Pasca Pencopotan Dandim Kendari, Prajurit dan Keluarga Lantamal VI Makassar Diminta Bijak Bermedsos

Pasca Pencopotan Dandim Kendari, Prajurit dan Keluarga Lantamal VI Makassar Diminta Bijak Bermedsos

Rilis Lantamal VI
Ws Wadan Kolonel Laut (P) Suratun saat memimpin apel pagi, di Lantamal VI Makassar, Senin (14/10/2019). 

Jenderal Andika Perkasa, mengungkapkan upacara pencopotan itu di Kota Makassar, tepatnya di Kodam XIV, Sabtu (12/10) pagi.

Tapi, Surawahadi mengatakan, upacara pencopotan akan dilaksanakan di Korem 143 Halu Ole Kendari, Sulawesi Tenggara.

Panglima Kodam (Pangdam) XIV Hasanuddin, Mayjen TNI Surawahadi usai pimpin upacara HUT TNI ke 74.
Panglima Kodam (Pangdam) XIV Hasanuddin, Mayjen TNI Surawahadi usai pimpin upacara HUT TNI ke 74. (darul/tribun-timur.com)

"Semuanya dilakukan di Makorem Kendari sama Ankumnya, besok (Sabtu) pagi-pagi saya langsung kesana," jelas Surawahadi.

Selain dicopot, Kodam XIV Hasanuddin langsung menunjuk penggantinya Kolonel Hendi, yakni Kolonel Infanteri Alamsyah.

"Saya kira penggantinya teman-teman ini sudah kenal semua, pak Alamsyah yang gantikan pak Hendi," tegas Surawahadi.

Terpisah, Kepala Penerangan Kodam XIV Hasanuddin Kolonel Inf Maskun Nafik juga benarkan pergantian Dandim Kendari.

"Iya betul, penggantinya itu pak alamsyah. Beliau sudah disana (Kendari), besok pagi pangdam menyusul," tambah Maskun. (tribun-timur.com).

Laporan wartawan tribun-timur.com, Muslimin Emba

Dicopot dari Jabatan Dandim Kendari karena Ciutan Istri, Kolonel HS: Ambil Hikmah Buat Kita Semua

 Reaksi Tak Terduga Istri Dandim Kendari Saat Dampingi Suami Kolonel Hendi Suhendi Dicopot, Cuitan.

Istri Dandim Kendari Kolonel Hendi Suhendi, Irma Zulkifli Nasution, menangis saat mendampingi suami yang dicopot dari jabatannya pada Sabtu (12/10/2019).

Dandim Kendari Kolonel Hendi Suhendi Dicopot gegara isi Postingan sang Istri di Facebook.

Baca: Niat Puasa Senin Kamis dan Keutamaannya Serta Manfaatnya Untuk Kesehatan, Bisa Turunkan Lemak

Cuitan Irma Zulkifli Nasution itu dianggap bernada nyinyir terhadap Menko Polhukam Wiranto ditusuk.

Jabatan Komandan Kodim (Dandim) Kendari kemudian diserahkan dari Kolonel Hendi Suhendi ke Kolonel Inf Alamsyah.

Sebelumnya, Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Jenderal TNI Andika Perkasa mengumumkan pencopotan Kolonel Hendi Suhendi dan personel TNI AD Sersan Z.

Baca: Yovie and Nuno Tutup PHF 2019 di Mal PiPo

Selain personel TNI AD, TNI AU mencopot Peltu YNS dari jabatanya sebagai anggota POM AU Lanud Muljono Surabaya.

Personel TNI AD dan TNI AU itu dicopot gegara postingan istri bernada nyinyir terkait penusukan Menteri Koordinator Politik Hukum dan Keamanan (Menko Polhukam) Jenderal (Purn) Wiranto.

Reaksi Istri

Proses pergantian Dandim Kendari, Kolonel Hendi Suhendi kepada Kolonel Inf Alamsyah di Makorem 143 HO.
Proses pergantian Dandim Kendari, Kolonel Hendi Suhendi kepada Kolonel Inf Alamsyah di Makorem 143 HO. (Ist)

Sertijab Dandim Kendari dipimpin oleh Komandan Korem 143 Haluoleo, Kolonel Inf Yustinus Nono Yuliato di Aula Jenderal Sudirman Korem 143 Haluoleo Kendari.

Serah terima jabatan (sertijab) Dandim Kendari dari Kolonel Hendi Suhendi kepada pejabat baru Kolonel Alamsyah.

Istri Kolonel Hendi Suhendi, Irma Zulkifli Nasution yang saat sertijab menggenakan seragam hijau Persatuan Istri Tentara (Persit) meneteskan air mata.

Baca: Cari Smartphone Samsung? Ini Daftar Harga Terbaru HP Samsung Oktober 2019

Matanya berkaca-kaca saat pemberian ucapan selamat dari personel Kodim, Korem, serta anggota Persit Kendari.

Sanksi pencopotan Dandim Kendari Kolonel Hendi Suhendi ini karena isi cuitan sang istri terkait penusukan yang dialami Menko Polhukam Wiranto.

Irma Nasution dinilai menuliskan kata-kata bernada negatif terkait peristiwa tersebut pada status Facebook-nya.

Akibat ulahnya tersebut, sang suami mendapatkan sanksi pemecatan sebagai Dandim Kendari.

Baca: Muchlis A Misbah Siap Awasi Kebijakan Pemerintah

Sedangkan, Kolonel Hendi Suhendi yang harus kehilangan jabatan gegara postingan sang istri tegar selama proses sertijab itu.

Seusai acara, Kolonel Hendi Suhendi menyampaikan dirinya menerima apapun keputusan pimpinan.

Dia siap menjalankan hukuman yang dijatuhkan kepadanya.

"Saya terima, jadikan pelajaran, saya terima salah. Apapun keputusan dari pimpinan saya terima, dan memang itu mungkin pelajaran bagi kita semua," ujar Kolonel Hendi Suhendi kepada sejumlah wartawan usai Sertijab di Aula Sudirman Makorem Kendari, Sabtu siang.

Baca: Ketua KPPI Sulsel Selamati dan Siap Dukung Ketua DPRD Sulsel

"Ambil hikmah buat kita semua," kata eks Dandim tersebut menambahkan.

Penahanan 14 Hari

Kolonel Hendi Suhendi
Kolonel Hendi Suhendi (KODAM XIV/HASANUDDIN)

Padahal, Kolonel Hendi Suhendi baru mengikuti upacara sertijab Dandim Kendari dari pejabat lama Letkol Cpn Fajar Lutvi Haris Wijaya di Makorem 143/Ho Kendari pada 19 Agustus 2019.

Kolonel Hendi Suhendi mantan Dandim Kendari tersebut baru menjabat selama 55 hari.

Setelah dicopot dari jabatan sebagai Dandim Kendari, Hendi akan menjalani hukuman disiplin militer selama 14 hari ke depan, yaitu penahanan ringan.

Penahanan tehitung mulai Sabtu (12/10/2019)

Baca: FOTO: Bangau Putra Allstar Gelar Turnamen Sepak Bola U-45 Cup 1 2019

Mantan Dandim Kendari Kolonel Hendi Suhendi diserahkan ke Denpom Kendari untuk menjalani hukuman militernya.

Dikutip dari Tribun Jabar, Pangdam XIV Hasanuddin Mayjen TNI Surawahadi, mengatakan sanksi kepada Kolonel Hendi Suhendi sudah sesuai aturan.

Hal itu sebagaimana disampaikan KSAD Jenderal TNI Andika Perkasa di RSPAD Gatot Subroto.

"Kita juga dasarnya adalah kepada ketentuan yaitu Undang-Undang. Pasal 8 Ayat A tentang ketaatan, dan pasal 9 itu ketentuan jenis hukuman," kata Surawahadi di Korem 143 Haluoleo.

