Lawan Covid19

Pedoman dan Tata Cara Pemulasaran dan Penguburan Jenazah Pasien Covid-19, Silakan Download File PDF

Pedoman Tata Cara Pemulasaran pasien Covid dan tata cara Penguburan Jenazah Pasien Covid dilansir Kementerian Kesehatan dan Kementerian Agama

Editor: Mansur AM
TRIBUN-TIMUR.COM/MUHAMMAD ABDIWAN
Pekuburan Khusus Covid-19 di Macanda, Kecamatan Somba Opu, Kabupaten Gowa, Sulsel. Berikut Pedoman Tata Cara Pemulasaran pasien Covid dan tata cara Penguburan Jenazah Pasien Covid dilansir Kementerian Kesehatan dan Kementerian Agama 

Alat pelindung diri (APD) adalah alat pelindung diri yang digunakan oleh petugas yang melaksanakan pengurusan jenazah

B. Ketentuan hukum pengurusan jenazah Covid-19.

Menegaskan kembali Ketentuan Fatwa MUI Nomor 14 Tahun 2020 Angka 7 yang menetapkan bahwa pengurusan jenazah (tajhiz al-jana'iz) yang terpapar Covid-19, terutama dalam memandikan dan mengafani harus dilakukan sesuai protokol medis dan dilakukan oleh pihak yang berwenang, dengan tetap memperhatikan ketentuan syariat.

Sedangkan untuk mensalatkan dan menguburkannya dilakukan sebagaimana biasa dengan tetap menjaga agar tidak terpapar Covid-19.

Umat Islam yang wafat karena wabah Covid-19 dalam pandangan syara' termasuk kategori syahid akhirat dan hak-hak jenazahnya wajib dipenuhi, yaitu dimandikan, dikafani, disalati, dan dikuburkan, yang pelaksanaannya wajib menjaga keselamatan petugas dengan mematuhi ketentuan-ketentuan protokol medis.
Pedoman memandikan jenazah yang terpapar Covid-19 dilakukan sebagai berikut:

Jenazah dimandikan tanpa harus dibuka pakaiannya.

Petugas wajib berjenis kelamin yang sama dengan jenazah yang dimandikan dan dikafani.

Jika petugas yang memandikan tidak ada yang berjenis kelamin sama, maka dimandikan oleh petugas yang ada, dengan syarat jenazah dimandikan tetap memakai pakaian. Jika tidak, maka ditayamumkan.

Petugas membersihkan najis (jika ada) sebelum memandikan.

Petugas memandikan jenazah dengan cara mengucurkan air secara merata ke seluruh tubuh.

Jika atas pertimbangan ahli yang terpercaya bahwa jenazah tidak mungkin dimandikan, maka dapat diganti dengan tayamum sesuai ketentuan syariah, yaitu dengan cara:

1). Mengusap wajah dan kedua tangan jenazah (minimal sampai pergelangan) dengan debu

2). Untuk kepentingan perlindungan diri pada saat mengusap, petugas tetap menggunakan APD

Jika menurut pendapat ahli yang tepercaya bahwa memandikan atau menayamumkan tidak mungkin dilakukan karena membahayakan petugas, maka berdasarkan ketentuan dlarurat syar'iyyah, jenazah tidak dimandikan atau ditayamumkan.

4. Pedoman mengkafani jenazah yang terpapar Covid-19 dilakukan sebagai berikut:

Setelah jenazah dimandikan atau ditayamumkan, atau karena dlarurah syar'iyah tidak dimandikan atau ditayamumkan, maka jenazah dikafani dengan menggunakan kain yang menutup seluruh tubuh dan dimasukkan ke dalam kantong jenazah yang aman dan tidak tembus air untuk mencegah penyebaran virus dan menjaga keselamatan petugas.

Setelah pengafanan selesai, jenazah dimasukkan ke dalam peti yang tidak tembus air dan udara dengan dimiringkan ke kanan sehingga saat dikuburkan jenazah menghadap ke arah kiblat.
Jika setelah dikafani masih ditemukan najis pada jenazah, maka petugas dapat mengabaikan najis tersebut.

5. Pedoman mensalatkan jenazah yang terpapar Covid-19 dilakukan sebagai berikut:

Disunahkan menyegerakan salat jenazah setelah dikafani.

Dilakukan di tempat yang aman dari penularan Covid-19.

Dilakukan oleh umat Islam secara langsung (hadir) minimal satu orang. Jika tidak memungkinkan, boleh disalatkan di kuburan sebelum atau sesudah dimakamkan. Jika tidak dimungkinkan, maka boleh disalatkan dari jauh (shalat ghaib).

Pihak yang menyalatkan wajib menjaga diri dari penularan Covid-19.

6. Pedoman menguburkan jenazah yang terpapar Covid-19 dilakukan sebagai berikut:

Dilakukan sesuai dengan ketentuan syariah dan protokol medis.
Dilakukan dengan cara memasukkan jenazah bersama petinya ke dalam liang kubur tanpa harus membuka peti, plastik, dan kafan.
Penguburan beberapa jenazah dalam satu liang kubur dibolehkan karena darurat (al-dlarurah al-syar'iyyah) sebagaimana diatur dalam ketentuan Fatwa MUI Nomor 34 Tahun 2004 tentang Pengurusan Jenazah (Tajhiz al-Jana'iz) Dalam Keadaan Darurat.

3. Dinas Pertamanan dan Pemakaman Provinsi DKI Jakarta

Selain Kemenag dan MUI, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melalui Dinas Kesehatan (Dinkes) DKI bersama Dinas Pertamanan dan Pemakaman DKI juga telah membuat tata cara mengurus jenazah korban Covid-19 termasuk menyiapkan peti mati secara gratis.

Tata caranya mengacu kepada Undang Undang Nomor 16 Tahun 2018 tentang Karantina Kesehatan dan Surat Edaran Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan Nomor 482 Tahun 2020 tentang Pedoman Kesiapsiagaan Mengadapi Covid-19.

Karena hal itu, Dinkes DKI pun mengeluarkan Surat Edaran Nomor 55/SE/Tahun 2020 tentang Pelaksanaan Pemulsaraan Jenazah Pasien Covid-19 di DKI Jakarta Tahun 2020 diatur mengenai tata cara pemulasaran.

Pelaksanaan pemulasaran jenazah pasien Covid-19 dilaksanakan dengan memperhatikan prosedur seperti dibawah ini.

A. Ruang Rawat/Kamar Isolasi.

1. Petugas

Persiapan.

Seluruh petugas pemulasaran jenazah harus menjalankan kewaspadaan standar ketika menangani pasien yang meninggal akibat penyakit menular.

b. Petugas memberikan penjelasan kepada pihak keluarga tentang penanganan khusus bagi jenazah yang meninggal dengan penyakit menular (penjelasan tersebut terkait sensitivitas agama, adat istiadat, dan budaya).

Jika ada keluarga yang ingin melihat jenazah, diizinkan dengan syarat memakai APD lengkap sebelum jenazah dimasukkan ke kantong.

Petugas yang menangani jenazah memakai APD lengkap (pakaian sekali pakai, lengan panjang dan kedap air, sarung tangan nonsteril (satu lapis) yang menutupi manset gaun, pelindung wajah atau kacamata/google (untuk antisipasi adanya percikan cairan tubuh), masker bedah, celemek karet (apron), dan sepatu tertutup yang tahan air.

Selain yang disebutkan di atas tidak diperkenankan untuk memasuki ruangan.

2. Perlakuan terhadap jenazah.

Tidak dilakukan suntik pengawet dan tidak dibalsem.

Jenazah dibungkus dengan menggunakan kain kafan kemudian dibungkus dengan bahan dari plastik (tidak tembus air), setelah itu diikat.

Masukkan jenazah ke dalam kantong jenazah yang tidak mudah tembus air.

Pastikan tidak ada kebocoran cairan tubuh yang dapat mencemari bagian luar kantong jenazah.

Pastikan kantong jenazah disegel dan tidak boleh dibuka lagi.

Lakukan disinfeksi bagian luar kantong jenazah menggunakan cairan disinfektan.

Jenazah hendaknya dibawa menggunakan tempat khusus ke ruangan pemulasaran jenazah/kamar jenazah oleh petugas dengan memperhatikan kewaspadaan standar.

Jika akan diautopsi hanya dapat dilakukan oleh petugas khusus. Autopsi dapat dilakukan jika sudah ada izin dari pihak keluarga dan direktur rumah sakit rujukan.

B. Ruang Pemulasaran/Ruang Jenazah

Petugas memastikan kantong jenazah tetap dalam keadaan tersegel kemudian jenazah dimasukkan ke dalam peti kayu yang telah disiapkan, tutup dengan rapat, kemudian tutup kembali menggunakan bahan plastik lalu didisinfeksi sebelum masuk ambulans.
Jenazah diletakkan di ruangan khusus, sebaiknya tidak lebih dari empat jam disemayamkan di pemulasaran.
Petugas memberikan penjelasan kepada keluarga untuk pelaksanaan pemakaman agar jenazah tidak keluar atau masuk dari pelabuhan, bandar udara, atau pos lintas batas darat negara.

C. Menuju Tempat Pemakaman/Kremasi

Setelah semua prosedur pemulasaran jenazah dilaksanakan dengan baik, maka pihak keluarga dapat turut dalam penguburan jenazah tersebut.
Jenazah diantar oleh mobil jenazah khusus dari Dinas Pertamanan dan Hutan Kota ke tempat pemakaman/tempat kremasi.
Pastikan penguburan/kremasi tanpa membuka peti jenazah.
Penguburan dapat dilaksanakan di tempat pemakaman umum.

FILE LENGKAP PDF SILAKAN UNDUH VIA promkes.kemkes.go.id DI SINI

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved