Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Opini Tribun Timur

Guru Nafas Pendidikan

Guru adalah sebuah profesi yang digambarkan sebagai pengabdian dengan tugas mulia.

Editor: Sudirman
Ammy Sudarmin
Ammy Sudarmin Asosiasi Guru Pendidikan Agama Islam Indonesia (AGPAI) Sulsel 

Mengajar melalui berbagai medan yang ekstrim, mengajar dengan honor yang jauh dari kata sepadan dan itupun kadang dirapel hingga sekian bulan. Miris sebenarnya.

Namun itulah faktanya. Nasib pendidikan tak bisa dipungkiri terletak pada tangan para guru tersebut.

Seperti sebuah detak kehidupan pada makhluk, yang dideteksi hidupnya melalui detak jantung dan nafas mahkluk tersebut, maka seperti itulah vitalnya tugas dan fungsi seorang guru dalam proses pendidikan.

Berbagai regulasi, undang undang, teori pendidikan dan program program yang dianggap hebat, hanya akan menjadi sebuah tulisan diatas kertas jika guru tidak bergerak.

Dalam faktanya, gerakan dan berbagai praktik baik telah dilakukan oleh para guru yang semakin hari kalau mau jujur, semakin berat tugasnya.

Bagaimana tidak, para guru ditengah tengah tugas mengajarnya harus tetap Up To Date, mengikuti perkembangan jaman, bersaingdengan android dan konten konten yang sangat menyedot perhatian peserta didik.

 Untuk itu walaupun seorang guru telah diakui profesionalitasnya dengan sertifikat pendidik namun upgrade dan upskill ilmu tidak boleh berhenti sampai disitu.

Program yang digagas oleh pemerintah sebagai jawaban dari berbagai persoalan pendidikan, selalu diikuti dengan
berbagai perubahan perubahan yang kadang kadang menjadi momok bagi para sebagian guru.

Model pembelajaran, RPP yang tiap saat berubah sesuai perubahan kurikulum yang didalamnya begitu kompleks mengharuskan guru tiap saat harus terus belajar dan belajar untuk menyesuaikan diri.

Dalam praktek mengajar, sesuai program Merdeka Belajar berdasarkan prinsip prinsip belajar dari Ki Hajar Dewantoro, guru tidak lagi dituntut untuk sekedar menumpahkan ilmu itu kepada peserta didik.

Tidak lagi dengan pola menyuap ilmu dan pengetahuan dengan metode ceramah, diskusi monoton serta sekedar memberikan catatan kepada siswa.

Ini sudah sangat jauh terbelakang dan tidak sesuai zaman. Walau tak bisa dipungkiri bahwa masih ada tempat
tempat yang jauh dari jangkauan akses dan sarana prasarana memadai hingga saat ini tetap menerapkan pola itu.

Karena keadaan yang mengharuskan seperti itu. Gurulah yang berupaya membuat itu menjadi sedikit lebih menarik dengan keterbatasan yang ada.

Dengan Pola Merdeka Belajar dimana guru dituntut untuk mengenali karakter dan latar belakang siswa dengan diagnostik awal, agar guru mampu menyesuaikan pola dan metode mengajarnya, sampai saat ini masih menjadi pergumulan ditengah tuntutan untuk menyelesaikan capaian pembelajaran sesuai rancangan waktu yang disusun.

Tapi, itu sekali lagi tetap dijalani. Tidak mudah namun tak pernah begitu sulit jika dilakukan step by step lengkap dengan kegigihan gerakan dan tindakan.

Sumber: Tribun Timur
Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved