TRIBUN WIKI

Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung, Rumah 250 Jenis Kupu-kupu

Bantimurung berasal dari Bahasa Bugis dari kata benti, artinya "tetesan (air)" dan merrung, artinya "bunyi gemuruh".

Tribun Timur
Air Terjun Bantimurung dalam kawasan Taman Wisata Alam Bantimurung di Maros 

TRIBUNTIMURWIKI.COM- Salah satu destinasi wisata alam di Kabupaten Maros adalah Taman Nasional Bantimurung-Bulusaraung.

Taman nasional ini ditunjuk menjadi kawasan konservasi atau taman nasional berdasarkan Keputusan Menteri Kehutanan Nomor: SK.398/Menhut-II/2004 tanggal 18 Oktober 2004.

Saat ini dikelola oleh Balai Taman Nasional Bantimurung-Bulusaraung yang berkedudukan di kecamatan Bantimurung, Maros, Sulawesi Selatan.

#WisataVirtualTribuners: Menjelajahi Alam Bantimurung di Tengah Pandemi Covid-19   

Panduan Transportasi Menuju Wisata Air Terjun Bantimurung di Maros dari Pelabuhan dan Bandara

9 Fasilitas untuk Pengunjung yang Ada dalam Taman Wisata Alam Bantimurung

Sejarah

Tim Wisata Virtual Tribun Timur melalukan perjalanan ke wisata alam Bantimurung, Kabupaten Maros, Jumat (12/6/2020).
Tim Wisata Virtual Tribun Timur melalukan perjalanan ke wisata alam Bantimurung, Kabupaten Maros, Jumat (12/6/2020). (Desi Triana)

Bantimurung berasal dari Bahasa Bugis dari kata benti, artinya "tetesan (air)" dan merrung, artinya "bunyi gemuruh".

Jadi Bantimurung berarti air yang bergemuruh. Nama tersebut diusulkan oleh Karaeng Simbang, Patahoeddin Daeng Paroempa.

Simbang adalah salah satu kerajaan dalam distrik adat Gemenschaap dan berada dalam wilayah kerajaan Marusu'.

Berawal dari kata benti merrung itulah kemudian berubah bunyi menjadi Bantimurung seperti sekarang.

Sejarah dan asal-usul kata "Bantimurung" dimulai sejak masa Perjanjian Bungaya I dan II (1667-1669) saat Maros ditetapkan sebagai daerah yang dikuasai langsung oleh Hindia Belanda.

Ketika itu, wilayah Kerajaan Marusu' diformulasikan dalam bentuk Regentschaap yang dipimpin oleh penguasa bangsawan lokal bergelar Regent (setingkat bupati). Setelah itu, Maros berubah menjadi Distrik Adat Gemeschaap yang dipimpin oleh seorang kepala distrik yang dipilih oleh bangsawan lokal dengan gelar Karaeng, Arung atau Gallarang.

Halaman
1234
Penulis: Desi Triana Aswan
Editor: Anita Kusuma Wardana
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved