Kembalinya Kekuatan Moral Mahasiswa

Romantisme yang paling indah bagi seorang mahasiswa adalah keberpihakan kepada kebenaran dan menolak penindasan.

Kembalinya Kekuatan Moral Mahasiswa
DOK
drg Rustan Ambo Asse SpPros, Alumni Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Hasanuddin 

Oleh: drg Rustan Ambo Asse SpPros
Alumni Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Hasanuddin

Semoga kita masih ingat amanah Reformasi 21 tahun. Ketika itu gelombang gerakan moral force serupa palu godam yang menghantam pemerintah Orde Baru. Dua poin tuntutan yang paling krusial waktu itu adalah supremasi hukum dan hapuskan korupsi kolusi dan nepotisme (KKN). Tahun 1998 bagi Indonesia adalah momentum yang paling dahsyat dalam sejarah Indonesia. Betapa tidak 32 tahun dalam cengkeraman Orde Baru tapi para mahasiswa memilih jalan tengah ‘reformasi’ dan terhindar dari revolusi berdarah.

Korupsi adalah kejahatan kemanusiaan paling primitif dalam eksistensi sebuah negara. Ketika semangat ke-Indonesia-an dalam balutan NKRI secara struktural dan kultural tidak hadir melawan korupsi maka keadilan bagi rakyat Indonesia seperti mimpi buruk. Produk undang-undang dan segala regulasi yang tujuannya untuk mensejahterakan rakyat baik dari eksekutif maupun legislatif hanya akan menjadi ‘lip service’, bumbu-bumbu demokrasi omong kosong belaka. Pada akhirnya akan menjadi ‘konflik’ laten dan ‘bara api dalam sekam’ yang bermuara kepada reproduksi wacana perubahan sosial.

Revisi UU KPK

Geliat teriakan anti penindasan kini bangkit, mahasiswa Indonesia dari berbagai Perguruan Tinggi serentak turun ke jalan sejak 23 September 2019. Poin tuntutan yang menolak revisi UU KPK seolah memberi isyarat kontraproduktif dengan label kepada mahasiswa era milineal yang apatis dan mati suri.

Sejarah hari ini kembali mencatat bahwa ruh gerakan moral force telah ditakdirkan sejak dari dulu lahir dari rahim mahasiswa, tumbuh dari pergesekan wacana dan kegelisahan-kegelisahan para pemuda Indonesia.

Revisi UU KPK adalah pertanda buruk dikorupsinya amanah reformasi. Aroma paranoid dan kembalinya pemberantasan korupsi menjadi ranah eksekutif dan tidak independen akan membuat keberadaan KPK terancam lemah.

Poin revisi kewenangan KPK mengeluarkan SP3 berpotensi mengubur kasus-kasus megah korupsi seperti BLBI, kasus Century, E-KTP, Hambalang dan potensi kasus-kasus besar jika terjadi korupsi pada masa yang akan datang.

Moral Force

Romantisme yang paling indah bagi seorang mahasiswa adalah keberpihakan kepada kebenaran dan menolak penindasan. Identitas mahasiswa sejatinya adalah nilai-nilai ideal yang abadi dalam dirinya. Fungsi sebagai moral force dan agen of change akan selalu hadir. Suatu ketika kekuatan itu seakan hilang ditelan masa namun bisa tiba-tiba muncul sebagai gelombang kekuatan berbahaya pada momentum tertentu.

Setiap generasi memiliki zaman dan era serta tantanganya sendiri. Setiap generasi akan memeluk zamannya sendiri-sendiri. Demikianlah mahasiswa, mereka akan terus melakukan transformasi sosial, memupuk optimisme demi negeri tercinta, Indonesia.

Alumni Reformasi '98

Apa tugas mereka para demonstran '98? Apakah romantisme masa lalu itu mengiringi gerak langkah mereka? Apakah teriakan lantang di jalanan yang menolak penindasan, antikorupsi, serta sederetan amanah reformasi mengiringi jejak-jejak juang mereka?

Narasi besar tentang keadilan, menolak penindasan, tidak memperkaya diri, peduli kepada yang lemah dan tidak korupsi dan tidak mendukung koruptor semoga masih menjadi penuntun jejak juangnya ketika mereka kini telah menjadi anggota DPR, menjadi ASN, menjadi staf ahli DPR, menjadi bupati, menjadi gubernur, jurnalis, politisi, dokter, menjadi dosen dan sebagainya. Bahkan ketika menjadi pengkader atau senior-senior di kampus-kampus mereka sendiri.

Kita berharap jiwa heroik dan idealisme serta semangat keperpihakan kepada kebenaran dapat menjadi harapan baru bagi masa depan Indonesia. Dalam kaitannya dengan regenerasi bangsa, modernisasi dan globalisasi dalam era revolusi Industri 4.0 yang penuh dengan unsur mekanistik pada akhirnya akan menguji setiap anak bangsa, terutama bagi mereka generasi reformasi '98.

Generasi reformasi '98 tentu memiliki tanggung jawab sejarah. Amanah reformasi perlu mendapat pengawalan dari berbagai pihak, terutama bagi mereka yang menjadi pelaku sejarah. (*)

Editor: syakin
Sumber: Tribun Timur
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved