OPINI

OPINI - Bahasa Bugis yang Terancam Hilang

Penulis adalah kandidat MA Program Double Major TESOL dan Linguistics Southern Illinois University AS dan Penerima Beasiswa Fulbright Asal Sulsel.

OPINI - Bahasa Bugis yang Terancam Hilang
Arif Balla
Arif Balla 

Hasil studi mereka menunjukkan bahwa telah terjadi pengalihan bahasa (language shifting) dari bahasa Bugis ke bahasa Indonesia pada masyarakat Bugis di Sulawesi Selatan.

Di kota, tingkat pengalihan bahasa cukup tinggi, 46.73 persen. Sedangkan di kampung mencapai 25.20 persen. 

Studi tersebut diadakan di empat kabupaten yang dianggap merepresentasikan bahasa Bugis, yaitu Bone, Sinjai, Sidrap, dan Parepare.

Sinjai mencetak angka pengalihan bahasa cukup tinggi dibandingkan Bone dan Sidrap, dan hanya berada di bawah Pare-Pare.

Di Sinjai, persentasi pengalihan bahasa di kota mencapai 49.26 persen dan 37.32 persen di desa-desa. Sebuah angka yang cukup tinggi untuk tidak menyebutnya mengancam kelestarian bahasa Bugis.

Ada 50 persen lebih orang tua yang memilih berbahasa Indonesia kepada anaknya daripada bahasa Bugis di kota. Persentase ini cukup tinggi, lebih tinggi dari angka rata-rata.

Angka yang cukup tinggi juga ditunjukkan saat anak berkomunikasi di rumah sebanyak 60.95 persen di kota dan 43.48 persen di kampung. Baik di kota ataupun di pelosok anak-anak lebih berbahasa Indonesia daripada bahasa Bugis.

Angka yang sama tingginya terjadi ketika anak berkomunikasi dengan teman di luar rumah.

Mereka yang tinggal di kota lebih memilih berbahasa Indonesia daripada bahasa Bugis sebesar 60.95 persen sedangkan di kampung mencapai 47.11 persen.

Anak menjadi satu variabel penting dalam studi ini. Anak adalah mata rantai penting kelestarian sebuah bahasa.

Halaman
1234
Editor: Jumadi Mappanganro
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved