Tau Manusia Bugis
Buku 'Tau, Manusia Bugis': 5 Kategori Sanro atau Dukun yang Dikenal Orang Bugis
Jenis-jenis penyakit tosunra antara lain adalah: attikkengeng, sai, dan larisumangek. Attikkengeng adalah salah satu jenis penyakit tosunra.
TRIBUN-TIMUR.COM - Jenis-jenis penyakit tosunra antara lain adalah: attikkengeng, sai, dan larisumangek.
Attikkengeng adalah salah satu jenis penyakit tosunra.
Attikkegeng, berarti tertangkap.
Baca tulisan sebelumnya: Buku 'Tau, Manusia Bugis': Lasa Paddissengeng, Penyakit yang Banyak Diderita Gadis dan Janda Muda
Maksudnya, si penderita sedang terangkap atau terperangkap oleh para pemburu yang berasal dari golongan roh orang mati.
Kejelasan mengenai ciri-ciri penyakit ini adalah sebagai berikut:
(a) Penderita biasanya berada dalam keadaan tidak sadar, mungkin pula setengah sadar;
(b) Penderita senantiasa meronta-ronta, sebagaimana halnya binatang buruan yang terperangkap oleh seorang pemburu; dan
(c) Kadangkala terlihat adanya balur-balur bekas lecutan cemeti, atau belur berwarna hitam kebiru-biruan mirip dengan bekas lilitan jerat tali pada bagian tubuh penderita.
Penyebab timbulnya penyakit ialah karena penderita sempat tertangkap dan didera oleh roh halus yang disebut paddengngeng (pemburu).
Ini berarti bahwa si penderita secara tidak sengaja sudah mendekati atau masuk ke dalam wilayah yang sedang dijadikan sasaran perburuan bagi paddengngeng.
Anggapan ini sesuai dengan kepercayaan masyarakat, bahwa paddengngeng itu hidup pula sebagaimana layaknya makhluk manusia, sehingga sesekali mereka pun melakukan kegiatan perburuan, namun yang menjadi binatang buruannya ialah manusia yang masih hidup.
Saat melakukan kegiatan perburuannya, makhluk halus paddengngeng menggunakan kuda-kuda pemburu yang umumnya berwarna putih.
Mereka dibantu oleh anjing-anjing pemburu yang disebut asu panting (anjing menangis), sedangkan senjatanya terbuat dari trisula dan tali penjerat.
Mungkin sama dengan peralatan berburu yang digunakan oleh makhluk manusia.
Namun uniknya, karena paddengngeng, bersama kuda tunggangan, anjing pemburu dan senjata-senjatanya tidak pernah terlihat oleh manusia biasa.
Hanya dikabarkan, bahwa kadangkala ada orang yang dapat melihat wujud paddengngeng, tetapi pada saat mereka dalam keadaan tidak sadar (trance).
Untuk menyembuhkan penderita yang terkena penyakit attikkengeng, orang Bugis memintakan pertolongan jasa pada dukun-dukun yang dianggap dapat berkomunikasi, sekurang-kurangnya dapat mengetahui keadaan dan aktivitas para paddengngeng yang sedang menjarah si penderita.
Oleh karena itu, tidak sembarang dukun mau serta mampu mengusir paddengngeng sekaligus membebaskan si penderita dari cengkeramannya.
Para dukun yang biasanya menangani proses pengobatan atau berupaya menyembuhkan seorang penderita atikkengeng senantiasa menggunakan dua cara.
Pertama memberikan pengohatan dalam bentuk ramuan tradisio-nal; dan kedua mengupayakan pengobatan dalarn bentuk mantera.
Ramuan obat-obatan yang seringkali digunakan membebaskan seorang penderita dari penyakit attikkengeng, antara lain akar pohon kelor dan daun sirih yang bertemu urat.
Keduanya dilumat sampai halus, kemudian disemperotkan ke bagian tuhuh penderita yang sakit.
Sesudah itu, si penderita diasapi dengan dupa disertai dengan mantera-mantera khusus.
Agar terhindar dari penyakit attikkengeng, maka orang Bugis senantiasa menghindarkan diri dari tempat-tempat yang dianggap angker (makerrek), seperti sumur bertuah, pohon-pohonan yang besar serta berusia tua terutama beringin, dan lain sehagainya.
Hal ini sesuai dengan kepercayaan tradisional bahwa di tempat atau sekitar tempat tersebut ada makhluk halus yang menunggunya.
Selain menjauhkan diri dari tempat-tempat angker, anggota masyarakat menyarankan terutama kepada anak- anak supaya tidak berkeliaran di luar rumah pada saat-saat tertentu, misalnya tengah hari bolong, dinihari, selepas waktu magrib ataupun mendekati tempat berdirinya pelangi.
Larangan tersebut dilandaskan pada pemahaman mereka bahwa pada waktu - waktu tertentu paddengngeng biasanya berkeliaran pula di sekeliling manusia, sedangkan pelangi dianggap sebagai tangga, khusus menjadi tempat lalu lalang sangiang bersama paddengngeng dari petala langit ke bumi.
Sai pada dasarnya adalah sejenis wabah penyakit yang bagi orang Bugis cenderung dipahami sebagai jenis penyakit yang timbul dalarn masyarakat, akibat kemurkaan dari dewata.
Konsep ini sesuai dengan pengertian istilah sai yang berarti marah atau kemarahan (sang dewata).
Wabah penyakit (sai) sewaktu-waktu dapat menyerang penduduk desa, akan tetapi sampai sekarang belum ada informasi ataupun kejelasan mengenai sebab musabah terjadinya penyakit tersebut.
Sehubungan dengan itu, anggota masyarakat terutama mereka yang berusia lanjut mempunyai anggapan, bahwa penyakit sai hanya timbul dalam suatu lingkungan tertentu yang kebanyakan warganya tidak mengindahkan lagi norma-norma sosial, tatakrama dan aturan-aturan adat.
Sejauh mana kebenaran anggapan ini masih perlu diteliti secara cermat.
Ciri utama dari penyakit ini, ialah apabila dalam desa timbul jenis penyakit yang meminta banyak korban, atau banyak warga desa yang meninggal dunia akibat penyakit yang sedang berjangkit dalam suatu kurun waktu.
Begitu berat dan fatalnya akibat yang dapat timbul akibat sai itu, sehingga penduduk setempat seringkali mengucapkan sebuah sumpah (mattanro) dengan menyehut nama sai.
Misalnya, nanreka sai narekko mabbelleak (biarlah aku dilalap penyakit menular, sekiranya aku berdusta).
Dukun melakukan pertolongan kepada para penderita dengan cara dan obat-obatan tertentu.
Cara penyembuhan yang biasanya dilakukan oleh para dukun terhadap penyakit sai, ialah dengan menggunakan ramuan tradisional dengan bahan baku terdiri atas alinge (salah satu jenis tumbuhan yang mirip dengan kunyit, hanya bentuk lebih besar).
Bahan ini tidak boleh diambil di sembarang tempat, tetapi harus berupa alinge yang tumbuh di suatu persimpangan jalan.
Setelah bahan disiapkan, maka pada waktu tepat tengah malam bahan tersebut dimasak, kemudian diminumkan kepada warga penduduk yang sedang menderita penyakit sai.
Cara pengobatan ini dilakukan sampai si penderita sembuh kembali.
Sesuai dengan anggapan masyarakat tentang sebab-musabah timbulnya penyakit sai yang bersumber dari dewata, maka usaha menghindarinyapun dilakukan dengan cara berserah diri, sekaligus memohon ampunan dari para dewa atas kesalahan yang telah dilakukan.
Dalam hubungan itu, warga desa biasanya mengadakan berbagai upacara tolak bala, antara lain mempersemhahkan sesajian berupa makanan tradisional.
Larisumangek.
Penamaan penyakit ini sesuai dengan keadaan para penderita yang seolah-olah kehilangan sukma (daya hidup).
Ciri-ciri penyakit:
(a) Penderita penyakit larisumangek senantiasa lesu, mati semangat;
(b) Pandangan mata para penderita tampak layu, seolah-olah menera-wang jauh; dan
(c) Keadaan penderita senantiasa tampak ketakutan, kadangkala denyutan nadinya berubah menjadi sangat kencang atau dadanya bergemuruh.
Timbulnya penyakit larisumangek ditanggapi oleh orang Bugis sebagai akibat rasa kaget, ngeri dan takut, hal mana didorong oleh heberapa faktor penyebab, yaitu:
(a) Si penderita mengalami peristiwa adongkoreng (kemasukan; kerasukan; kesurupan);
(b) Ampa-ampareng, terkena teguran oleh penunggu temput-tempat; ataupun benda-benda sakral;
(c) Gessa-gessang (tersentuh) oleh roh halus; dan
(d) Cuwek-cuwereng (dibayang-bayangi) oleh roh gentayangan.
Penyakit ini termasuk penyakit yang cukup merisaukan anggota masyarakat utamanya anggota kerabat dari seorang penderita, sebab kalau tidak diperoleh ohat yang manjur maka si penderita, itu bukan hanya dapat mengalami sakit ingatan, melainkan seringkali nyawanya tidak tertolong.
Sehuhungan dengan itu, masyarakat biasanya memintakan pertolongan pada dukun yang dianggap manjur dan berkemampuan cukup tinggi.
Bahkan kalau dianggap perlu, dukun itu akan dicari sampai ke daerah lain.
Ramuan tradisional digunakan oleh dukun untuk mengohati dan menyembuhkan penyakit larisumangek di daerah Bugis.
Salah satu resep yang tetap dipelihara dan diterapkan oleh anggota masyarakat tersebut, terdiri atas ramuan berupa: urat pohon kemiri dicampur dengan kencur, kemudian dilumat dan seterusnya diporaskan ke bagian tubuh si penderita.
Usaha menghindari penyakit larisumangek:
(a) memperhatikan petunjuk tradisional perihal waktu yang dianggap baik dan buruk untuk melakukan suatu pekerjaan/perjalanan, agar tidak mendapat gangguan roh halus;
(b) memperhatikan syarat ideal dari rumah yang ditempati;
(c) memperhatikan petunjuk tentang hari-hari naas;
(d) memperhatikan pantangan tentang tanah perumahan; dan
(e) memperhatikan tata cara mempersiapkan bahan ramuan- ramuan.
Umumnya pengobat tradisional bukanlah tenaga medis yang berpendidikan formal di bidang pengobatan, melainkan adalah anggota masyarakat biasa yang mampu mengembangkan bakat dan keterampilannya dalam bidang pengobatan melalui cara-cara tradisional.
Orang Bugis menyebut pengobat tradisional sebagai sanro (dukun).
Istilah sanro (dukun) pada hakekatnya adalah suatu simbol yang berlaku secara umum hagi setiap individu yang berfungsi memberikan pertolongan kepada sesama manusia berkenan dengan upaya penyembuhan sesuatu jenis penyakit.
Sehubungan dengan itu setiap sanro mempunyai pengetahuan dan kemampuan mengobati, bahkan mengupayakan penyembuhan terhadap sebagian besar jenis-jenis penyakit yang timbul dalam kehidupan ummat manusia, namun demikian setiap sanro tetap mempunyai keahlian tersendiri sesuai dengan jenis penyakit tertentu yang ditekuninya.
Demikianlah masyarakat Bugis di pedesaan, mengenal beberapa kategori sanro sebagai berikut:
(a) Sanro paddette lolo (dukun pemotong ari-ari);
(b) Sanro pabbura-bura (dukun pengobat);
(c) Sanro pajappi (dukun mantera);
(d) Sanro topolo (dukun patah); dan
(e) Sanro pattirotiro (dukun ramal).
Bercokolnya suatu penyakit pada badan kasar seseorang, bukan saja diakibatkan oleh gangguan dari kekuatan sakti, melainkan juga sering kali disebabkan oleh perbuatan banapati yang menghuni tubuh kasarnya.
Banapati itu dapat marah dan mendatangkan penyakit yang disebut lasa toriolota.
Oleh sebab itu orang Bugis amat takut nacalla banapati yaitu gangguan atau termakan kutukan torioloe.
Mereka yang terlanjur kena penyakit toriolota, biasanya melakukan nazar yang dalam bahasa Bugis disebut “tinjak“.
Pelepasan tinjak (malleppek tinjak) ini biasanya dilakukan pada suatu tempat keramat dengan mempersembahkan kurban berupa ayam, kambing atau kerbau dan segala kelengkapannya.
Kematian terbesar orang Bugis di masa lampau disebabkan oleh karena penyakit-penyakit: nanre sai (serangan penyakit menular), peddi babua (sakit perut), cika (muntah berak), dan sagala (cacar) yang dipercaya penyebabnya berkaitan dengan kemarahan dewata.
Secara tradisional masyarakat Bugis telah mempunyai pengetahuan tentang peyebab dan cara penyembuhan penyakit-penyakit tersebut di atas.
Cara-cara pengobatan berbagai penyakit secara tradisional ada pula ditulis dalam lontarak yang disebut lontarak pabbura atau lontarak pabbaru.
Cara-cara pengobatan dan menanggulangi penyakit tersebut biasanya dilakukan oleh seorang dukun kampung yang disebut sanro.
Berbagai julukan diberikan kepada dukun tersebut, antara lain sanro sagala untuk spesialisasi penyakit cacar, sanro wanua untuk dukun yang bertugas dalam upacara mengusir penyakit sekampung.
Sanro-sanro ini bertindak mengatur segala sesuatu yang berhubungan dengan upacara-upacara tolak bala.
Umumnya bila ada kematian, diadakan baca doa bersama di rumah orang yang kematian tersebut.
Doa tersebut dilakukan sesuai kehendak keluarga si anumerta.
Ada kalanya dilakukan sebelum mayat dikuburkan, dan ada juga setelah dilaksanakan penguburannya.
Malahan ada juga yang baru dilakukan setelah berselang beberapa hari atau beberapa bulan, disesuaikan kesempatan dan kemampuan keluarga yang ditinggalkan. Tentang cara para arwah hidup di akhirat biasanya dikatakan orang "tidak tahu‟.
Keadaan di sana disangka lebih baik, tetapi pada umumnya sama.
Tetapi bagaimana pun juga, orang Bugis percaya akan kekekalan jiwa pribadi.(*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/buku-tau-manusia-bugis-1-2252020.jpg)