Covid-19: Beberapa Pengalaman Jepang
Respon Jepang tidaklah sempurna. Namun kita dapat mengambil hikmah dari pengalaman-pengalaman Jepang dan mengadaptasinya sesuai konteks di Indonesia
Budaya kebersihan
Budaya kebersihan yang tertancap dalam pada diri masyarakat Jepang sering pula disebut sebagai faktor penting lain yang berperan menahan laju penularan SARS-CoV-2. Kebiasaaan mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir misalnya memang adalah prioritas utama orang-orang tua dan guru-guru untuk ditanamkan dalam diri sejak anak-anak usia taman kanak-kanak dan sekolah dasar di negeri ini.
Semua sekolah juga dilengkapi dengan fasilitas mencuci tangan yang baik. Mencuci tangan sebelum makan merupakan hal sangat penting. Banyak penelitian di bidang kesehatan menunjukkan bahwa kebiasaan mencuci tangan dapat mencegah 40 persen penyakit-penyakit infeksi.
Kebiasaan baik mencuci tangan juga memiliki akar spiritual dalam agama-filosofi Shinto di Jepang. Shintoisme sangat menekankan kebersihan fisik yang dianggap berhubungan erat dengan kebersihan spiritual. Lawan dari kebersihan dalam konsep Shinto adalah ‘kegare’ yang merujuk pada kotoran, penyakit maupun kematian.
Konsep ‘kegare’ juga merujuk pada kondisi tercemar, kekotoran fisik, moral dan spiritual, yang menjadi hal sangat penting untuk dihindarkan. Orang-orang Jepang umumnya sangat malu kalau dinilai tidak menerapkan perilaku hidup bersih.
Aspek budaya-spiritual seperti itu turut pula melatari kuatnya kebiasaan memakain masker di Jepang. Memakai masker dianggap sebagai salah satu tindakan utama untuk mencegah penyakit ("kegare"). Belakangan memakai masker menjadi semacam fashion.
Orang-orang merasa atau dianggap keren ketika memakai masker. Salah satu bentuk masker yang sedang populer di Jepang adalah Bi Fitto Masukuru atau Be Fit Mask, masker yang mengikuti garis rahang yang membuat lebih sedikit partikel dari mulut dan saluran napas yang bisa keluar. Kebiasaan cuci tangan dan memakai masker berperan penting dalam pencegahan penularan Covid-19, meskipun dampaknya tidak mudah diukur.
Respon Jepang tidaklah sempurna. Namun kita dapat mengambil hikmah dari pengalaman-pengalaman Jepang dan mengadaptasinya sesuai konteks di Indonesia.*
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/rifqy-tenribali-eshanasir_.jpg)