Narasi Ramadhan
Dalil Agama soal Mudik di Masa Pandemi Covid-19
OPINI: Amiruddin Kuba. Menurutnya; Mengurungkan niat saja sudah mendapat pahala apalagi jika kita benar-benar menjalankan niat.
Di China, saat wabah Corona masih jadi epidemi di Wuhan, ibukota Provinsi Hubei, warga negeri itu juga ada tradisi mudik menjelang Tahun Baru Imlek.
Usianya bahkan lebih tua dari ‘mudik Lebaran di Indonesia.’
Namun, momen mudik Imlek itulah yang juga diduga jadi salah satu ‘pemicu’ Corona bergeser jadi pandemi global. Setidaknya, begitu stempel dari WHO.
Pergerakan mudik lebih khidmat, sebab selepas puncak bulan Ramadan.
Biasanya terlihat sepekan sebelum idul fitri. Puncaknya dapat kita saksikan 3 atau 2 hari menjelang hari “H” idul fitri.
Selama ini mudik ‘aman, sehat lancar, dan selalu dirindukan.
Mengapa? Karena inilah momen berkumpul dengan keluarga tercinta di kampung, setelah berpisah sekian bulan bahkan tahun.
Mudik juga biasanya dimanfaatkan untuk berbagi rejeki untuk kerabat, tetangga, dan orang dekat.
Namun karena wabah Covid-19, mudik jadi tak selancar dulu. Bahkan, untuk kali pertama dalam sejarah Indonesia, pemerintah ‘MUDIK itu TERLARANG.”
Maret lalu, pemerintah sudah mewacankan larangan ini.
Wacana ini bersamaan ‘sosialisasi’ pemerintah pusat di Jakarta perihal Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).
Warga di Jakarta, kampung sementara para pemudik terbesar di Indonesia, pun panik.
Rencana dan detal mudik berubah jadi ‘harapan’, selevel di bawah angan-angan.
Sejatinya, wacana ini mulia adanya. Tujuannya; memutus mata rantai pandemi covid-19 agar tak mewabah di kampung halaman. Yah, cukup di Jakarta, dan ibu kota provinsi ‘zona merah’ saja.
Tidak lama kemudian, PSBB berubah status dari imbauan menjadi ‘penegakan hukum’.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/amiruddin-kuba.jpg)