Media dan Kasus Covid-19
Media diharapkan terus mendorong pemerintah memberikan informasi terbaru terkait penanganan virus corona
Oleh: Indah Pratiwi
Pengajar di Jurusan Ilmu Komunikasi Fisipol Unismuh Makassar
Sejak kemunculannya pada akhir 2019, virus corona jenis baru (covid-19) menjadi bahan pemberitaan di mana-mana. Mendominasi berita utama di seluruh dunia. Seluruh media berlomba-lomba mencari tahu dan memahami asal usul dan dampak yang muncul dari virus ini.
Dalam setiap wabah atau krisis kesehatan, tentu saja publik perlu diberikan pengetahuan dan pemahaman yang akurat dan tepat waktu mengenai pencegahan, risiko, dan perawatan. Informasi ini terutama berasal dari media.
Tetapi apakah media telah memberikan informasi yang benar-benar dibutuhkan masyarakat selama wabah virus ini berlangsung? Tidak sedikit kita menemukan media yang berfokus pada apa yang mungkin tampak menarik, tetapi bukan pada apa yang perlu orang-orang segera ketahui. Alih-alih memberikan porsi berita yang sama besar tentang cara pencegahan, penularan, dan tingkat kesembuhan, media justru mengekspos hal-hal mengerikan dari kasus ini sehingga menimbulkan kecemasan.
Kepanikan
Pejabat kesehatan masyarakat mengandalkan media untuk membantu menyebarkan informasi penting mengenai wabah dan tindakan yang dapat diambil untuk mengatasinya. Namun, dalam praktiknya ada beberapa hal yang ditampilkan media justru membangkitkan kepanikan. Misalnya saja, dalam sebuah peliputan kasus corona, seorang jurnalis menggunakan sebuah masker respirator yang fungsinya untuk melindungi diri dari gas beracun.
Hal ini kemudian ramai diperbincangkan di media sosial. Contoh lainnya adalah ketika sering munculnya breaking news atau stop press mengenai bertambahnya jumlah korban terduga kasus virus corona. Breaking news sendiri merujuk pada sebuah berita keras (hard news) yang berdampak besar, sesuatu yang mengejutkan, sebuah peristiwa genting sehingga harus segera disampaikan.
Karakteristik dari breaking news itu sendiri mengindikasikan bahwa ada kepanikan yang tengah terjadi dan seakan ‘memaksa’ masyarakat menjadi cemas. Hal ini juga diperparah dengan teknis penulisan dalam menggolongkan pasien serta istilah-istilah yang tidak pada tempatnya, semuanya itu malah hanya menimbulkan kepanikan semata.
Hal di atas menunjukkan bahwa liputan media hanya berkisar pada alarm saja, membangunkan rasa takut dan panik, memberikan proporsi yang besar pada sesuatu yang bombastis demi mengundang lebih banyak penonton atau pembaca.
Di dalam sebuah jurnal penelitian yang berjudul, The Power of the Media in Health Communication tahun 2016, penelitian tentang wabah penyakit memperlihatkan bahwa dalam pemberitaan atau peliputan, media kerap memberikan penekanan pada rasa takut.
Contohnya dalam kasus epidemi SARS tahun 2003, sebuah studi menemukan bahwa metafora yang digunakan dalam pemberitaan kasus tersebut, yaitu “SARS sebagai pembunuh”. Sejalan dengan hal itu, pemerhati media Peter Vasterman dan Nel Ruigrok meneliti liputan epidemi H1N1 di Belanda dan menemukan bahwa sebagian besar bahasa yang digunakan dalam berita bernada ketakutan dan kekhawatiran.
Seperti halnya SARS, virus corona ini ditandai dengan adanya informasi ketidakpastian, menumbuhkan rasa takut, dan juga kepanikan.
Peran Edukasi
Sesuai dengan UU Pers dan Penyiaran, seharusnya peran media untuk memberikan edukasi ditonjolkan pula dalam kasus COVID-19 ini. Komisi Penyiaran Indonesia juga telah mengimbau media agar dalam pemberitaannya tidak memicu kepanikan dengan menyebarkan informasi yang tepat dan hanya menyampaikan informasi yang sudah terkonfirmasi kebenarannya.
Selama wabah terjadi tanpa adanya informasi yang akurat, orang-orang akan mencari sumber alternatif yang bisa jadi keliru, baik dari media arus bawah dan utama, telah menjadi saluran informasi oleh publik.
Disiplin verifikasi dan konfirmasi ulang dari setiap informasi harus tetap dilakukan untuk mencegah masyarakat menelan berita bohong dan menyesatkan, demi mengurangi kecemasan dan meningkatkan kepercayaan publik.
Terkait dengan pemerintah, media terus mendorong pemerintah memberikan informasi terbaru terkait penanganan virus corona dan memastikan bahwa pemerintah sudah menangani para penderita virus corona secara maksimal dan melakukan segala yang diharuskan demi mencegah penyebaran virus ini.
Media harus menghindari konten berita yang memicu kepanikan publik. Konten seperti itu tidak akan membantu negara atau masyarakat dalam menangkal penyebaran virus ini atau menangani korban suspect atau positif.
Media dapat mendorong masyarakat untuk menjaga pola hidup sehat dan bersih, mengonsumsi makanan sehat, berolahraga, cara mencuci tangan yang baik dan benar, dan cara-cara sederhana agar terhindar dari virus ini.
Juga turut memperbanyak konten berita yang bersifat edukatif untuk mencegah penyebaran, seperti bagaimana cara penularan, cara mengantisipasinya, cara bersin dan batuk agar virus apa pun tidak menular ke orang lain.
Termasuk pula konsisten dan memperbanyak pemberitaan mengenai masih ada harapan di tengah kekisruhan kasus virus corona yang mendunia ini bahwa peluang sembuh dari virus ini sangat besar. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/indah-pratiwi.jpg)