Opini Tribun Timur
Pilkades
Sejak Oktober lalu, di Sulsel sejumlah desa di daerah kabupaten sibuk ber-Pilkades. Calon Pemimpin desa dipilih langsung oleh warga.
Rumah itu dibongkar oleh pemilik lahan yang kesal terhadap pemilik rumah karena tidak memilih calon kepala desa usungannya.
Adapula yang sumpah serapah bila calonnya kalah. Belum lagi politik uang yang selalu nyaring didengarkan walau kadangkala tak ditemukan.
Seorang rekan mengabarkan, modal meterial politik kades terpilih di kampungnya habis ratusan juta.
Beberapa tahun silam pilkades disebuah desa memerihkan mata. Kandidat incumbent yang kalah rela menyegel kantor desa. Ia kecewa dan marah lantaran kalah. Kantor desa seolah milik privat.
Dalam konteks demikian, desa jelas tak terbangun, ia malah ambruk sebagai institusi, dan hancur porak-poranda sebagai kebudayaan.
Kebaikan-kebaikan moral dalam proses pilkades tak ditemukan lagi.
Bila kondisi seperti itu terus dibiarkan, maka kedepan desa akan gagal menjadi sumber kekuatan yang menyanggah bangunan demokrasi negeri.(*)
Tulisan ini juga diterbitkan pada harian Tribun Timur edisi, Rabu (24/11/2021).
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/upacara-oleh-abdul-karim-majelis-demokrasi-humaniora-sulsel.jpg)