Kesehatan Jiwa Remaja dan Bonus Demografi

Kalangan anak-anak maupun remaja seringkali terabaikan. Badan Kesehatan Dunia (WHO) melaporkan hampir 800.000 orang meninggal karena bunuh diri

Kesehatan Jiwa Remaja dan Bonus Demografi
Sudirman Nasir, Dosen/peneliti di FKM Unhas dan anggota Akademi Ilmuwan Muda Indonesia (ALMI)
Sudirman Nasir 

Oleh Sudirman Nasir
Dosen/peneliti di FKM Unhas dan anggota Akademi Ilmuwan Muda Indonesia (ALMI)

Setiap tanggal 10 Oktober, banyak orang di berbagai kota di dunia memperingati Hari Kesehatan Jiwa Sedunia (HKJS) atau World Mental Health Day. Peringatan ini ditujukan untuk meningkatkan kepedulian masyarakat, pemerintah dan dunia internasional mengenai pentingnya kesehatan jiwa, sama pentingnya dengan kesehatan fisik.

Apalagi karena kesehatan jiwa sebenarnya terkait erat dengan kesehatan fisik. Gangguan kesehatan jiwa ringan maupun berat seperti stres hingga depresi terkait dengan gangguan fisik seperti sakit kepala ringan maupun berat, kelelahan fisik, stroke, hingga gangguan jantung.

Sebaliknya gangguan kesehatan fisik, khususnya yang berat dan kronik, dapat memicu atau memperburuk kesehatan jiwa.

Fokus HKJS tahun 2019 ini adalah promosi kesehatan jiwa dan pencegahan tindakan bunuh diri (Mental Health Promotion and Suicide Prevention), terrmasuk yang ditujukan pada kalangan remaja. Selama ini, setiap kali kita berbicara mengenai kesehatan jiwa, biasanya fokus kita tertuju pada orang-orang dewasa.

Kalangan anak-anak maupun remaja seringkali terabaikan. Badan Kesehatan Dunia (WHO) melaporkan hampir 800.000 orang meninggal karena bunuh diri setiap tahunnya. Bunuh diri juga menjadi penyebab kematian nomor dua di kalangan remaja dan pemuda usia 15 - 29 tahun.

Peluang mendapatkan keuntungan ekonomi dan sosial yang optimal dari bonus demografi dan penduduk muda kita sulit tercapai apabila kita tidak menggalakkan program mendukung kesehatan jiwa anak-anak dan remaja kita. Mengapa remaja rentan mengalami masalah kesehatan jiwa termasuk tindakan atau upaya bunuh diri?

Masa remaja adalah masa dalam rentang kehidupan yang ditandai banyak dinamika dan perubahan. Misalnya perubahan biologis-fisik dari seorang anak menuju orang dewasa, yang membawa perubahan atau bahkan gejolak secara psikologis. Perubahan hormonal dan bentuk tubuh pada remaja (lelaki maupun perempuan) contohnya, dapat mempengaruhi munculnya aneka dinamika suasana hati (mood) dan juga perilaku. Remaja juga mengalami banyak perubahan psikologis dan sosial, apalagi ketika dunia kini mengalami perubahan cepat terkait pesatnya perkembangan teknologi, khususnya teknologi informasi dan komunikasi. Perubahan yang dapat mengakibatkan goncangan di banyak aspek kehidupan.

Model interaksi, tanggung jawab dan tuntutan sosial yang berbeda di masa remaja dibandingkan ketika masih kanak-kanak juga semakin dirasakan dan dapat menjadi beban berat. Penggunaan teknologi yang semakin meningkat belakangan ini turut pula menyumbang faktor risiko gangguan kesehatan jiwa pada remaja. Banyak penelitian menunjukkan bahwa meskipun teknologi informasi-komunikai yang semakin pesat dapat memberikan manfaat bagi remaja, tetapi di lain sisi juga bisa memberikan tekanan terhadap pengguna, khususnya pengguna remaja. Konektifitas ke dunia maya yang dilakukan setiap saat langsung maupun tidak langsung dapat merugikan kesehatan dan meningkatkan kerentanan gangguan kejiwaan. Namun teknologi informasi-komunikasi dapat pula berperan besar dalam upaya meningkatkan kesadaran dan keterampilan mengelola masalah kesehatan jiwa khususnya di kalangan remaja.

WHO melaporkan setengah dari kejadian gangguan kejiwaan di masyarakat sebenarnya dimulai dari usia sekitar 14 tahun, namun sebagian besar kasus tidak terdeteksi dan akhirnya tidak atau terlambat ditangani. Depresi merupakan kasus yang banyak dialami oleh remaja yang apabila tidak diatasi dapat mengarah pada hal yang lebih parah seperti tindakan melukai diri (self harm) maupun upaya bunuh diri (suicide). Media massa dan media sosial cukup sering melaporkan percobaan maupun tindakan bunuh diri di kalangan remaja.

Selain itu, penggunaan alkohol dan obat-obat terlarang, perilaku seks tidak aman dan perilaku berisiko lainnya seperti dalam mengendarai kendaraan bermotor dan juga pola makan tidak tepat yang dapat memicu kegemukan (obesitas) juga merupakan masalah kesehatan jiwa yang kerap dialami oleh orang muda

Akses ke dunia maya dengan segala fasilitas seperti berinteraksi di media sosial, bermain game yang berlebihan akan menyita waktu yang sebenarnya masih dibutuhkan para remaja untuk terus beraktifitas dan mengembangkan dirinya dengan kegiatan-kegiatan bersifat fisik di dunia nyata. WHO dan banyak ilmuwan semakin kmenyadari perlunya pengaturan dalam menggunakan teknologi mutakhir. Internet Addiction Disorder (kecanduan internet) maupun Internet Gaming Disorder (kecanduan game) adalah contoh-contoh yang bahkan sudah dinilai sebagai gangguan kejiwaan yang disebabkan oleh ketidak-tepatan penggunaan teknologi informasi. Pendidikan intensif dan kreatif mengenai penggunaan teknologi informasi secara sehat, aman dan produktif (digital literacy) perlu dilakukan lebih gencar.

Kondisi di atas mengharuskan adanya pengetahuan dan keterampilan memadai dalam masalah kesehatan jiwa (mental health literacy), khususnya yang terkait pencegahan maupun penangan masalah kesehatan jiwa di kalangan remaja (adolescence mental health literacy). Keluarga dan sekolah perlu lebi peka dan supportif dalam mendukung remaja cerdas, tangguh, bahagia dan sehat (jiwa dan fisik).

Sangat diperlukan upaya lebih sistematis memberikan pengetahuan dan keterampilan mencegah dan menangani masalah terkait kesehatan jiwa bagi orang tua dan para guru sehingga kejadian depresi, melukai diri maupun tindakan bunuh diri di kalangan remaja dapat dicegah. Bonus demografi jelas tak bisa diraih optimal tanpa perhatian lebih pada kesehatan jiwa remaja.

Editor: syakin
Sumber: Tribun Timur
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved