Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

7 Fakta Hamzah Mamba, Bos Abu Tours Divonis 20 Tahun Penjara: Dari Hidup Susah Hingga Gelimang Harta

Bos Abu Tours, Hamzah Mamba tertunduk lesu usai mendengarkan putusan Majelis Hakim Pengadilan Negeri Makassar

Editor: Ardy Muchlis
TRIBUN TIMUR/SANOVRA JR
CEO Abu Tours Hamzah Mamba mengikuti sidang di Pengadilan Negeri Makassar, Sulsel, Senin (28/1/2019). Hamzah Mamba divonis 20 tahun penjara dengan denda Rp500 juta karena dinilai terbukti melakukan penggelapan dan pencucian uang milik calon jamaah Umrah Abu Tours senilai Rp 1,2 triliun. 

Alfian pun mengajak ke rumahnya yang berada di daerah Pasar Ikan Morangke. Hal lucu, ketika ia melewati kanal menuju rumah temannya dengan kendaraan bajai super ribut.

"Ta'bangai itu istriku pas lewat kanal, duh rantasanya di sana, baunya lagi. Istiriku bilang, ini mi Jakarta ayah? Ka lebih bagus di Makassar meki," ujarnya dengan logat Makassar kental.

Sesampai di rumah Alfian, ia inap di rumah yang ukurannya kecil. Cukup untuk lima orang saja. Namun, temannya itu mempersilakan Hamzah, istri, dan bayinya tinggal.

Muh Hamzah Mamba hanya sepekan jual ikan di Muara Angke, Jakarta, 2007. Bukan“bau pesing” membuat Hamzah “angkat basket” dari bekas perkampungan yang didirikan Arung Palakka dan pasukan Bugis dari Kerajaan Gowa itu.

Hamzah, yang baru sepekan hijrah ke Jakarta dari Makassar setelah jualan Coto Makassar, tidak tahan jual ikan karena tak tega berebut pelanggan. Hati kecilnya tak terima jika hanya gegara uang Rp 50 ribu saja saja seperti harus merelakan nyawa memperebutkan pembeli.

"Saat itu saya menjual es teler kembali. Hahaha back to es teler lagi deh. Luar biasa perjuangan kala itu, bayangkan saya jualan dari Morangke ke Masjid Istiqlal. Saya dorong itu gerobak. Namun Alhamdulillah omzet bisa Rp 100 ribu per hari," jelas Hamzah.

Namun hidup dengan uang segitu di Jakarta cuma cukup makan dan biaya kontrakan. Apalagi ia merasa tidak enak dengan temannya yang rumahnya dihinggapi.

"Enam bulan saya jualan es teler dengan gerobak. Namun tidak sengaja saya lewat di markas TNI AL Marinir Cilandak. Saya bertemu keluarga yang seperti saudara kandung saya sendiri," ujar anak tunggal itu.

Hamzah panggil dia kakak, anggota TNI berpangkat Kopral merasa tersentuh melihat kerjaannya kala itu. Ia pun memberi jalan keluar, dengan meminjamkannya modal sekitar Rp 10 juta.

"Alhamdulillah kakak saya itu memberi modal untuk berjualan di dekat markas TNI. Lebar lokasinya 3 meter kali 3 meter. Tidak susah lagi saya mendorong gerobak. Usahanya tetap es teler," beber anak yatim piatu diusia 9 tahun itu.
Ia pun pamit dengan Alfian sahabatnya. Dan mencari kontrakan di dekat lokasi usahanya.

"Kakak saya itu meminjamkan uang Rp 10 juta dari koperasi. Sebulan saya harus bayar Rp 1 juta. Termasuk sewa tempatnya," katanya.

Gerobak yang menemaninya selama ini dibongkar. Kayu, papan, kaca, alat-alat es teler pun dilengkapi menjadi lemari penyimpan bahan. terpal dilebarkan, tempat duduk kayu diadakan.

"Alhamdulillah, tidak sampai lima bulan, usaha bangkrut lagi. Saya pun bingung harus membayar hutang koperasi ke kakak saya bagaimana," katanya.

Hamzah sangat beruntung, kopral yang dipanggil kakak itu tidak mempermasalahkannya. "Gajinya Rp 3 juta, bayar cicilan Rp 1 juta. Ia ikhlas memberi, namun biaya kontrakan tetap saya yang bayar. Kakak saya bilang, urusmi dirimu, Dik, tidak bisa meka bantuki," katanya menirukan sang Kopral.

Ia pun berserah diri kembali kepada Allah. "Tunjukkanlah jalan keluar untukku ya Allah. Tidak ada lagi apa-apa yang saya punya. Selepas itu saya ke warnet masih Rp 2 ribu sejam itu hari. Saya cari loker, eh yang ketemu poster pameran di Yogyakarta," katanya.

Ia berniat ke Yogyakarta, namun tidak memiliki uang. Ia pun balik ke kakaknya yang berpangkat kopral itu untuk memberi pinjaman terakhir kalinya. "Alhamdulillah dikasi Rp 1,1 juta itu hari. Saya pun naik kereta ke Yogyakarta, bersama adek ipar saya yang datang dari Makassar ke Jakarta membantu saya jualan es teler," katanya.

7. Punya 9 Perusahaan
Di bawah bendera Abu Corp, Hamzah mengendalikan bisnis umrah, haji, kuliner, production house, percetakan, dan yayasan amal sekolah tahfidz dan pesantren anak yatim. Kini memiliki 34 kantor cabang di 14 provinsi.

Hingga Agustus 2017, Abutours sudah memberangkatkan 51 ribu lebih jamaah. Lewat paket promo dan reguler, animo warga berumrah bersama perusahaan ini meningkat dua kali lipat dari tahun ke tahun.

Abutours mulai memberangkatkan jamaah umrah pada tahun 2011. Awalnya, hanya 100 orang. Setahun kemudian meningkat menjadi 500. Bahkan pada tahun 2013 sudah memberangkatkan 1.500 orang, dan naik 100 persen menjadi 3.000 orang pada tahun 2014. Lonjakan signifikan terjadi pada tahun 2015, 7.000 orang.

Abutours seakan tak terbendung. Lewat agen hingga pelosok desa, Abutours terus panen jamaah. Pada tahun 2016, dilaporan memberangkatkan 14 ribu jamaah. Hingga bulan ke-7 2017, Hamzah sudah memberangkatkan 25 ribu lebih jamaah.

Bisnis utamanya Abu Tours and Travel. Ini ditunjang bisnis lain seperti Al Haram Media Group yang bergerak di usaha cetak, online, dan radio.

Ada juga Alabaik Group yang mengelola kafe dan resto. Silverhawk Alabaik Café mengelola empat usaha, Alabaik Resto, Lobby Cafe & Resto, CHOPPER Eatery & Coffee, dan UBOX Foodcourt.

Hamzah juga sudah merambah dunia pendidikan. Lewat Lembaga pendidikan Yayasan Pesantren Islam Al Ikram, dia memiliki tiga unit usaha, Alika Printing, Almira Travel, dan Amanah Plus.(*)

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved