Narasi Ramadhan
Dalil Agama soal Mudik di Masa Pandemi Covid-19
OPINI: Amiruddin Kuba. Menurutnya; Mengurungkan niat saja sudah mendapat pahala apalagi jika kita benar-benar menjalankan niat.
DKI Jakarta adalah kota pertama penerap PSBB. Melalui Keputusan Gubernur Nomor 380 Tahun 2020 dan Peraturan Gubernur Nomer 33 Tahun 2020, masa ‘circuit break’ ini berlaku sejak 10 April 2020, dan diperpanjang hingga Juni.
Langkah ibu kota negeri lalu diikuti setidaknya 18 kota lain Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Banten, Sulawesi Selatan dan Sumatera.
Berselang beberapa hari kemudian, setelah rilis hasil evaluasi dan survei Kementerian Perhubungan (Kemenhub), bahwa 68% warga bersedia tak mudik.
Sementara, 24% sisanya bersikukuh mudik. Bahkan, 7 persen sudah ‘sampai di kampung” halaman sebelum puncak mudik.
Berdasarkan data ini, Presiden Joko Widodo kemudian mengumumkan larangan mudik mulai terhitung sejak tanggal 24 April hingga 1 Juni 2020.
Pertanyaan kemudian adalah bagaimana Islam memandang soal mudik dan PSBB? Apakah larangan mudik atau pemberlakuan PSBB pernah ada dalam sejarah Islam?
Pentingnya Jaga diri, keluarga dan kerabat
Dalam Alqur’an dikatakan, “Wahai orang-orang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari Api Neraka” (Qs. At-Tahrim/66: 6).
Ayat ini menjadi pengingat bagi setiap Muslim yang beriman. Sebab ukuran kesuksesan dan kebahagiaan manusia di akhirat kelak adalah ketika dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga.
Ibnu Abbas r.a. dalam sebuah majlis ilmu pernah berkata; “jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka” adalah taat kepada Allah dan meninggalkan maksiat serta perintah untuk berdzikir kepada-Nya. Maka dengannya Allah selamatkan kalian dari api neraka”.
Hal senada dikemukakan Muqatil, Ad-Dhahak dan Ali bin Abi Thalib ra.
Dalam konteks pelarangan mudik pada masa pandemi covid-19 ini adalah hal bijak dan benar. Apalagi memonetumnya bertepatan bulan Ramadhan, bulan menenangkan diri.
Bisa dibayangkan jika tetap nekat mudik, maka hal ini bisa berdampak pada diri dan keluarga di kampung. Boleh jadi kita yang mudik, pulang tanpa gejala. Namun di perjalanan, kita terpapar.
Silarurahim di kampung akan berubah jadi hal menegangkan, saling mencurigai.
Sebaliknya, boleh jadi pemudik yang tertular dari wabah di kampung.
Jika kondisi demikian, pemudik termasuk golongan penjerumus keluarga ke dalam kebinasaan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/amiruddin-kuba.jpg)