Breaking News:

Tribun Makassar

MUI Sulsel Sebut Pembakaran Mimbar Masjid Raya Makassar Ujian Soliditas Ummat Bangsa

MUI Sulsel sebagai lembaga resmi keummatan menyerahkan sepenuhnya tindakan hukum kepada pihak berwenang.

Editor: Hasriyani Latif
MUI Sulsel
Sekretaris Umum MUI Sulsel, KH Muammar Bakri 

TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sulsel menilai insiden percobaan pembakaran mimbar Masjid Raya Makassar sebagai ujian bagi soliditas keummatan dan kebangsaan serta ujian bagi supremasi hukum.

"Sebagai ummat beragama setiap kejadian yang menimpa sebaiknya kita tempatkan sebagai ujian yang harus kita sikapi dalam koridor agama dan berbangsa. Kejadian ini adalah ujian bagi soliditas keummatan dan kebangsaan serta supremasi hukum," ujar Sekretaris Umum MUI Sulsel, KH Muammar Bakri dalam pernyataan resminya di Makassar, Sabtu (25/9/2021).

Pernyataan tersebut mewakili Ketua Umum MUI Sulsel, Prof KH Najamuddin merespon kejadian maupun reaksi dan tanggapan berbagai ormas Islam dan lapisan masyarakat terhadap tindakan percobaan pembakaran mimbar Masjid Raya Makassar yang terjadi Jumat (24/9/2021)

Dekan Fakultas Syariah dan Hukum (FSH) UIN Alauddin Makassar itu merinci selama ummat menyikapi kejadian tersebut sebagai ujian atas persatuan ummat dan keutuhan bangsa maka jika pun ada desain khusus oleh pihak tak bertanggung jawab atas kejadian itu bukan melemahkan.

Namun akan semakin menguatkan persatuan ummat dan bangsa.

Hikmah kedua dari kejadian yang santer diinfokan dilakukan orang dengan kelainan jiwa itu, menurut Muammar, menjadi ujian bagi supermasi hukum.

"Karena ini jelas tindak kriminal maka harus ditindak dengan hukum yang ada. Jika pelakunya terindikasi medis sebagai orang gila maka tentunya ada aturan hukum khusus di KUHP Pasal 44," urainya.

Untuk itu MUI Sulsel sebagai lembaga resmi keummatan menyerahkan sepenuhnya tindakan hukum kepada pihak berwenang.

Di kesempatan terpisah, pengurus MUI Sulsel, dr Hidri Alwi menambahkan untuk membuktikan pelakunya alami schizoprenia (gila) perlu dibawa ke psikiater atau RS Jiwa.

Jika betul masuk kategori Schizoprenia maka secara hukum nasional dan hukum agama tidak bisa disalahkan.

Halaman
1234
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved