Komet Lintang Kumukus
Komet Lintang Kumukus: Mitos Pagebluk atau Wabah Penyakit hingga Penjelasan Ilmiahnya
Komet Lintang Kumukus: Mitos Pagebluk atau Wabah Penyakit hingga Penjelasan Ilmiahnya
Apapun barang yang dijual-belikan murah harganya, karena memperoleh berkah Tuhan.
Lalu kalau bintang kemukus muncul di barat laut, itu pertanda ada raja yang berebut kekuasaan. Para adipati juga berselisih, berebut kekuasaan.
Sementara warga desa bersedih hati. Kerbau dan sapinya banyak yang mati.
Hujan dan petir terjadi di musim yang salah. Kekurangan makin meluas dan berlangsung lama.
Beras dan padi mahal, namun emas murah.
Apabila ada komet muncul di utara, maknanya ada raja yang kalut pikiran lantaran kekeruhan di dalam pemerintahannya.
Timbul perselisihan yang semakin berkembang menjadi peperangan.
Beras dan padi mahal. Namun harga emas murah.
Selain tanda adanya wabah penyakit pada manusia, lintang kemukus juga memberi pertanda ada wabah penyakit yang akan menyerang hewan.
Ada pertanda kalau kerbau dan sapi banyak yang mati.
Itu disebutnya aratan.
Bila lintang muncul di arah barat daya dan di barat laut.
Penjelasan ilmiah
Namun, benarkah kepercayaan ini dan bagaimana penjelasannya secara ilmiah? Bagi astronomi, semua itu hanya takhayul.
Dalam kolom yang pernah ditulis astronom amatir Marufin Sudibyo di Kompas.com edisi 24 April 2020, dia mengatakan sepanjang sejarang manusia komet memang dipandang sebagai benda langit bernuansa buruk, mulai pertanda kematian hingga kehancuran.
"Salah satu biang keladinya adalah Aristoteles.
Filsuf besar era Yunani Kuno itu berpandangan komet atau bintang berekor adalah agen pembawa kabar bencana.
Kata–katanya berpengaruh hingga berabad–abad kemudian, bahkan hingga di abad ke–20," kata Marufin dalam kolomnya.
Sebagai contoh, penampakan komet Halley dihubung–hubungkan dengan peristiwa tragis terbunuhnya Julius Caesar di era Romawi, juga hancurnya penduduk asli Inggris dalam pertempuran Hasting tahun 1066 dan meletusnya Perang Dunia 1 di abad ke–20.
Di Indonesia, ketampakan komet Halley yang mengesankan pada tahun 1910 menggidikkan banyak orang seiring berkecamuknya wabah pes yang merenggut puluhan ribu jiwa penduduk Jawa.
Ketampakan lintang kemukus sangat terang lainnya, yakni komet Ikeya–Seki, pada dini hari di awal tahun 1966 dikait–kaitkan dengan pertanda buruk lainnya, termasuk transisi Orde Lama ke Orde Baru yang penuh berkuah darah.
"Bagi astronomi, semua itu hanya takhayul. Komet telah lama terbukti sebagai benda langit biasa yang terikat pada Hukum Kepler 3," tegas Marufin.
Astronomi modern bahkan telah bekembang sedemikian rupa sehingga tak hanya sekedar mengamati komet dari jauh.
Pengamatan dari jarak dekat dengan menggunakan wahana antariksa tak berawak telah dilakukan sejak 1986 kala komet Halley kembali nampak dalam perjalanannya menuju perihelionnya.
Bahkan terdapat wahana antariksa yang mengeksplorasi komet dengan mendarat di parasnya, seperti Rosetta (dan pendarat Philae) di komet Churyumov–Gerasimenko.
Astronomi modern juga telah berkemampuan menemukan ratusan komet baru per tahun melalui aktivitas sistem–sistem penyigi langit.
Potensi bahaya komet sebenarnya
Satu–satunya potensi bahaya yang timbul dari sebuah komet adalah bilamana lintasannya tepat berpotongan dengan orbit Bumi dan pada saat yang sama baik komet maupun Bumi sedang berada di titik potong tersebut.
Tumbukan benda langit tak terelakkan, dengan dampak yang tak terperi.
Sebuah benda langit berdiameter 10 km yang melaju cepat ke Bumi akan dengan mudah melepaskan energi luar biasa besar dan membedaki segenap penjuru dengan material produk tumbukan.
Termasuk menciptakan tabir surya alamiah berbahan aerosol sulfat yang memblokir cahaya Matahari demikian rupa sehingga paras Bumi pun menjadi remang–remang.
Dengan hanya 1 persen saja cahaya Matahari yang tiba di Bumi akibat pemblokiran tersebut, maka fotosintesis pun akan berhenti.
Matinya tumbuh–tumbuhan akan menjalar ke matinya hewan–hewan secara perlahan dan pada gilirannya pun manusia.
Skenario mengerikan inilah yang terjadi pada 65 juta tahun silam, yang membuat kawanan dinosaurus beserta 75 persen makhluk hidup sezaman punah.
Tersapu bersih dari panggung kehidupan.
Kabar baik lainnya, astronomi modern sedang mulai menguji coba metode untuk memusnahkan atau mendefleksikan benda langit yang berpotensi mengancam Bumi seperti halnya komet.
Dengan harapan agar manusia masa depan tak lagi mengalami nasib serupa dinosaurus.
Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Lintang Kemukus dan Mitos yang Mengikutinya, Begini Penjelasan Sains"