OPINI

Merayakan Ramadan sebagai Bulan Lintas Iman

Kehadiran Ramadan sebagai bulan yang mulia bagi umat Islam justru memberi warna baru dalam relasi antar iman di Indonesia.

Merayakan Ramadan sebagai Bulan Lintas Iman
CITIZEN REPORTER
Syamsul Arif Galib, Dosen Studi Agama UIN Alauddin Makassar 

Fenomena ini mungkin akan mendapat kritik bagi mereka yang berpandangan eksklusif dalam beragama. Sebaliknya, bagi para pegiat gerakan lintas iman, hal ini justru menjadi sebuah momen langka di mana ummat berbeda iman dapat bertemu dan bercengkrama bersama. Harus diakui, meski Indonesia adalah sebuah negara yang majemuk dengan mayarakat yang menganut iman yang berbeda-beda, namun ruang-ruang pertemuan lintas iman dianggap masih kurang atau bahkan cendrung ditabukan. Bulan Ramadan akhirnya hadir sebagai momen untuk mendobrak kebekuan tersebut.

Ramadan sebagai bulan lintas iman sesungguhnya bukan hal yang baru, di negara-negara di mana Muslim adalah minoritas, Ramadan menjadi bulan spesial bagi umat Muslim untuk mengenalkan iman mereka kepada yang berbeda iman. Di Amerika dan Australia, meski buka puasa bersama dilakukan di mesjid, namun peserta yang diundang hadir bukan cuma Muslim semata namun juga non-Muslim.

Momen ini akhirnya menjadi kesempatan bagi non-Muslim untuk melihat lebih dekat apa itu Islam dan berkesempatan bertanya dan mengetahui lebih banyak tentang Islam. Momen ini menjadi pembuka dialog sekaligus upaya meminimalisir Islamophobia di kalangan non-Muslim.

Inklusivitas Keberagamaan

Dalam masyarakat yang majemuk, sikap keberagaman yang inklusif adalah pilihan. Sedang sikap keberagaman yang eksklusif justru menjadi ancaman. Mereka yang eksklusif dalam beragama cenderung akan membangun jarak dengan mereka yang berbeda iman meski mereka adalah satu sebagai sebuah bangsa.

Eksklusivisme agama memungkinkan tumbuhnya prejudice atas agama yang lain dikarenakan tidak ada ruang bagi penganut iman yang berbeda untuk bertemu dan saling mengetahui.

Buka puasa lintas iman meski terlihat sederhana adalah sebuah upaya menghadirkan ruang-ruang lintas iman bagi iman yang berbeda. Pertemuan antara penganut iman yang berbeda memungkinkan mereka merasakan pengalaman lintas iman yang selama ini tidak pernah mereka rasakan.

Setidaknya, ada tiga level penting bagi masyarakat yang multi-faith yakni; Pemahaman Lintas Iman, Pengalaman Lintas Iman dan juga Kerjasama Lintas Iman. Ketiga hal ini tidak akan pernah bisa terjadi jika ruang untuk bertemu itu tertutup. Beruntunglah karena bulan Ramadan dapat menjadi momentum membangun ruang temu lintas iman tersebut.

Penting untuk membangun kesadaran bahwa, iman yang baik bukanlah iman yang tertutup dan menutup diri pada yang berbeda. Atau bahkan mengisolasi iman yang berbeda. Hal itu dengan sangat jelas ditunjukkan Sang Nabi saat pertama kalinya beliau hijrah ke Madinah melalui Piagam Madinah. Nurcholish Madjid (2004) menyebutkan bahwa, sebagaimana yang termuat dalam Piagam Madinah, negara-bangsa didirikan atas dasar penyatuan seluruh kekuatan masyarakat menjadi bangsa yang satu tanpa membeda-bedakan antara kelompok keagamaan yang ada. Kaum Yahudi adalah satu ummah bersama kaum beriman. Yahudi punya hak sepenuhnya atas agama mereka, dan Muslim punya hak sepenuhnya atas agama mereka.

Apa yang telah ditunjukkan Nabi seharusnya dapat menjadi contoh dan pedoman bagi kita untuk bernegara. Sebagai bangsa Indonesia, iman yang berbeda adalah fakta sosial yang seharusnya tidak menjadi penghalang bagi kita untuk bersama. Pertemuan-pertemuan lintas iman menjadi penting untuk digalakkan guna mencegah semakin menguatnya kecendrungan eksklusivitas keberagaman.

Halaman
123
Editor: syakin
Sumber: Tribun Timur
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved