Virus Corona
‘Liburan Corona’ dan Sensasi Belajar Daring dari Rumah di Makassar
Virus ini mengkonfirmasikan lagi belajar daring atau online bukan lagi masa depan, melaikan sudah di depan mata, 4 hari terakhir mulai dipraktikkan.
Penulis: Hasrul | Editor: Thamzil Thahir

Magister pendidikan dari Monash University ini menggambar belajar daring dari rumah ini, ibarat konsep home schooling.
Siswa diberi tugas melalui aplikasi instant chat, WhatsApp.
Di aplikasi ini, siswa, guru mata pelajaran, wali kelas dan murid dan orangtua bergabung.
Guru admin group WhatsApp membuat protokol belajar online, semacam aturan. yang harus ditaati.
Hanya siswa dan guru yang aktif. Orangtua pasif dan hanya memantau atas seizin guru.
"Kalau ada keluhan tak bisa disampaikan terbuka, harus japri (private chat)."
Nah, jadwal pelajaran juga tak berubah. Orangtua harus memantau anak dengan bukti approving video.
Online supervising selama 12 jam, membuat metode belajar ini lebih fleksibel.

"Di level ini, kita ingin melihat kejujuran siswa dan orangtuanya. Jika di rumah kongkalikong, atau bercanda ini akan sangat berdampak pada masa depan peserta didik." ujar mantan koordinator pengawas SMA-SMK Disdik Sulsel ini.
Bedanya, guru atau dosen mata pelajaran harus bermitra dengan orangtua atau wali murid.
Dan konsep kemitraan dalam pendidikan itu adalah kejujuran, terbuka, dan tanggungjawab.
"pendidikan itu bukan mentransfer pengetahuan, tapi mempraktikkan perilaku baik, benar kepada siswa," ujarnya.
Purnamasari Hanafie, karyawan PDAM Kota Makassar, juga mengaku mendapat pengalaman baru.
Menjadi "mata-mata" guru sekaligus pembimbing bagi dua anaknya di rumah, juga membuatnya optimistis, belajar online adalah alternatif.
Warga Jl Onta Lama Makassar ini, memiliki tiga anak. Si sulung kuliah di luar negeri.