Narasi Ramadhan
Dalil Agama soal Mudik di Masa Pandemi Covid-19
OPINI: Amiruddin Kuba. Menurutnya; Mengurungkan niat saja sudah mendapat pahala apalagi jika kita benar-benar menjalankan niat.
Sejatinya, wacana ini mulia adanya. Tujuannya; memutus mata rantai pandemi covid-19 agar tak mewabah di kampung halaman.
TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR — Sejatinya Mudik atau Pulang Kampung adalah terminologi dan rutinitas biasa di Nusantara.
Mudik sudah menjadi tradisi tahunan di negeri dengan penduduk muslim terbesar di dunia.
Seumur usia negeri ini, mudik atau pulang kampung sudah jadi pokok berita dan keyword nasional menjelang Lebaran.
Namun, sebulan terakhir, dua terminologi ini memantik juga kontroversi se-Nusantara.
Dengan alasan keamanan dan jadi pemutus mata rantai (circuit breaker) wabah pandemi global, Corona Virus Disease (COVID-19), pemerintah mengumumkan larangan.
Kontroversi itu kian meruncing kala potongan rekaman video Presiden Joko Widodo dengan Mata Najwa, awal pekan ini, membedakan dua frasa itu.
Tribun pun meminta Kepala Seksi Kemahaiswaan Direktorat Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam Kementerian Agama RI, Amiruddin Kuba, meuliskan pandangannya perihal tradisi tahunan umat Muslim Nusantara itu, dari persfektif agama.
Bukan untuk menjelasan definisi dan perbedaan keduanya, narasi berikut ini, adalah mendudukkannya dalam konteks peran negara dan agama untuk kemaslahatan bersama.
Kuba adalah alumnus Madrasah Aliyah Program Khusus (MAPK) Ujungpandang dan Fakultas Syariah UIN Alauddin Makassar.
Di sela-sela masa work from home ini Dewan Pengawas Nasaruddin Umar Office (NUO) Foundation, Jakarta ini, memenuhi permintaan ulasan itu.
Berikut ulasan Founder Balqis Foundation Jakarta ini;
MUDIK itu tradisi sekaligus rutintas ‘pulang kampung’ seseorang atau kelompok menjelang Lebaran, hari Raya utama Islam, Idul Fitri.
Menjelang Lebaran, kampung bukan hanya tempat tujuan mengenang masa-masa kecil. Dalam mudik, kampung adalah locus delicti sekaligus tempus delicti (momen) nyata untuk ’silaturahim, dan meminta maaf agar pekerjaan kembali ‘berberkahi’ hingga Lebaran berikutnya.
Toh, makna harfiah Idul Fitri adalah kembali suci, kembali laiknya ‘anak kecil’, tanpa dosa.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/amiruddin-kuba.jpg)