkan keyakinannnya, bahwa hari depan dunia, lebih banyak ditentukan moralitas keputusan kita hari ini.
Sedangkan Tantang Asia-Fasifik, Soedjatmoko menyatakan, kini RRC sedang menggalakkan modernisasi, dan jika hal itu berhasil, pasti akan menimbulkan masalah di Asia-Pasifik, khususya di Asia Tenggara.
“Ideologi tidak lagi memegang peranan, melainkan ekonomi”, kata Soedjatmoko.
Memperingati 100 tahun Soedjamoko, kita patut mengenang dan mengenal gagasannya, terutama tentang moral, agama, dan perananan kebudayaan.
Hal itu menarik perhatian dunia, dan membuatnya terpilih sebagai pemenang hadiah Ramon Magsaysay dari Philipina (1968).
Gagasannya terutama dikemukakan dalam karyanya:
“National Policy Implication of the Basic Needs Model”, yang dipandang sebagai sumbangan berharga terhadap pemikiran internasional untuk meningkatkan tantangan besar masa kini, yakni meningkatkan taraf hidup sekitar 40% rakyat di Asia Tenggara dan Selatan yang merupakan lapisan paling miskin.
Soejatmoko juga kemudian ditunjuk oleh Sekjen PBB (Perserikatan Bangsa-Bangsa), Kurd Waldheim, sebagai Rektor Universitas PBB di Tokyo, meggantikan James M.Nester yang berakhir masa jabatannya, 31 Agustus 1980.
Ketika ia diwawancarai untuk pencalonan Rektor Universitas PBB, ia pun mengemukakan gagasannya itu.
Dalam seleksi finalnya ia terpilih dari empat calon lain, dari Peru, Afrika, India, dan Swedia. Koko diwawancarai Dirjen Unesco di Paris dan Sekjen PBB di New Delhi.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/anwar-arifin-andipate_20151215_202758.jpg)