Breaking News:

Covid-19: Beberapa Pengalaman Jepang

Respon Jepang tidaklah sempurna. Namun kita dapat mengambil hikmah dari pengalaman-pengalaman Jepang dan mengadaptasinya sesuai konteks di Indonesia

Covid-19: Beberapa Pengalaman Jepang
DOK
Rifqy Tenribali Eshanasir, Alumnus SMA Islam Athirah Bukit Baruga (Makassar). Kini mahasiswa Ritsumeikan Asia Pacific University, Beppu, Jepang

Oleh: Rifqy Tenribali Eshanasir
Alumnus SMA Islam Athirah Bukit Baruga (Makassar). Kini mahasiswa Ritsumeikan Asia Pacific University, Beppu, Jepang

Tidak ada negara yang memiliki respon sempurna dalam menghadapi wabah Covid-19. Semua negara, negara-negara maju sekalipun, mengalami tantangan berat menghadapi penyebaran makhluk renik SARS-CoV-2. Namun terdapat sejumlah negara yang sejauh ini memperlihatkan respon cukup baik dalam upaya mengatasi pandemi ini.

Selandia Baru, Denmark, Finlandia, Jerman, Korea Selatan maupun Jepang disebut sebagai negara-negara dengan daya tanggap lebih baik. Hingga 23 April 2020, terdapat 1.994 kasus Covid-19 yang terkonfirmasi di Jepang, 299 meninggal dan 1.424 yang berhasil sembuh.

Sebuah resiliensi yang lebih baik dibanding negara-negara maju lainnya seperti Italia maupun Amerika Serikat, meskipun bukan menjadi alasan untuk menurunkan kewaspadaan. Sebagai mahasiswa di Jepang, saya ikut merasakan bagaimana pemerintah dan masyarakat negeri ini berusaha mengatasi epidemi Covid-19.

Posisi Jepang terbilang unik karena secara geografis dekat dari Cina, negara di mana epidemi bermula, dan memiliki banyak interaksi dengan negara tersebut. Karenanya, orang-orang bertanya-tanya bagaimana Jepang bisa cukup baik menekan angka kejadian/kematian terkait Covid-19?

Tidak ada faktor tunggal yang dapat menjawab pertanyaan tersebut. Kemungkinan akibat gabungan sejumlah faktor seperti kebijakan menghadapi Covid-19, sistem-fasilitas kesehatan serta budaya kebersihan di negara tersebut.

Strategi defensif

Jepang menerapkan strategi bertahan menghadapi Covid-19. Ketika Cina semakin menunjukkan banyak kasus infeksi virus korona baru sejak Januari 2020, Jepang segera melarang pengunjung dari wilayah-wilayah Cina yang terdampak wabah.

Hal ini kemudian juga diberlakukan pada para pengunjung dari negara-negara lain di mana penularan virus banyak terjadi. Strategi bertahan ini menyerupai strategi klasik militer Jepang yang disebut ‘mizugiwa sakusen’ atau menahan/mengusir musuh begitu mereka mendarat di pantai.

Kontrol ketat pada pelabuhan dan bandar udara menjadi titik penting strategi defensif Jepang. Contoh paling nyata seperti pelarangan orang-orang dari kapal pesiar Diamond Princess beberapa waktu lalu untuk turun ke darat dan kebijakan karantina ketika kapal tersebut singgah di Pelabuhan Yokohama.

Halaman
123
Editor: syakin
Sumber: Tribun Timur
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved