Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

OPINI

OPINI - Caleg Milenial, Ancaman Politisi Tua?

Bila caleg milenial unggul dalam membangun perkawanan, maka politisi tua teruji membangun dan merawat jaringan. Jaringan tentu melampaui perkawanan.

Editor: syakin
Abdul Karim 

Oleh: Abdul Karim
Peneliti Akar Foundation

Surplus generasi milenial bangsa ini tak hanya dinikmati kelompok bisnis dan negara dengan mengakomodir mereka sebagai tenaga kerja dan pegawai negeri. Surplus kaum milenial bangsa ini tak juga semata dinikmati oleh kaum milenial sendiri dengan terobosan usaha kreatif. Tetapi kehadiran mereka secara massal juga berdampak baik bagi parpol kita.

Kita simak parpol tak lagi kekurangan stock caleg. Parpol kompak mengusung caleg milenial. Sebagian besar parpol menempatkan caleg milenial pada daftar kursi yang diperebutkan, entah itu parpol berbau nasionalis, maupun parpol beraroma agamais.

Tak heran, populasi caleg milenial untuk merebut kursi di DPR RI ribuan jumlahnya, sekira 1. 543 orang (Kompas, 11/3/2019). Untuk perebutan kursi di parlamen lokal juga tak sepi caleg milenial.

Mengapa caleg milenial diperebutkan? Sejauh ini yang bisa diamati adalah karena jumlah pemilih milenial juga membludak. Secara nasional lebih dari 42 juta orang. Dilevel provinsi Sulsel pemilih milenial lebih dua juta pemilih. Parpol menganggap ini peluang. Parpol cukup kuat insting politiknya hingga bersigap cepat merekrut caleg milenial. Di alam fikiran parpol, “milenial memilih milenial”.

Spirit itu juga dipicu oleh sistem pemilu kali ini, yakni sistem terbuka. Sistem ini mensyaratkan suara terbanyak adalah yang utama. Parpol yakin, pemilih milenial memilih caleg milenial pula. Di sini, caleg milenial adalah jala besar untuk meraup suara gembung. Bagaimana politisi tua? Apakah fenomena ini mengancam posisi caleg tua (senior)?

Bisa iya, bisa pula tidak. Potensi ancaman itu bisa saja terbit sebab selain karena jumlah pemilih pemula memang tinggi, juga karena caleg milenial memiliki mobilitas yang tinggi. Mereka bisa hadir dimana saja dan kapan saja.

Di samping itu, caleg milenial terampil menggunakan IT dalam bersosialisasi, khususnya via medsos. Distribusi pengaruh dan propaganda mereka kepada khlayak dapat ditunaikan sepanjang waktu 24 jam. Ide dan foto mereka dengan mudah disebar via medsos. Bahkan tidak sedikit di antara mereka mampu mendesain instrumen-instrumen sosialisasi via tekhnologi komunikasi. Secara finansial, semua ini terbilang murah. Dalam konteks ini, politisi tua tertinggal seribu langkah.

Perkawanan sosial caleg milenial juga adalah sebuah amunisi penting dalam bertanding. Sebab kecenderungan kelompok milenial yang mudah terkoneksi, entah di dunia maya, entah di dunia nyata merupakan kukuatan nyata. Dalam membangun koneksi ini tidaklah rumit. Mereka tak memerlukan teori komunikasi politik yang ribet.

Hanya dari mulut ke mulut, atau dari jemari yang menari-nari diatas layar smartphone, mereka dapat memperluas perkawanannya. Tetapi dalam taraf tertentu, kehadiran mereka tak serta merta mampu menyingkirkan politisi tua/caleg tua. Politisi tua tak mudah tersingkir dan tersungkur di panggung politik. Mengapa?

Pertama, watak politik kita sememangnya adalah watak politik orang tua. Kultur politik kita adalah kultur politik tua. Bangsa ini telah lama didoktrin dengan politik kaum tua dibawah panji besar Orba.

Hal itu telah berpaut dengan kebudayaan kita; kaum tua masih menjadi patron sosial dalam hidup hari-hari kita sampai kini. Berseberangan orang tua sama tak lazimnya bersebarangan dengan pilihan mereka di TPS. Dalam konteks ini, kehadiran politisi tua takkan goyah. Mereka tetaplah lestari.

Kedua, bila caleg milenial unggul dalam membangun perkawanan, maka politisi tua teruji membangun dan merawat jaringan. Jaringan tentu melampaui perkawanan. Contoh mini, jaringan kekerabatan. Politisi tua cukup mudah mengkonsolidasikan jaringan seperti ini. Mereka terlatih. Tapi caleg milenial tertatih-tatih membangun jaringan semenjana ini.

Itulah sebabnya, seringkali kita simak caleg milenial ‘didampingi’ tetua saat turun lapangan. Sebab bisa jadi kehadirannya terdelegetimasi tanpa tetua disisi. Apalagi dalam hal jaringan politik, politisi tua jauh lebih terlatih membangun atau merubuhkan jaringan politik dibanding caleg milenial. Jaringan mereka terbentang luas lintas dapil.

Karenanya, dalam konteks pemilu 2019 ini, kehadiran politisi tua tak punah-punah dipentas politik kita. Lantas, apakah fenomena caleg milenial dan politisi/caleg tua berkonstribusi bagi kemajuan demokrasi kelak? Kita tak boleh over harap.

Sebab pertama, kompetensi caleg milenial masih misteri. Pengetahuan wacana politik demokrasi kebangsaan dan skill kepemimpinan mereka belum teruji. Kedua, latar belakang caleg milenial—khususnya yang diprediksi meraih kursi—tak sedikit jumlahnya berasal dari lingkaran kekuatan jejaring oligarki (Robert Michels; Political Parties [1915], Jeffrey A. Winters; Oligarchy, 2011).

Mereka memiliki—dalam istilah Pierre Bourdie—modal kapital dan sosial yang kuat. Kita mudah meraba apa yang terjadi di parlemen kelak saat mereka duduk. Ketiga, performance politik politisi tua selama ini cenderung pragmatik-normatif.

Politik ‘aman sontosa’ bagi diri dan kaumnya dipelihara dengan ajek. Fungsi-fungsi legislatif tak berjalan secara kreatif-kritis-responsif. Padahal pada masa datang, kita memerlukan terobosan baru dalam demokrasi perwakilan.

Dengan demikian, baik caleg milenial maupun caleg/politisi tua, khususnya dalam konteks lokal bukanlah jaminan akan maju dan membaiknya demokrasi perwakilan kita kelak. Tetapi optimisme tetaplah penting dipatrikan dalam sanubari kita. (*)

Catatan: Tulisan ini telah dipublikasikan juga di Tribun Timur edisi print, Sabtu 17 Maret 2019

Sumber: Tribun Timur
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

Berita Populer

Ayo, ke Timur

 
© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved