Opini Tribun Timur
Kisahan Tetua
Ia seorang perempuan renta kuat yang hidup bahagia didunia persawahan dan perladangan. Padahal ia bukan sarjana pertanian.
Ia terus berupaya percaya, bahwa dengan sekolahlah bangsa ini dapat tercerdaskan tak terbodohkan.
Tetapi ia tak begitu yakin bila sekolah dapat memperbaiki keadaan keturunannya kelak. Apalagi dizaman itu, “sekolah gratis” belum masuk garis pembangunan.
Maka pada sawah dan ladanglah ia berharap akan masa depan anak dan cucunya kelak, walau sawah dan ladang itu terbatas luasnya sebab orang tuanya--konon bukanlah “tuan Baron” dimasanya.
Dalam kategori Marxis, nenek saya mungkin tergolong proletar tak bergelar.
Walau tak bersekolah, nenek saya sangat menganjurkan pengatahuan agama.
Dalam hal kemampuan mengaji misalnya ia ingin cucu-cicitnya melebihi kemampuamnya mengaji.
Maka ia pro aktif menganjurkan pada cucu-cicitnya agar tammat mengaji 30 juz.
Dialah yang membawa saya mengaji pada seorang guru mengaji kampung yang juga masih tercatat sebagai karibnya.
Tentu tak sekedar menyetor saya didepan guru mengaji. Ia membawa sebiji kelapa tua utuh dan sebiji gula aren yang dibungkus khusus lantas disodorkan pada guru mengaji.
Entah apa maksudnya. Barangkali maknanya, kelapa dan gula aren adalah simbol bahwasannya Al Qur’an sebagai pelepas dahaga dengannyalah hidup ini teras manis. Entahlah.
Tetapi ia bukanlah produk sekolah. Bukanlah sekolah yang membimbingnya.
Namun pengetahuan lokal yang dicurahkan dari generasi atasnya hingga dirinya menjadi spirit sekaligus pembimbing hidupnya.
Hasilnya, ia tak sekolah, namun berpengetahuan.
Ia tahu bagaimana mengolah sawah dan ladang. Ia tahu bagaimana benih padi harus ditabur.
Ia tahu bagaimana panen diselenggarakan. Bahkan, ia tahu dan berpengalaman mengubah kebun menjadi sawah dengan tangannya sendiri--walau ia seorang perempuan.