Komet Lintang Kumukus
Komet Lintang Kumukus: Mitos Pagebluk atau Wabah Penyakit hingga Penjelasan Ilmiahnya
Komet Lintang Kumukus: Mitos Pagebluk atau Wabah Penyakit hingga Penjelasan Ilmiahnya
Hingga ada istilah isuk loro, sore mati atau di pagi hari sakit, sorenya meninggal.
Dilansir Historia dalam artikel berjudul Mitos dan Tetenger Wabah Penyakit yang terbit 28 Maret 2020, saking menakutkannya pagebluk, orang Jawa mungkin mulai mencari pertanda atau tetengger sebelum wabah datang.
Pada zaman Mataram Islam misalnya, pagebluk dihubungkan dengan kemunculan bintang berekor atau komet.
Orang Jawa menyebutnya lintang kemukus.
Menurut tradisi mereka, kemunculan komet pada arah tertentu memiliki arti, di antaranya sebagai pertanda kemunculan pagebluk.
"Memang umumnya penampakkan komet dimaknai sebagai membawa ‘hal yang kurang baik’, kecuali apabila muncul di arah barat," jelas Dwi Cahyono, arkeolog yang mengajar sejarah di Universitas Negeri Malang kepada Historia.
Berdasarkan buku Sejarah Kutha Sala: Kraton Sala, Bengawan Sala, Gunung Lawu yang ditulis R.M.
Ng. Tiknopranoto dan R. Mardisuwignya, Dwi menjelaskan ada beberapa pertanda berdasarkan dari mana arah lintang kemukus datang Bila komet muncul di arah timur tandanya ada raja yang sedang berbela sungkawa. Lalu rakyatnya bingung.
Desa pun banyak yang mengalami kerusakan dan kesusahan.
Harga beras dan padi murah, tetapi emas mahal harganya.
Bila bintang berekor muncul di tenggara menandakan ada raja yang mangkat.
Orang desa banyak yang pindah. Hujan jarang.
Buah banyak yang rusak.
Ada wabah penyakit yang membuat banyak orang sakit dan meninggal.
Beras dan padi mahal.
Kerbau dan sapi banyak yang dijual.