OPINI In Memoriam Ichsan Yasin Limpo

Punggawa, Bungkusan Sisa Makanan dan Traktir Pengunjung

Diperbincangan singkat itulah, saya merasakan ketegarannya. Ia menerima secara ikhlas hasil Pilgub, dan tak punya niat menggugat ke MK

Punggawa, Bungkusan Sisa Makanan dan Traktir Pengunjung
dok.tribun
Arif Saleh bersama Ichsan Yasin Limpo di suatu hari menjelang Pilgub Sulsel 2018

Benar bahwa Ichsan Yasin Limpo adalah manusia biasa. Punya banyak kekurangan, dan juga kekhilafan di masa lalu. Tapi di mata saya pribadi, ia punya banyak pembeda. Ia memiliki kepekaan sosial yang begitu tinggi. Ia sangat perhatian terhadap orang-orang yang tulus berjuang bersamanya.

Sekali pun saya harus jujur mengakui jika sebelum saya mengenalnya lebih jauh, saya termasuk tak pernah sejalan untuk afiliasi politiknya. Namun sebuah kebanggaan dan pengalaman berharga bagi saya bisa merasakan kehangatan, sekaligus menjadi “murid” barunya.

**
Di catatan ini yang merupakan bagian dari pengalaman pribadi yang saya tulis secara bersambung untuk mengenang kepergian beliau, penulis akan mengurai potret kepeduliannya yang mungkin tak banyak yang tahu.

Meski seorang temannya yang baru juga bersentuhan langsung dengannya pernah menulis sisi lain tentang IYL soal sisa makanan, tapi saya juga akan menyinggung sedikit. Karena ini kesan pertama yang saya ikut rasakan ketika awal-awal bersamanya di tahun 2017.

Sehari setelah saya diperkenalkan oleh pimpinan untuk ikut melekat, saya pun menjalankan tanggung jawab mendampingnya. Saat itu, saya ikut kemana pun ayah empat anak ini pergi untuk urusan pencalonannya di Pilgub Sulsel.

Karena masih jauh dari tahapan pendaftaran pilgub, tentu jadwal kegiatannya lebih banyak melakukan konsolidasi persiapan. Seperti ketemu tim ahli, maupun elit-elit politik yang banyak dilakukan di tempat tertutup. Termasuk di ruangan hotel.

Hari itu, saya ikut menemaninya makan malam. Tempat yang dipilih adalah salah satu restoran di Hotel Claro. Ia memesan beberapa ekor ayam goreng kesukaannya. Lengkap dengan ikan bakar, plus sayur dan menu lainnya.

Kami pun menikmati hidangan makanan itu. Beberapa potong ayam goreng tersisa, dan ikan bakar ada beberapa bagian tidak tersentuh. Termasuk tumis sayur, juga ada yang tidak mencicipinya. Dan tentu nasi putih, kebanyakan tersisa.

Usai makan, pelayan datang membersihkan meja tempat kami makan. Betapa kagetnya saya, ketika IYL meminta pelayan itu membungkus sisa makanan yang tidak tersentuh. Dalam hati kecil saya, masa kandidat gubernur dan mantan bupati dua periode meminta sisa makanan dibungkus?

Hitungan menit setelah itu, makanan yang dibungkus sudah disiapkan pelayan restoran. Ajudan pribadinya, cekatan mengambil dan membawa bungkusan itu untuk dimasukkan ke mobil pribadi IYL. Usai itu, kami pun meninggalkan restoran tersebut. Saya mendampinginya balik ke rumah sederhananya yang kira-kira memakan waktu 10 menit dari restoran.

Halaman
1234
Editor: AS Kambie
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved