Refleksi Ramadan 1442
Ramadan Sang Pembakar Dosa dan Virus Corona
puasa Ramadan adalah revolusi pembakaran epistemologi humanisme dan pengembalian epistemologi yang berakar orisinalitas epistemologi God-centeredness
Oleh: Supratman Supa Athana
Dosen Sastra Asia Barat FIB Unhas
TRIBUN-TIMUR.COM,MAKASSAR - Ramadan secara etimologi berasal dari kata ra-mi-dha yang merupakan fi’il madhi berarti panas.
Pengertian kata itu berkembang menjadi ‘sangat panas’ atau membakar.
Dalam pemaknaan spiritual keagamaan, Ramadan berarti bulan di mana Allah SWT menyediakan waktu dan peluang yang besar bagi umat manusia untuk membakar virus dosa dan kesalahan yang telah dilakukan di masa lalu.
Diketahui, virus corona tidak tahan dengan panas.
Akankah ‘panas’ Ramadan mampu membakar virus corona ini?
Berdasarkan paradigma keilmiahan ala modernism, mungkin pertanyaan seperti itu terasa bombastis dan tidak realistis.
Tetapi bila dilihat dari segi psikologis, terkhusus lagi dalam kaitan sebagai makhluk Tuhan, pertanyaan itu sungguh wajar.
Epidemi penyakit virus corona sudah berlangsung selama setahun lebih.
Perhari ini dikabarkan virus corona kembali menguat di bebarapa negara seperti India, Perancis, dan Thailand.
Tidakkah ini menimbulkan kecemasan berlipat yang memantik pertanyaan dengan memanfaatkan momen di mana manusia berada sebagai perwujudan makhluk bernaluri survive (Bertahan Hidup)?
Banyak perubahan mendadak dan kerugian yang diakibatkan oleh virus corona.
Mulai dari komunikasi dan hubugan sosial yang semakin terbatas, depresi, isolasi, bahkan dikabarkan peningkatan kekerasan dalam rumah tangga terhadap perempuan dan anak, serta menciptakan berbagai gangguan sosial akibat meluasnya pengangguran di dunia.
Bila virus corona masih terus bertahan dalam beberapa waktu, kemungkinan akan terjadi chaos sosial yang pada akhirnya bisa meruntuhkan daya moralitas dan spiritualitas umat manusia.
Gejala itu sudah tampak dengan meningkatnya perilaku rasis dan anti Asia di Amerika.
Terapi yang paling mungkin bisa dilakukan dalam menghadapi ancama maut virus corona ini adalah penguatan moralitas, peningkatan spiritualitas, dan pengayaan bathin umat manusia.
Aspek ini semakin realistis dan rasional untuk dilakukan dan diperkuat karena pada kenyataannya dunia sekarang masih terasa labil dan gamang dalam menghadapi virus Corona.
Artinya bahwa kebanggaan ilmu pengetahuan modern dengan paradigma humanistik (human self centered reason), positivistik, empirik yang selama ini dibanggakan dan didaulat sebagai ‘Maha Guru Kebenaran’ merlukan sebuah gerakan revolusi ilmu pengetahuan dan keasadaran.
Gerakan revolusi kesadaran dan ilmu pengetahuan yang dimaksud adalah ‘pembakaran’ atas ilmu pengetahuan yang berbasis pada epistemologi modernisme humanistik dan menggantinya dengan epistemologi God-centeredness (Tuhan sebagai pusat).
Salah satu penjabaran dari epistemologi ini adalah penguatan spiritualitas yang memahami bahwa ilmu pengetahuan yang sejati hanya datang dari Tuhan.
Bulan Ramadan merupakan kesempatan emas memperkuat spiritualitas sehingga masyarakat dunia yang terbelenggu oleh krisis virus corona bisa bernafas lega dengan suasana bathin yang baru akibat dari pembakaran spirit Ramadan lewat puasa, doa, zakat, sedekah, interaksi antara individu dan masyarakat yang tulus dalam pancaran sinar ilahiah yang menempatkan Tuhan sebaga pusat (God Centeredness).
Ya, puasa di bulan suci Ramadan adalah perwujudan dari revousi pembakaran epistemologi yang berbasis pada keterpusatan pada manusia (Humanisme) dan pengembalian epistemologi yang berakar orisinalitas pemusatan kepada Tuhan (God-centeredness).
Memaknai panas Ramadan yang membakar seperti itu akan mengembalikan kualitas hidup masyarakat dan pemulihan kesehatan jasmani- rohani serta dapat menyuntikkan vaksin harapan untuk menaklukkan virus corona yang jahat.(*)