Tribun Wiki
TRIBUNWIKI: Iran Boikot Kejuaraan Dunia Judo, Simak Sejarah Judo
Judoka Indonesia bernaung di bawah PJSI (Persatuan Judo Seluruh Indonesia) yang bernaung di bawah KONI (Komite Olahraga Nasional Indonesia).
Penulis: Nur Fajriani R | Editor: Ina Maharani
Secara umum, budo ('bu-' artinya prajurit) adalah pengembangan dari bujutsu yang telah disesuaikan dengan zaman sekarang (untuk olahraga, bukan berkelahi).
Judo sebagai cabang olahraga
Judoka perempuan
Kaum perempuan pertama kali diterima sebagai judoka pada tahun 1893, walaupun pada saat itu kaum olahragawati dianggap sebelah mata di dalam struktur masyarakat Jepang.
Meskipun demikian, kemajuan yang dramatis ini hanya berlangsung sebentar, karena pada hakikatnya mereka masih dijauhkan dari pertandingan-pertandingan resmi, dengan alasan keselamatan fisik.
Setelah Perang Dunia II, judo bagi laki-laki dan perempuan diperkenalkan keluar Jepang.
Persatuan Judo Eropa dibentuk pada tahun 1948, diikuti dengan pembentukan Federasi Internasional Judo pada tahun 1951.
Judo menjadi salah satu cabang olahraga resmi Olimpiade pada Olimpiade Tokyo 1964 di Tokyo, Jepang.
Judoka perempuan pertama kali berlaga di Olimpiade pada Olimpiade Barcelona 1982 di Barcelona, Spanyol.
Tingkatan Judo dan warna ikat pinggang
Dimulai dari kelas pemula (shoshinsha) seorang judoka mulai menggunakan ikat pinggang dan disebut berada di tingkatan kyu kelima.
Dari sana, seorang judoka naik tingkat menjadi kyu keempat, ketiga, kedua, dan akhirnya kyu pertama.
Setelah itu sistem penomoran dibalik menjadi dan pertama (shodan), kedua, dan seterusnya hingga dan kesepuluh, yang merupakan tingkatan tertinggi di judo.
Meskipun demikian, sang pendiri, Kano Jigoro, mengatakan bahwa tingkatan judo tidak dibatasi hingga dan kesepuluh, dan hingga saat ini karena hanya ada 15 orang yang pernah sampai ke tingkat dan kesepuluh, maka tidak ada yang pernah melampaui tingkat tersebut.
Warna ikat pinggang menunjukkan tingkatan kyu ataupun dan.
Pemula, kyu kelima dan keempat menggunakan warna putih; kyu ketiga, kedua, dan pertama menggunakan warna cokelat; warna hitam dipakai oleh judoka yang sudah mencapai tahapan dan, mulai dari shodan, atau dan pertama, hingga dan kelima.
Judoka dengan tingkatan dan keenam hingga dan kesembilan menggunakan ikat pinggang kotak-kotak bewarna merah dan putih, walaupun kadang-kadang juga menggunakan warna hitam.
Tingkatan teratas, dan kesepuluh, menggunakan ikat-pinggang merah-putih atau merah.
Judoka perempuan yang telah mencapai tahap dan ke atas memiliki garis putih yang memanjang di bagian tengah ikat pinggang hitam mereka.
Lantai Judo
Pertandingan judo diselenggarakan di atas karpet atau matras (tatami) berbentuk segi empat (belah ketupat) dengan sisi 14,55 meter atau sepanjang 8 tatami yang dijajarkan.
Selain dialasi matras, kebanyakan dojo judo sekarang menggunakan pegas di bawah lantai palsu, untuk menahan benturan akibat bantingan.
Di awal pertandingan, kedua judoka berdiri di tengah-tengah tepat di belakang garis sejajar dengan diawasi oleh juri.
Sebelum dimulai, kedua judoka tersebut menunduk memberi hormat satu sama lain dari belakang garis.
Di sudut atas dan bawah belah ketupat duduk dua orang hakim, dan di belakang masing-masing judoka, di luar arena yang dibatasi matras, duduk judoka-judoka dari regu yang sama, dan duduk pula seorang pencatat waktu dan seorang pencatat nilai.
Pertandingan diselenggarakan di dalam arena di dalam matras yang dibatasi oleh (dan termasuk di dalamnya) garis merah (jonai).
Luas arena tersebut adalah 9,1 meter persegi dan terdiri dari 50 tatami.
Waza atau teknik judo yang dipakai di arena di luar garis merah (jogai) tersebut dianggap tidak sah dan tidak dihitung.
Seragam Judo
Seragam (gi) longgar yang dikenakan seorang judoka (judogi) harus sesuai ukurannya.
1. Jaket
Bagian bawah jaket menutupi pantat ketika ikat pinggang dikenakan.
Antara ujung lengan dengan pergelangan tangan selisih 5–8 cm. Lengan baju panjangnya sedikit lebihnya dari dua pertiga panjang lengan.
Karena jaket ini dirancang untuk menahan benturan tubuh akibat dibanting ke lantai, maka bahannya umumnya lebih tebal dari seragam karate (karategi) atau bela diri yang lain.
2. Ikat pinggang
Ikat pinggang harus cukup panjang sehingga menyisakan 20–30 cm menjuntai pada masing-masing sisi.
Celana
Celana yang dipakai sedikit longgar.
Antara ujung celana dengan pergelangan kaki selisih 5–8 cm.
Celana panjangnya sedikit lebihnya dari dua pertiga panjang kaki.
3. Mengenakan seragam
Celana dikenakan dan tali celana dikencangkan.
Jaket kemudian dikenakan dengan sisi kiri di atas sisi kanan.
Kenakan ikat pinggang dengan cara meletakkan tengah-tengah sabuk di depan perut, kemudian kedua ujung sabuk diputar melingkar di belakang pinggang kembali ke depan; pegang kedua ujung sabuk, lalu talikan dengan kedua ujung berakhir secara horisontal.
Talikan dengan kencang sehingga tidak lepas pada saat pertandingan.
Peraturan pertandingan
Pertandingan judo diadakan antara perorangan dan juga beregu.
Beberapa kompetisi membagi pertandingan menjadi 8 kategori, berdasarkan berat tubuh.
Kompetisi lain membagi pertandingan berdasarkan tingkatan dan, umur, dan lain-lain.
Ada juga yang tidak mengenal pembagian apapun.
Satu pertandingan judo berlangsung selama 3-20 menit.
Pemenang ditentukan dengan jalan judoka pertama yang meraih satu angka, baik dengan bantingan maupun kuncian.
Jika setelah waktu yang ditentukan tidak ada pemain yang memperoleh satu angka, pemain dengan nilai lebih tinggi menang atau pertandingan berakhir seri.
Judo, sebagaimana olahraga lain dari Jepang, diselenggarakan dengan penuh tata krama.
Kedua judoka membungkuk memberi hormat satu sama lain pada awal dan akhir pertandingan.
Awal pertandingan
Judoka menghadap satu sama lain, meluruskan telapak kaki mereka di belakang garis masing-masing di tengah-tengah arena dan berdiri tegak lurus.
Lalu mereka saling membungkuk pada saat yang sama.
Kemudian mereka maju satu langkah, diawali dengan kaki kiri, dan berdiri dengan posisi kuda-kuda alami (shizen hon tai).
Sang juri atau wasit lalu berkata "Mulai" (Hajime) dan pertandingan pun dimulai.
Akhir pertandingan
Kedua judoka kembali dalam posisi kuda-kuda alami dan menghadap satu sama lain satu langkah di depan garis mereka masing-masing.
Juri kemudian mengumumkan hasil pertandingan, dan kedua kontestan mundur selangkah ke belakang garis dimulai dengan kaki kanan.
Mereka lalu membungkuk lagi dan keluar dari arena.
Judo di Indonesia
Judoka Indonesia bernaung di bawah PJSI (Persatuan Judo Seluruh Indonesia) yang bernaung di bawah KONI (Komite Olahraga Nasional Indonesia).
Tokoh-tokoh Judo Indonesia antara lain Ferry Sonneville, pebulu tangkis yang aktif membidani lahirnya PJSI; Perry G. Pantouw, juara SEA Games 1983; Kresna Bayu, Maya Fransisca, Ira Purnamasari, Aprilia Marzuki, Peter Taslim, atlet judoka Indonesia.
Pada tahun 1970-an dan 1980-an dikenal nama-nama atlet seperti Bambang Prakasa, Ceto Cosadek, Raymond Rochili dsb.
Di bawah kepemimpinan Ir. Soehoed saat itu, Judo merintis didirikannya training center untuk pelatnas di Ciloto, Puncak, Jawa Barat.
Saat itu di Jakarta sangat berkembang berbagai perguruan Judo, seperti misalnya Judo Waza di Jakarta Selatan (dipimpin oleh alm. Robert Judono/ Robert Jung), Perguruan Judo Tiang Bendera di Jakarta Utara, dan sebagainya.
Saat ini perkembangan Judo di daerah juga mulai pesat. Semisal perdepokan Judo Mataram Bantul (Wiramataram) di bawah bimbingan Guru Om Tjong (Budy Tanudjaya) dan dipimpin oleh Dain Santoso meraih 8 emas di kejuaraan Judo daerah DIY.
Tentang Judo:
Nama: Judo
Negara asal: Jepang
Pencipta: Kano Jigoro
Praktisi terkenal: Mitsuo Maeda, Kyuzo Mifune, Keiko Fukuda, Masahiko Kimura, Gene LeBell, Anton Geesink,
Yasuhiro Yamashita, Neil Adams, Hidehiko Yoshida, Vladimir Putin, Kosei Inoue
Orang tua: Bervariasi seperti dari jujutsu, secara prinsip Tenjin Shin'yō-ryū, Kito-ryū, dan Fusen-ryū
Olahraga olimpik: sejak 1964 (Putra) dan 1992 (Putri)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/ndingan-cabang-olahraga-judo-di-pekan-olah.jpg)