Menggeser Lensa Empati, Sebuah Gelitik Pendidik

Membangun perasaan empati mungkin terdengar sederhana—dapat membayangkan dirinya berada dalam posisi orang lain

Menggeser Lensa Empati, Sebuah Gelitik Pendidik
DOK
Mufidatunnisa, Penggerak Literasi dan Pendidikan di Kab. Bone, Sulawesi Selatan

Oleh: Mufidatunnisa
Penggerak Literasi dan Pendidikan di Kab. Bone, Sulawesi Selatan

You are what you watch sepertinya akan melempar asumsi-asumsi baru dalam tatanan sosial dan perilaku kita. Terlebih, dengan merebaknya kasus-kasus pembunuhan di Indonesia seperti kasus pembunuhan oleh remaja berusia 15 tahun terhadap balita 5 tahun baru-baru ini menjadikan ungkapan di atas semakin lengket di ingatan.

Kenyataan bahwa salah satu motif aksi keji tersebut adalah karena tontonannya, jelas menampung gelitik pada orang tua dan tenaga pendidik. Namun, peran pendidik tidaklah cukup mengawasi tontonan keseharian sang anak, apatah lagi mengklaim bahwa film bergenre horor menyimpan banyak stimulus untuk aksi kekerasan tersebut.

Menilik kasus ini, ada beberapa aspek yang berkontribusi besar dalam tingkah laku si anak. Menurut Reza Indragiri, seorang ahli psikologi forensik Indonesia, saya bisa menyimpulkan bahwa kasus ini datang dari interaksi dua faktor: Pertama adalah faktor genetik, disposisi, kondisi otak, dan sebagainya. Kedua adalah faktor lingkungan dan situasi yang dielaborasi dengan minimnya kasih sayang yang diperoleh sebagai hasil dari broken home dan juga melalui tontonan horor yang kemudian pelan-pelan mematikan sisi afektif dari sang anak.

Hal ini diperkuat oleh sebuah teori Callous-Unemotional Trait yang menjelaskan bahwa sistem ketidaknormalan pada otak mengakibatkan kondisi kognitif anak berbeda, hingga mengikis rasa empati anak terhadap keadaan di sekitarnya.

Mendengar penjelasan ini, saya terbayang wajah-wajah siswa yang saya temui tiap hari. Teringat sebuah kasus yang pernah saya tuliskan pada sebuah media, “Botak dan Berontak” yang menjelaskan kondisi siswa saya yang ‘haus’ akan hukuman botak dan melakukan pemberontakan hanya agar dia dapat dijenguk oleh orangtuanya di Pesantren.

Memang, aksi protes ini tidak sebrutal pembunuhan tadi, tapi sukses menjadi alarm untuk saya sebagai pendidik untuk kembali menghadirkan ruang empati pada pembelajaran dan menapaki langkah-langkah tersebut agar tidak terjadi kasus serupa.

Kata menapaki mungkin tepat sebab hal ini akan menjadi tangga-tangga berbeda dari jalur yang biasanya hanya berfokus pada kecerdasan kognitif anak. Namun, perlu disadari, menggali sikap empati tidaklah sesulit yang dibayangkan tapi juga tidak semudah dengan menjejali mereka dengan ceramah agama.

Membangun perasaan empati mungkin terdengar sederhana—dapat membayangkan dirinya berada dalam posisi orang lain. Dalam ruang kelas, seorang juara kelas kebanyakan akan susah mendalami pedihnya mendapat coretan merah dan bullyan temannya karena belum mampu berhitung dengan sempurna. Hal inipun menimbulkan pertanyaan, bagaimana agar anak-anak jenius dan superior ini tidak latah dalam bersikap kepada teman-temannya yang belum mencapai indikator yang diharapkan. Setidaknya, menurut Dr. Donna Wilson, kemampuan utama adalah mengajarkan pentingnya sudut pandang, perspektif. Filosofi gajah sepertinya masih relevan saat ini, bagaimana beberapa orang ditutup matanya lalu menyentuh bagian tubuh gajah yang berbeda menghadirkan banyak praduga, atau sesederhana membandingkan angka 9 dan 6 dalam kelas. Jika ini terlalu filosofis, dalam pengaplikasiannya bisa dinarasikan dengan menggunakan karya literatur atau cerita-cerita yang relevan dengan kehidupan mereka. Dalam kartun Sponge Bob misalnya, tentu penonton akan banyak mengomeli tindakan Squidward yang selalu marah atau tuan Crab yang sangat mata duitan. Menurut pengamatan saya, pendidik harus jeli memindahkan lensa dari sisi Sponge Bob ke perspektif Tuan Crab, yang mungkin saja membutuhkan Uang karena biaya sekolah anaknya yang sudah beranjak dewasa. Hal ini mungkin sederhana namun bisa diupgrade dengan kisah yang lebih fenomenal.

Kedua, salah satu kesulitan saat ini adalah kemampuan untuk mendengar dengan utuh. HEAR strategy yang disusun oleh Dr. Donna mungkin jelas untuk menemani langkah pendidik. Halt menyuruh kita untuk hadir, menghentikan segala aktivitas dan mengosongkan diri sejenak. Engage membutuhkan sedikit aktivitas fisik seperti memutar kepala agar telinga kanan dapat fokus ke pembicara. Anticipate mengajak kita untuk mencari hal-hal baru yang mungkin bisa kita dapatkan sekecil apapun dari pemicara. Tak jarang orang lain sangat malas dicekoki dengan cerita karena tidak ingin terjebak dengan masalah orang lain, hingga akhirnya raib dan menganggap semua yang disampaikan lawan bicara adalah omong kosong yang tidak memiliki value. Terakhir, Replay sebagai upaya kita untuk merangkai kembali deretan kalimat dan masalah yang kita dengar, lalu mendiskusikannya dengan bahasa yang lebih sederhana ke teman-teman terpercaya.

Menyelami kasus-kasus kekerasan seperti ini tentu memantik emosi. Namun, tidak ada salahnya jika kita merefleksikan kasus ini sebagai usaha memperbaiki kesempatan mereka di masa depan. Tak ada jalan pintas menuju hidup penuh damai. (*)

Editor: syakin
Sumber: Tribun Timur
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved