OPINI
OPINI: Cegah Air Minum Botol Kemasan ke Stadion
Saya melihat di denah stadion, posisi duduk itu ternyata berada pada deretan kedua dari pinggir lapangan. Wow.
Penulis: CitizenReporter | Editor: Ansar
TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Tiket nonton antara FC Internazionale (Inter) Milan vs Parma di Stadion Siro Milan, Italia, 27 Oktober 1996, masih saya simpan baik-baik sebagai kenangan.
Di tiket yang tertulis dalam bahasa Italia, “memerintahkan” saya harus duduk di “Settore” T nomor 1.
Saya melihat di denah stadion, posisi duduk itu ternyata berada pada deretan kedua dari pinggir lapangan. Wow.
Bagaimana tidak mendapatkan tempat duduk yang sangat “terhormat” seperti itu, wong tuan rumah kunjungan kami ke berbagai objek tambang marmar di Italia atas ajakan Pak Ande Abdul Latief itu adalah President Inter Milan.
Bedanya Gaya Gibran Rakabuming saat Tunggangi Motor Royal Enfield Harga Rp 98 Juta, Laki Banget!
Lowongan Kerja Lulusan SMA SMK - PT Petrokimia Gresik Terima Karyawan, Daftar Online, Sisa 4 Hari
Digugat Mantan Pacar Rp 408 Juta karena Putus, Wanita Ini Balik Tuntut Biaya Air Minum dan Sewa WC
Saya mengetahui itu ketika akan diterima di sebuah kantor, pada pintu masuk sebelah kiri, terpampang selembar bendera Inter bewarna biru strep, Benak saya mengenali itu, bendera Inter Milan.
Serta merta saya membisiki Pak Ande, minggu ini ada pertandingan Inter Milan. Tetapi saya tidak tahu siapa lawannya.
Usai mengunjungi Venesia dengan menumpangi mobil kapasitas 22 orang, kami meluncur langsung menuju Stadion San Siro Milan.
Setelah menurunkan di tengah jalan guide kami yang pendukung AC Milan.
Saya kemudian tahu, pantang salah satu penggemar suatu klub akan menyaksikan pertandingan klub lain.
Apalagi Inter Milan merupakan tim satu kota dengan AC Milan dan kerap terlibat dalam bentrok derby.
Lantaran kami telambat, tempat duduk terhormat yang tertera pada tiket masuk yang tidak pernah saya tahu berapa harganya itu, tak dapat kami isi.
Terpaksa, kami berombongan langsung naik ke tribun atas.
Bedanya Gaya Gibran Rakabuming saat Tunggangi Motor Royal Enfield Harga Rp 98 Juta, Laki Banget!
Lowongan Kerja Lulusan SMA SMK - PT Petrokimia Gresik Terima Karyawan, Daftar Online, Sisa 4 Hari
Digugat Mantan Pacar Rp 408 Juta karena Putus, Wanita Ini Balik Tuntut Biaya Air Minum dan Sewa WC
Yang menarik saya perhatikan, ketika kami tiba di depan pintu gedung stadion, bawaan kami digeledah habis.
Ttidak boleh ada satu pun air kemasan botol bisa lolos. Yang bawa kamera syuting juga dicegah.
Dasar orang Indonesia yang suka berkelit, selalu berusaha minta kebijakan dari petugas pintu.
Petugas pintu akhirnya membolehkan kami membawa masuk air minuman kemasan itu dengan catatan.
Termasuk beberapa teman reporter yang membawa kamera syuting bisa lolos setelah diberi pengertian dengan menggunakan bahasa “internasional”, isyarat.
“Anda boleh bawa minumannya, tetapi tolong buka penutupnya,” katanya dengan bahasa Italia yang kami tangkap dari gerak tangan dan gestur tubuhnya.
Tidak ada pilihan lain, semua teman yang membawa minuman di botol harus mengikuti perintah petugas pintu, Di bawah plototan mata mereka, kami masing-masing membuka penutup botol air minum mineral yang masih “perawan” itu.
Mudah kita tebak, mengapa petugas pintu memaksa kami membuka penutup botol air minum mineral tersebut.
Pertama, jika penonton berulah karena kesebelasan kesayangannya kalah, air minuman di dalam botol itu jika dilemparkan tidak akan terbang jauh-jauh.
Bedanya Gaya Gibran Rakabuming saat Tunggangi Motor Royal Enfield Harga Rp 98 Juta, Laki Banget!
Lowongan Kerja Lulusan SMA SMK - PT Petrokimia Gresik Terima Karyawan, Daftar Online, Sisa 4 Hari
Digugat Mantan Pacar Rp 408 Juta karena Putus, Wanita Ini Balik Tuntut Biaya Air Minum dan Sewa WC
Kedua, penonton dipaksa harus minum habis air tersebut sebelum tumpah karena jatuh misalnya.
Bagaimana dengan penonton kita di Indonesia? Adakah dilakukan pemeriksaan seperti ini? Petugas pintu hanya memeriksa penonton yang memiliki tiket atau tidak, sementara bawaannya mungkin tidak pernah digeledah sama sekali.
Akibatnya, ketika penonton yang merasa dirugikan tim kebanggaan dan mulai tidak terkendali, botol-botol dan bawaannya yang sudah dipersiapkan untuk melakukan aksinya “ambil bagian”.
Dalam banyak aksi keributan pertandingan sepakbola di Indonesia yang bersumber dari penonton, pemicu awalnya adalah penonton yang melempar.
Yang dilempar itu kebanyakan botol air minum kemasan dan batu atau kayu yang sengaja dibawa penonton dan tidak terjaring pemeriksaan petugas pintu.
Ke depan, selain dilakukan pemeriksaan ketat di pintu masuk, juga harus disosialisasikan lebih awal melalui media mengenai larangan membawa barang-barang ini ke stadion.
Di pintu-pintu masuk pun ditempel pengumuman larangan itu.
Petugas pintu juga melalui pelantang (pengeras suara) juga terus mengingatkan penonton tentang larang membawa barang yang berpotensi digunakan untuk melampiaskan amarah penonton tersebut.
Mungkin tindakan preventif terhadap bawaan penonton ini sama sekali tidak akan menghilangkan aksi anarkis penonton.
Tetapi paling tidak dapat meminimalisasi dan mencegah ekses-ekses yang terjadi akibat penonton yang murka.
Bedanya Gaya Gibran Rakabuming saat Tunggangi Motor Royal Enfield Harga Rp 98 Juta, Laki Banget!
Lowongan Kerja Lulusan SMA SMK - PT Petrokimia Gresik Terima Karyawan, Daftar Online, Sisa 4 Hari
Digugat Mantan Pacar Rp 408 Juta karena Putus, Wanita Ini Balik Tuntut Biaya Air Minum dan Sewa WC
Klub dan PSSI juga hendaknya mengeluarkan aturan tentang hal ini supaya ada payung hukumnya.
Saya kira, melalui kerja-kerja kecil ini dapat menciptakan pertandingan sepakbola yang nyaman dan aman ditonton.
Pesan ini pun harus disampaikan terus menerus kepada penonton. Soal kalah dan menang adalah suatu hal yang lumrah dalam suatu pertandingan.
Kita boleh mendukung suatu tim dengan sportif dan kritis dan itu sudah diperlihatkan oleh suporter Makassar.
Buktinya, jika PSM bermain kurang bagus, mereka juga kritik.
Sebaliknya kalau bermain bagus, mereka puji dan puja serta beri apresiasi yang maksimal.
Kalau kita tidak menata seluruh elemen pendukung persepakbolaan tanah air, prestasi yang kita mimpikan akan tetap jauh “panggang dari api”.
Problem persekapbolaan kita terlalu kompleks.
Hampir seluruh komponen yang terlibat dalam suatu pertandingan mengusung masalah dan problem sendiri-sendiri.
Namun yang paling merepotkan adalah bagaimana menciptakan suasana pertandingan yang nyaman dan aman ditonton.
Ya, kasus penundaan laga ini pun gara-gara persoalan nyaman dan aman itu, iya kan? (*).
Ditulis: M Dahlan Abubakar, Penulis Buku Ramang Macan Bola
Langganan Berita Pilihan
tribun-timur.com di Whatsapp
Via Tautan Ini http://bit.ly/watribuntimur
Follow akun instagram Tribun Timur:
Silakan Subscribe Youtube Tribun Timur:
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/ilustrasi-psm-makassar-vs-persija-bertanding.jpg)