Opini
Akhlak dan Ikhtiar Pembentukan Karakter Menuju Keunggulan Korporasi BUMN
Penetapan Akhlak sebagai core value BUMN tersebut bersamaan dengan acara perubahan logo dan slogan Kementerian BUMN.
Menurut Philip Kotler dalam bukunya berjudul “Marketing 3.0, Mulai Dari Produk Ke Pelanggan Ke Human Spirit” : Pewartaan misi kepada konsumen harus benar-benar keluar dari Pelayanan Tulus Karyawan. Misi Merek (brand mission) tidak bakal bisa sampai kepada konsumen secara efektif jika tidak dihayati secara penuh oleh karyawan.
Oleh karenanya, penanaman nilai-nilai perusahaan di diri karyawan menjadi penting. Baru kemudian, nilai-nilai yang sudah terbatinkan itu bisa dipancarkan dalam setiap layanan dan perjumpaan dengan konsumen.
Dalam hal ini, Kotler menggunakan istilah brand values terkait dengan nilai-nilai yang memandu karyawan untuk berbuat sesuatu, sesuai dengan brand mission. Ia menyebutnya shared values.
Shared Values, merupakan setengah dari kultur perusahaan. Setengahnya lagi adalah perilaku umum (common behaviour) Karyawan perusahaan tersebut yang merujuk pada tindakan-tindakan keseharian karyawan di perusahaan.
Kombinasi nilai-nilai dan perilaku itu harus tidak melenceng dari brand mission perusahaan. Dengan demikian budaya perusahaan terbentuk berdasarkan penyelarasan shared value dan common behaviour.
Dalam konteks kerja, perusahaan harus bisa membangun budaya kerja yang kolaboratif, kultural dan kreatif. Ketiga langkah inilah kunci integrasi antara nilai-nilai perusahaan dan perilaku karyawan. Membangun cultural values berarti menginspirasi karyawan untuk membuat perubahan kultural terhadap kehidupan mereka dan orang lain.
Membangun creative value adalah memberi kesempatan kepada karyawan untuk mengembangkan dan berbagi ide-ide inovatif sedangkan collaborative value adalah mendorong karyawan untuk melakukan kerjasama dan kolaborasi dengan banyak pihak.
Ketiga nilai yang disebutkan diatas tercermin dalam nilai utama “Akhlak”BUMN. Menghadapi Pandemi Covid 19 saat ini, tantangan tak hanya datang dari luar, namun juga dari dalam tubuh BUMN sendiri. Mentalitas birokrat yang dibelit dengan aneka aturan dan prosedur yang rumit serta kaku membuat proses bisnis di BUMN pada umumnya berjalan lamban.
Padahal persaingan sengit tengah terjadi di luar sana yang membutuhkan strategi cerdas dan gerakan cepat nan lincah. BUMN saat ini kian dituntut semakin professional untuk mengejar profit dan proaktif menggarap pasar yang ada serta tidak hanya mengandalkan subsidi pemerintah.
Syukurlah, dalam beberapa waktu terakhir ini, pembenahan besar-besaran telah dilakukan dalam tubuh BUMN mulai dari perampingan organisasi, penyederhanaan aturan & prosedur, penggunaan teknologi informasi terkini untuk mendukung layanan birokrasi yang cepat dan akuntabel juga kolaborasi konstruktif antar BUMN menjadi sejumlah “jurus” BUMN untuk beradaptasi dengan perubahan menuju korporasi berkeunggulan.
“Akhlak” menjadi semacam “kompas” pemandu mengurai segala persoalan dalam mengintegrasikan dan mengimplementasikan shared value bersama common behaviour karyawan.
Penerapan nilai-nilai “Akhlak” akan membangkitkan etos kerja karyawan, memperkokoh komitmen, meningkatkan kemampuan adaptasi, membangun nilai-nilai spiritual, meningkatkan team work, menerapkan sikap responsif dan pelayanan yang cepat serta membangun proses kerja yang ideal –dari perencanaan hingga evaluasi kerja.
Semoga pencanangan nilai utama “Akhlak” semakin mengokohkan spirit dan tekad menjadikan seluruh BUMN dan perusahaan afiliasi terkonsolidasi lainnya menjadi lebih unggul dan mampu bersaing serta beradaptasi pada tantangan zaman yang terus berubah dan kian tak mudah ini. (*)
* Amril Taufik Gobel, Karyawan BUMN PT. Nindya Karya (Persero), Alumni Teknik Mesin Universitas Hasanuddin
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/korporasi-bumn.jpg)