Benarkah Tempe Kedelai Kuning Lebih Baik dari Tempe Kedelai Putih? Ini Penjelasan Ahli
Benarkah Tempe Kedelai Kuning Lebih Baik dari Tempe Kedelai Putih? Ini Penjelasan Ahli
Sementara itu, kedelai impor terdiri dari dua jenis, yaitu non-modifikasi rekayasa genetik (murni) dan kedelai transgenik atau mengalami modifikasi rekayasa genetik.
"Dari sisi harga, dua jenis kedelai ini beda. Kedelai transgenik lebih murah dibandingkan kedelai non-transgenik," katanya.
Dengan alasan harganya yang lebih murah, maka kedelai transgenik diimpor ke Indonesia.
Sementara, kedelai non-transgenik diimpor perusahaan-perusahaan tertentu yang memang konsen menggunakan bahan organik.
Baca juga: LENGKAP! Ini Niat Puasa Senin Kamis, Doa Buka Puasa, dan Doa Sahur, Serta Manfaat untuk Kesehatan
Baca juga: Jauhi Radikal Bebas Untuk Terhindar dari Katarak
Membedakan tempe dari kedelai lokal dan impor
Atris memaparkan, dari sisi tampilan, tempe dari kedelai lokal dan impor sulit dibedakan.
Meski demikian, tempe dari kedelai lokal dan impor dapat dibedakan dari segi rasa.
"Sisi rasa bisa untuk parameter membedakanya. Tempe kedelai lokal terasa lebih kuat rasa kedelainya, lebih gurih rasa kedelainya dan juga lebih fresh," papar Atris.
"Jika dari penampakan, agak sulit untuk membedakan tempe kedelai lokal atau tempe kedelai impor. Kecuali yang terlatih jika ingin kepastian lebih detail, dengan uji laboratorium," lanjut dia.
Meski petani memproduksi kedelai lokal, kedelai impor mendominasi pasar di Indonesia.
Atris memaparkan, meski belum ditemukan kasus bahwa kedelai transgenik menyebabkan penyakit tertentu, produk transgenik atau yang mengalami rekayasa unsur pangan dalam jangka waktu panjang dapat memicu munculnya penyakit karsinogenik seperti tumor, miyom, dan kanker.
"Mungkin bukan transgenik semata, tapi bisa sebagai memicu," kata dia.
Baca juga: Ini 6 Jenis Sayuran Tak Cocok untuk Penderita Diabetes, mulai dari Jagung, Buncis, Tomat hingga Ubi
Baca juga: Diabetes Bisa Menyerang Siapapun Termasuk Usia Muda, Berikut 5 Cara Sederhana Kendalikan Gula Darah
Penyakit karsinogenik di Indonesia memang semakin meningkat volumenya.
Oleh karena itu, selain untuk mendukung petani, menggunakan tempe berbahan kedelai lokal juga diklaim lebih baik.
Pelabelan pangan
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/penyet-tempe-sambal-terasi.jpg)