Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Menyoal Pendidikan di Indonesia

Ketika pendidikan hanya dijadikan sebagai formalitas untuk mengejar gelar dan ijazah dengan mengesampingkan substansi dari pendidikan itu sendiri.

Tayang:
Editor: syakin
DOK
Khalil Nurul Islam, Mahasiswa UIN Alauddin Makassar 

Oleh: Khalil Nurul Islam
Alumni UIN Alauddin Makassar

Manusia pada umumnya bertindak sesuai dengan apa yang mereka pahami, tergantung dari seberapa besar pengalaman dan pengetahuan yang mengisi dimensi perangkat brain (otak) mereka. Maka dari itu, untuk mengatasi disorientasi sumber daya manusia (SDM) dibutuhkan penguatan SDM dalam memajukan pembangunan, terutama dalam menyelesaikan masalah SDM seperti masalah pengangguran yang selalu menjangkiti Indonesia.

Prof Dr H Baso Amang SE MSi, dosen di Pascasarjana Universitas Indonesia Timur (UIT), saat membawakan mata kuliah Manajemen SDM. Beliau Membedakan antara pelatihan dan pendidikan. Di mana pelatihan melahirkan skill. Sedangkan pendidikan melahirkan knowledge (pengetahuan).

Seseorang yang memiliki skill hanya mampu dengan satu hal saja sesuai bidang skillnya atau tujuan akhirnya adalah kembali ke tempat semula. Sedangkan seseorang dengan pengetahuan akan mampu dengan bidang apa saja atau tujuan akhirnya adalah all jobs.

Pendidikan menjadi salah satu sektor yang urgen sekaligus vital dalam suatu pembangunan. Karena sektor pendidikan mencakup seluruh sendi dalam kehidupan manusia. Sebagai salah satu tolok ukur kualitas SDM dapat dilihat dari visibilitas mereka dalam berpikir dan bertindak. Dengan pendidikan seorang bisa menjawab berbagai pertanyaan dan tuntutan zaman, serta terhindar dari kemandekan.

Education is the most powerful weapon which you can use to change the world” (Nelson Mandela).

Statemen Nelson Mandela juga menguatkan akan urgensi dari sektor pendiddikan ini bahwa pendidikan adalah senjata paling ampuh yang bisa digunakan untuk mengubah dunia. Namun masih sering terjadi distorsi dalam dunia pendidikan di Indonesia.

Ketika pendidikan hanya dijadikan sebagai formalitas untuk mengejar gelar dan ijazah dengan mengesampingkan substansi dari pendidikan itu sendiri. Dalam menghadapi bonus demografi yang diterima oleh penduduk Indonesia di mana 70 persen populasi Indonesia merupakan penduduk usia produktif. Bonus demografi bisa saja menjadi boomerang ketika Indonesia tidak mampu memanfaatkan bonus demografi tersebut. Bonus demografi Indonesia diprediksi oleh Badan Pusat Statistik (BPS) akan berakhir tahun 2036 mendatang sebagaimana dilansir dari kompas.

Maka dibutuhkan peningkatan kualitas SDM sedini mungkin. Soekarno sang proklamator bangsa pernah berkata “Beri aku seribu orang tua, niscaya akan kucabut semeru dari akarnya. Beri aku sepuluh pemuda niscaya akan kuguncangkan dunia.”

Bukan tidak mungkin statemen sang proklamator bangsa menjadi meleset jauh ketika para pemuda Indonesia jauh dari harapan akan kualitas dan mentalitas mereka.

Tujuan pendidikan sebagaimana menurut Ki Hadjar Dewantara adalah untuk mendidik anak agar menjadi manusia yang sempurna hidupnya, yaitu kehidupan dan penghidupan manusia yang selaras dengan alamnya (kodratnya) dan masyarakatnya.

Mendidik menurut bapak pendidikan nasional Indonesia ini dalam arti yang sesungguhnya adalah proses memanusiakan manusia yaitu pengangkatan manusia ke taraf insani. Mendidik harus lebih memerdekakan manusia ke taraf insani. Mendidik harus lebih mendekatkan manusia dari aspek hidup batin (otonomi berpikir dan mengambil keputusan, martabat, mentalitas demokratik). Maka dari itu, kualitas SDM berbanding lurus dengan kualitas para pendidik di luar dari aspek-spek tertentu lainnya.

Sehingga para pendidik yang berkualitas menjadi keharusan untuk dapat melahirkan generasi yang cerdas dan berkarakter. Dalam Era Indutri 4.0, pemanfaatan teknologi adalah hal yang telah merambah dalam dunia pendidikan. Teknologi merupakan salah satu hal yang paling mempercepat pembangunan baik dalam pembangunan sumber daya alam (SDA) dan sumber daya nManusia (SDM).

Karena dengan teknologi manusia dapat melakukan berbagai penyederhanaan dan efisiensi terhadap banyak hal, baik itu waktu, tenaga, dan lainnya. Misalnya, pertemuan atau kelas kuliah telah dilakukan secara online, dan tugas-tugas juga telah disederhanakan dengan memanfaatkan berbagai fitur-fitur yang disuguhkan oleh teknologi.

Akan tetapi pada realitasnya, tekonologi juga masih memiliki aspek-aspek keterbatasan dalam memajukan SDM. Oleh karena itu, fungsional dari para pendidik tetap harus menjadi kontrol utama dalam mengarahkan SDM yang ada sehingga terkoneksi dengan
kemajuan teknologi secara tepat sasaran.

Pendidikan dan pendidik yang bermutu dan berkualitas tetap menjadi satu paket utama, di luar dari tempat maupun sistem yang juga menjadi faktor penting dalam membangun SDM. Oleh karena itu, semuanya harus terkoneksi dan saling mendukung satu sama lain
untuk menghasilkan SDM yang bermutu dan berkualitas. (*)

Sumber: Tribun Timur
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved