OPINI In Memoriam Ichsan Yasin Limpo

Punggawa, Bungkusan Sisa Makanan dan Traktir Pengunjung

Diperbincangan singkat itulah, saya merasakan ketegarannya. Ia menerima secara ikhlas hasil Pilgub, dan tak punya niat menggugat ke MK

Punggawa, Bungkusan Sisa Makanan dan Traktir Pengunjung
dok.tribun
Arif Saleh bersama Ichsan Yasin Limpo di suatu hari menjelang Pilgub Sulsel 2018

Diperbincangan singkat itulah, saya merasakan ketegarannya. Ia menerima secara ikhlas hasil Pilgub, dan tak punya niat ingin menggugat penyelenggara ke Mahkamah Konstitusi (MK).

“Ini jalan terbaik yang ditunjukkan Tuhan, Rif. Allah pasti punya rencana lain,” ucapnya dengan suara sangat datar.

Di samping tempat duduk saya, ia juga menyampaikan jika pasca-penghitungan, tidak punya keinginan lagi menjadi gubernur. Dan itu saya tangkap, ia tak ingin maju lagi di Pilgub Sulsel lima tahun kedepan. Saya sedikit tahu, kalau jika kata keluar dari mulutnya, maka pantang untuk ditarik kembali.

Lalu, ia juga meminta saran saya mengenai beberapa tokoh partai politik di pusat yang menawarinya maju menjadi caleg DPR RI. Termasuk caleg DPRD Provinsi, agar ia bisa ditempatkan sebagai ketua DPRD jika partai tersebut menjadi pemenang Pileg di Sulsel.

Meski saya tergolong baru mengenalnya lebih dekat, tapi saya sedikit bisa memahami keinginannya. Saya pun menyampaikan saran, jika jalan terbaik untuknya tidak maju menjadi caleg, dan fokus mengurus kemanusiaan.

Dan benar, ia memang tidak sreg dengan tawaran maju menjadi caleg. “Betul itu Dik. Mending saya fokus membantu orang-orang yang selama ini berjuang untuk saya, sekaligus mengurus masalah kemanusiaan,” urainya.

Di tempat itu pula, saya melihatnya berusaha menahan tangis. Matanya berkaca-kaca, dan suaranya tersendat. Ia mengingat ketulusan sebagian tim dan relawan, serta masyarakat yang menginginkannya menjadi gubernur.

“Inilah saatnya saya membalas mereka. Nanti selesai tahapan pilgub, kita buatkan perencanaan,” katanya yang membuat air mata saya menetes, sekalipun saya sudah berusaha untuk memendamnya.

Hitungan menit setelah itu, ia langsung pamit untuk keluar. Kami pun berpelukan, sambil tangannya menampuk pundak saya menyampaikan terima kasih. “Terima kasih atas bantuannya selama ini yah Dik,” ujarnya sebelum naik ke mobil pribadinya.

Kisah saya di atas, hanya bagian kecil tentang pengalaman dan kehangatan yang saya rasakan selama ikut menemaninya kurang lebih setahun di Pilgub Sulsel. Kendati, saya baru berinteraksi langsung dengannya setelah ditempatkan oleh kantor saya, Jaringan Suara Indonesia (JSI) di tahapan pilgub. Tapi saya sepertinya sudah dekat puluhan tahun.

Halaman
1234
Editor: AS Kambie
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved