7 Fakta Hamzah Mamba, Bos Abu Tours Divonis 20 Tahun Penjara: Dari Hidup Susah Hingga Gelimang Harta
Bos Abu Tours, Hamzah Mamba tertunduk lesu usai mendengarkan putusan Majelis Hakim Pengadilan Negeri Makassar
5. Jatuh Bangun Jualan Es Teler
Tak dijelaskan tahun berapa Hamzah jadi tukang cuci piring di Pizza. Dia mengaku resign dari Pizza karena ingin mengembangkan diri, apalagi usianya masih muda. Ia ingin berwirausaha sendiri.
"Modal saya dari gaji saat bekerja di Pizza Hut. Saya jualan es teler saat itu. Buat gerobak dan jualan ke sana kemari. Alhamdulillah untungnya bisa buat makan sehari-hari," katanya.
Namun, usahanya berbuah manis, kala Ramadan tiba. Temannya sewaktu kecil, ia panggil dengan nama Aan. Menawarkan tempat untuk dia stay berjaualan.
"Waktu itu Aan menawarkan saya tempat untuk berjualan di Pantai Losari. Saya bilang kan biasa penjual di situ digusurki. Tetapi karena ini semacam bazzar sampai 30 hari makanya saya terimaki," kata Hamzah sapaan kerabatnya.
Sehari, ia bermodalkan Rp 50 ribu bisa untung Rp 250 ribu. Daganganya cepat habis sebelum buka puasa tiba kala Ramadan 2006 silam.
"Hingga 30 hari, untung saya hingga Rp 60 juta. Saya sujud syukur. Allah memberi jalan, Alhamdulillah," ujarnya.
Ia pun memutuskan menikah, dengan teman SMA-nya dulu di SMA Tamalate Jl Tanggul Patompo Makassar.
6. Jual Coto Makassar Hingga ke Yogyakarta
Di puncak bisnis es telernya, Hamzah mencoba bisnis baru. Tahun 2006, uang hasil dagang es teler itu diputarnya kembali. Ia membuka usaha Coto Makassar.
Usaha kuliner Coto Makassar yang dirintisnya awal 2007 di Kota Daeng hanya seumur jagung. Di bulan ketiga, usaha Coto Makassar, modal hasil dagang es teler Rp 60 juta, tutup. Dari Rp 60 juta hasil jual es teler, tersisa Rp 1,3 juta.
"Alhamdulillah tiga bulan buka, usaha saya bangkrut. Hanya menyisahkan Rp 1,3 juta saja. Saya tidak down. Saya berdoa kepada Allah untuk dibukakan pintu rezeki," katanya.
Hamzah bangkrut. Coto Makassar yang dia rintis tutup.
"Saya dan istri pun berniat hijrah. Jakarta menjadi pelabuhan saya. Meski saya tidak tahu bakal tinggal dimana di sana. Namun keyakinan untuk berhijrah pun saya lakukan bersama istri dan anak saya yang pertama berusia 12 hari," katanya.
Tekad Hamzah sudah bulat. Uang Rp 1,3 dia gunakan membeli dua tiket kapal laut, Rp 500 ribu. Sisanya dipakai untuk sewa kontrakan dan makan nantinya di ibu kota negara.
"Dua hari dua malam kami di kapal. Hanya makan dan minum pembagian dari kapal untuk kelas ekonomi," ujar lelaki yang tidak tamat di jurusan Teknik Mesin UNM itu.
Singkat cerita, ia dan istri sampai di pelabuhan Tanjung Priok. Ketika turun, keduanya bingung mau ke mana.
"Alhamdulillah, pas turun dari kapal, saya dan istri duduk sebentar di terminal penumpang. Tiba-tiba saya ingat teman sekolah di SMA Tamalate di Makassar, namanya Alfian yang berprofesi sebagai juru parkir," jelas Hamzah.
Hamzah menelepon Alfian. Syukur ada respons. "Halo Alfian di manako, Kawan? Waduh adaka di Jakarta ini, samaka istriku, mauka ke tempatmu nah. Sekalian saya cari-cari kerjaan di sana," kata Hamzah menirukan perbicangannya via handphone kala itu.