COFFEE BREAK
Jamil Misbach: Berpolitik Itu Kerja Tuntas dan Habis-Habisan
Kisah seorang pengendali partai di Sulawesi Selatan. Terkenal. Kaya. Pebisnis dengan beragam usaha. Karyawan banyak. Tapi gagal ke parlemen.
Penulis: Jumadi Mappanganro | Editor: Jumadi Mappanganro
PEMILIHAN anggota DPRD, DPR dan DPD untuk periode 2019-2024 telah selesai. Mereka yang terpilih telah dilantik.
Pimpinan DPRD tingkat provinsi, kabupaten dan kota di Indonesia pun sebagian besar telah dikukuhkan.
Hari ini, giliran Ketua dan Wakil Ketua DPRD Kota Makassar dilantik. Segera menyusul pelantikan pimpinan DPRD Sulawesi Selatan.
Namun cerita tentang keberhasilan maupun kegagalan seorang caleg seakan selalu menarik jadi bahan obrolan. Apalagi di warung kopi.
Seperti pagi tadi saat saya mampir di Warung Kopi Mamarita di Jalan Cenderawasih, Kota Makassar, Sulawesi Selatan, Jumat (18/10/2019).
Walau belum pukul 08.00 wita, warkop milik Yunus Piter ini sudah ramai saat saya tiba.
Seperti biasa, saya memesan segelas kopi susu. Sembari menunggu, saya membaca pesan-pesan whatsApp di hape.
Tetiba M Jamil Misbach SH MH datang dan duduk di samping saya. Dia advokat terkenal di Makassar.
Enaknya Jadi Warga Luwu Timur, Bupati Thorig Husler Paparkan Programnya Pimpin Lutim
Pererat Silaturahmi, Manajemen Citadines Royal Bu Makassar Coffee Morning di Kantor Tribun Timur
Saat ini dipercaya mengemban amanah sebagai Ketua Perhimpunan Advokat Indonesia (Peradi) Kota Makassar.
Kami memang sering bersua di warkop yang namanya merupakan singkatan dari 3 kecamatan berdekatan: Mamajang, Mariso, dan Tamalate. Kebetulan rumah ayah enam anak ini hanya berjarak sekira 100 meter dari warkop ini.
Lulusan Fakultas Hukum Universitas Muslim Indonesia (UMI) ini pun mengawali perbincangan tentang seorang elite politik di Sulawesi Selatan.
Sosoknya sangat dikenal. Kaya. Pebisnis dengan beragam usaha.
Tak elok saya menyebut namanya di tulisan ini. Pada Pileg April 2019 lalu, ia maju sebagai calon anggota DPR RI.
Sebelum hari H pencoblosan, nama dan wajahnya kerap terlihat di media massa. Ia pun selalu disebut masuk daftar caleg yang diprediksi kuat lolos ke Senayan.
Prediksi itu masuk akal. Alasannya mungkin karena sosoknya telah dikenal luas.
Punya banyak uang. Harta melimpah. Sampai dijuluki miliuner. Didukung jumlah karyawannya yang banyak.
Tapi hasil penghitungan suara Pileg 2019 lalu, perolehan suara yang berhasil dikumpulkannya tak sesuai harapan. Ia gagal ke Senayan.
Kenapa bisa gagal?
“Ya karena mungkin dia tidak bekerja tuntas dan habis-habisan,” tutur Jamil yang juga pernah duduk sebagai anggota DPRD Kota Makassar awal Reformasi lalu.
Lobi Bankir Cantik, Aksa Mahmud Sotta Tanya Kabar Anak dan Suami, Beginimi Jadinya!
Ternyata Ini Alasan Ustadz Abdul Somad Mundur PNS
Menurutnya, seorang politikus yang ingin mengejar kursi di dewan harus berani bekerja tuntas dan habis-habisan.
Tuntas dimaksud yakni fokus bekerja mengumpulkan suara sebanyak-banyaknya.
Apalagi jelang hari H pencoblosan, pekerjaan lain harus bisa ditinggalkan atau didelegasikan ke orang lain.
Jangan setengah-setengah urus pileg. Tapi harus berani menggunakan berbagai cara untuk bisa mendulang suara.
“Tentu saja harus sesuai rambu-rambu. Termasuk harus ikhlas habis-habisan menggunakan uang untuk operasional atau ongkos politik,” papar tokoh Muhammadiyah sekaligus salah seorang deklarator Partai Amanat Nasional (PAN) di Sulsel ini.
Menurut Jamil, bekerja tuntas dan habis-habisan pun belum ada jaminan bisa maksimal mendulang suara.
Apalagi jika bekerja setengah-setengah dan sangat perhitungan biaya untuk dikeluarkan selama kampanye.
“Biasanya orang yang demikian sulit lolos menjadi anggota dewan,” ujarnya sembari melap jam tangannya merek TAG Heur super premium V4.
TAG Heur adalah salah satu brand jam tangan mewah yang dibuat perusahaan multinasional TAG Heuer SA.
Didirikan Edouard Heuer pada tahun 1860. Bermarkas di Neuchâtel, Swiss.
Fakta Terkini Penajam Paser Utara, Ibu Kota Negara Baru Indonesia yang Diumumkan Presiden Jokowi
Jelang Pelantikan, 8 Bocoran Menteri atau Kabinet Jokowi - Maruf Amin, Nama Daerah yang Dapat Jatah
Makanya, kata Jamil, kaya dan terkenal bukan jaminan lolos ke parlemen.
“Apalagi jika ingin mencalonkan diri sebagai kepala daerah,” tutur mantan aktivis Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) ini.
Jamil memperbaiki posisi kacamatanya. Dua pengunjung menghampiri meja kami. Saya tak mengenalnya. Tapi tampaknya mereka saling kenal dengan Jamil.
Advokat senior ini melanjutkan cerita. Nampaknya predikat anggota dewan telah menjadi candu.
Buktinya, walau lebih banyak gagal ke parlemen setiap pileg, peminat caleg selalu meningkat. Pun tak sedikiti politikus kembali maju sebagai caleg, kendati pileg lalu gagal.
Apatah lagi mereka yang sudah pernah merasakan enaknya duduk sebagai anggota dewan.
"Selalu saja mau terus mendaftar caleg setiap musim pileg. Meski kadang maju dengan partai berbeda saat pileg sebelumnya," katanya bersemangat.
Saya memilih lebih banyak mendengarnya sembari sesekali menyeruput kopi.
Tetiba hape Samsung Note 10 milik Jamil yang diletakkan di atas meja berdering.
Obrolan kami pun terhenti. Saya kembali melanjutkan membaca pesan-pesan baru yang masuk di hape.
Rupanya ada pesan memanggil ke kantor. Tamu dari manajemen Hotel Citadines segera tiba. Saya pun pamit. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/jamil-misbach1_20160629_172116.jpg)