Baca: Lawan Tuan Rumah, Persijo Jeneponto Tumbang 0-1 di Putaran ke Tiga Liga 3 Sulsel 2019

Menurut Surawahadi, ada tiga jenis sanksi atau hukuman yang telah ditetapkan.

Pertama teguran, hukuman ringan 14 hari, dan hukuman berat.

Terkait cuitan atau postingan istri mantan Dandim Kendari, Kolonel Hendi Suhendi, tentang Wiranto, ia dijatuhi hukuman ringan berupa penahanan selama 14 hari.

Personel TNI AD dan TNI AU

KSAD, Jenderal TNI Andika Perkasa
KSAD, Jenderal TNI Andika Perkasa (DOK PRIBADI)

Sebelumnya, KSAD Jenderal Andika dan KSAU Marsekal Yuyu Sutisna menjatuhkan sanksi pencopotan pada tiga anggota TNI akibat unggahan sang istri.

Tiga anggota personel TNI yang mendapatkan sanksi adalah Kolonel HS yang menjabat sebagai Dandim Kendari, Sersan Dua Z, dan Peltu YNS, anggota POMAU Lanud Muljono Surabaya.

Sementara ketiga istri mereka, yakni IPDL, LZ, dan FS, telah dilaporkan ke polisi karena dianggap melanggar UU No 19 Tahun 2016 tentang ITE.

Baca: Legislator PAN Makassar Sahruddin Sahid Janji Makmurkan Masjid

Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Jenderal Andika Perkasa dalam konferensi pers di RSPAD Gatot Soebroto, Jakarta, Jumat (11/10/2019) mengatakan pencopotan anggotanya tersebut telah sesuai dengan Undang-Undang Nomor 25 tahun 2014 yaitu tentang disiplin militer.

Kepala Subdinas Penerangan Umum TNI AU Kolonel (Sus) Muhammad Yuris dalam keterangan tertulis, Sabtu (12/10/2019) menjelaskan bahwa dalam urusan politik, posisi prajurit TNI AU dan keluarganya (KBT/Keluarga Besar Tentara) harus netral.

"Oleh karena itu, KBT dilarang berkomentar, termasuk di media sosial yang berdampak pendiskreditan pemerintah maupun simbol-simbol negara.

KBT yang kedapatan melanggar, dikenakan sanksi sesuai aturan yang berlaku," ujar Yuris.

Hal yang sama juga dijelaskan oleh Kepala Penerangan Komando Daerah Militer (Kapendam) XIV Hasanuddin Letnan Kolonel Maskun Nafik.

Ia menjelaskan, sikap atau pernyataan seorang istri perwira atau personel TNI bisa berimplikasi menjadi gangguan atau polemik dalam kondisi sosial masyarakat.

Pada akhirnya, menurut Nafik, sikap keluarga personel TNI itu akan menjatuhkan kehormatan prajurit militer.

"Akhirnya, martabat militernya menjadi terganggu atau boleh dikatakan kehormatan militernya jatuh. Ibaratnya seperti itu," ujar Nafik kepada Kompas.com, Sabtu (12/10/2019).

Menurutnya, selama ini pimpinan TNI berulang kali mengingatkan agar para prajurit, istri prajurit atau keluarga TNI tidak mengunggah hal-hal yang berkaitan dengan politik, suku, agama, dan ras.

"Atau membuat konten-konten yang menjatuhkan martabat sebagai prajurit atau istri prajurit atau men-share, memposting, meskipun bukan buatannya sendiri," ujarnya.

(Tribunnews.com/Anugerah Tesa Aulia)

Langganan berita pilihan tribun-timur.com di WhatsApp
Klik > http://bit.ly/whatsapptribuntimur

Follow akun instagram Tribun Timur:

Silakan Subscribe Youtube Tribun Timur:

A

Penulis: Muslimin Emba
Editor: Suryana Anas
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved