Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Rizal Fauzi Sebut Razia Buku di Makassar Sangat Berlebihan

Pengamat Literasi Kota Makassar, Rizal Fauzi mengatakan, apa yang dilakukan oleh sekelompok organisasi tersebut sangar berlebihan.

Penulis: Sukmawati Ibrahim | Editor: Imam Wahyudi
Rizal Fauzi
Pengamat Literasi Kota Makassar, Rizal Fauzi 

TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR- Sejumlah netizen mengkritik sikap Kelompok Brigade Muslim Indonesia (BMI) yang melakukan razia buku di Makassar, Sulawesi Selatan (Sulsel), Sabtu (3/8/2019).

Aksi tersebut menjadi viral di sosial media (medsos) Instagram.

Bukannya mendapat komentar simpatik dari sejumlah akun medsos, aksi ini justru dihujani kritikan pedas.

Pengamat Literasi Kota Makassar, Rizal Fauzi mengatakan, apa yang dilakukan oleh sekelompok organisasi tersebut sangat berlebihan.

Mengejutkan! IAS Sebut None - Aliyah Paket Pilwali Makassar 2020

Ada yang Berani Nyinyirin Nikita Mirzani, Bilang Bajunya Norak Ketemu Lenny Kravitz, Tahu Harganya?

 Tetiba Mayangsari Komentari Gini Maia Estianty, Salah Marsha Aruan & Aaliyah Massaid Dimana?

"Razia buku ini sebenarnya adalah hal yang berlebihan. Pada prinsipnya semua buku yang beredar itu harus terdaftar dan diverifikasi oleh perpustakaan nasional baru bisa terbit ISBN," katanya melalui rilisnya, Senin (5/8/2019).

"Jadi terkait isi itu sudah di verifikasi sebelumnya, apa lagi yang bisa masuk gramedia pasti ber ISBN," lanjutnya.

Kalau hanya persoalan buku komunisme kemudian dikritik, Rizal Fauzi yang juga Penggagas Maros Kota Literasi ini menilai hal ini sebagai konsep ilmiah saja.

"Perlu juga pelurusan terkait pemahaman komunisme itu sendiri, karena yang dilarang adalah pemahaman PKI," ujarnya.

Adapun terkait sosialisme dan marxisme, ialah antitesa dari kapitalisme.

Mengejutkan! IAS Sebut None - Aliyah Paket Pilwali Makassar 2020

Ada yang Berani Nyinyirin Nikita Mirzani, Bilang Bajunya Norak Ketemu Lenny Kravitz, Tahu Harganya?

 Tetiba Mayangsari Komentari Gini Maia Estianty, Salah Marsha Aruan & Aaliyah Massaid Dimana?

Jadi tidak serta merta dilarang, tapi dijadikan salah satu referensi utama dalam kajian ilmu sosial.

Namun secara khusus, lanjut Rizal Fauzi memang perlu ada pengawasan terkait buku khususnya yang berkaitan dengan sejarah.

"Karena banyak orang yang berkepentingan mengubah sejarah, karena itu berdampak besar pada politik," paparnya.

"Seperti jargon sejarah adalah milik para pemenang. Jadi yang pemerintah perlu mendorong lahirnya referensi sejarah bangsa yang ilmiah yang menjadi konsumsi rakyat Indonesia," tambahnya.

Ia menambahkan, razia semacam ini sulit untuk dilarang, jika budaya literasi masyarakat masih rendah. (*)

Langganan Berita Pilihan 
tribun-timur.com di Whatsapp 
Via Tautan Ini http://bit.ly/watribuntimur

Follow akun instagram Tribun Timur:

Silakan Subscribe Youtube Tribun Timur:

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved