Kolom Kilas Tokyo
Bukan Hanya Jam Kerja
Sebelum pandemik, kerja mulai jam 8.30. Kantor berada di Marunouchi area, jadi selalu mengejar kereta Chuo Line jam 7.15 dari rumah.
Yang penting kerja efisien, tepat, tuntas. ‘Sayonara to Long Work Culture’ mungkin kalimat tepat. Tapi, itu juga bukan hal mudah bagi masyarakat Jepang yang terlanjur punya working culture unik.
Pekerja masih merasa berkewajiban tetap memegang teguh loyalitas tim secara keseluruhan.
Ujung ujungnya, banyak yang tidak mengambil cuti tahunannya.
“Juga ada gap jelas antar generasi” menurut A. Murai, Head PR Expedia Jepang ditulis WorkLife BBC. Kesenjangan terlihat dari banyak karyawan lebih muda ingin mengambil lebih banyak cuti, tetapi kurang ditelorir atasan senior mereka yang masih berpikir dan bekerja dengan pola sama seperti dulu.
Panjang jam kerja bukan satu satunya kata kunci. Seharusnya pekerja kita juga sudah bisa menyamai hasil pekerja Jepang.
Nilai ekonomi GDP, aktivitas inovasi, jumlah paten teknologi atau prestasi dunia atlet kita seharusnya juga bisa menyamai kinerja mereka.
Apalagi kita punya 183 juta golongan usia produktif yang notabene dua setengah kali lipat dibanding jumlah usia produktif Jepang.
Sayangnya, perbedaan kunci bukan panjang jam kerja saja. Ada faktor lain di etos kerja.
Etos kerja lebih terkait kepada ketekunan, loyalitas, sikap, dedikasi juga kedisiplinan. Pekerja Jepang sangat fokus, disiplin, bekerja sesuai tanggung jawab dan prosedural.
Sistem keteraturan kerja tertata di semua lini, dari tugas hulu hingga hilir.
Ketika masuk jam kerja, saya melihat mereka sangat konsentrasi. Ibarat tombol `switch on` ditekan, tidak ada lagi topik lain selain masalah pekerjaan hingga tombol ‘switch off’ ditekan lagi.
Ketika saya mendiskusikan tema ini di grup WA teman di Jakarta, keteraturan kerja dan kedisiplinan kita masih beda jauh; mayoritas teman berpendapat demikian. Malah ada komentar lebih kritis bahwa etos kerja pun tidak cukup.
Moralitas etika kerja juga penting: ditengah berbagai tindakan korupsi, kolusi, nepotisme, penipuan dan tindakan ketidak jujuran belakangan ini.
Menurut sang teman, justru ini point paling penting harus diimplementasikan setiap pekerja kita dalam tugas sehari-hari.
Saya tidak berkomentar lagi, arah diskusi pasti akan semakin lebar. Tapi mungkin ada benarnya juga.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/muh-zulkifli-mochtar-doktor-alumni-jepang-asal-makassar-bermukim-di-tokyo-6320201.jpg)