Opini Tribun Timur
Kisahan Tetua
Ia seorang perempuan renta kuat yang hidup bahagia didunia persawahan dan perladangan. Padahal ia bukan sarjana pertanian.
Oleh: Abdul Karim
Majelis Demokrasi & Humaniora
Nenek buyut saya bukanlah pelaut sebagaimana kakek-kakek lainnya.
Ia seorang perempuan renta kuat yang hidup bahagia didunia persawahan dan perladangan. Padahal ia bukan sarjana pertanian.
Selain bertani-berkebun, ia punya keahlian khusus, yakni membuat kasur.
Ketika produk modernisasi alat-alat tidur seperti bantal dan kasur menyerang warga, nenek sayalah produsen kasur dan bantal di kampung kami.
Dengan jemarinya ia membuat kasur dan bantal pesanan warga tanpa mengecewakan.
Di era sebelum spring bad berkuasa saat itu, kasur empuk diproduksinya berbahan pokok kapuk.
Keterampilan ini ia peroleh bukan dari bangku Balai Latihan Kerja (BLK).
Ia tanpa ijazah sekolah, sebab ia memang tak pernah mengenal sekolah dimasanya.
Kita tahu, dizaman itu sekolah hanya milik Belanda yang siswa-siswinya keturunan Belanda dan pribumi bangsawan.
Nenek buyut saya, bukanlah bangsawan, apalagi Belanda--maka sekolah bukan takdirnya.
Pantaslah bila ia tak kenal aksara dan pena sebagaimana kaum sekolahan.
Lidahnya pun tak mampu bersilat cakap dengan bahasa Indonesia.
Wajar pula bila ia tak meletakkan cita-citanya di dalam kelas sekolah yang disaksikan papan tulis. Walau begitu, nenek buyut saya sama sekali tak melarang cucu-cucunya bersekolah.