Berkah Sungai Mandar Bagi Panduru' Batu di Polman
Sungai Mandar melintasi beberapa kecamatan di daerah ini. Diantaranya Kecamatan Tubbi Taramanu, Alu, Limboro hingga Tinambung.
Penulis: edyatma jawi | Editor: Imam Wahyudi
Setelah menemukan posisi pas untuk mengambil batu, Sahabuddin lalu menyelam. Ia menyelam beberapa detik untuk mengumpulkan batu ke dalam keranjang.
Hal ini dilakukan berulang kali hingga keranjangnya penuh. Setelah penuh, batu kerikil itu diangkat ke atas gerobak yang ditempatkan di pinggiran sungai.
Dibutuhkan hingga belasan keranjang batu untuk bisa memenuhi gerobak tersebut. Setelah gerobak penuh, batu lalu diangkut hingga puluhan meter ke pinggiran sungai. Batu itu dikumpul di lokasi yang jauh dari jangkauan air pasang.
Tiap harinya, Sahabuddin bersama warga lain mengumpulkan satu kubik batu kerikil. Untuk mencukupi itu, dibutuhkan sepuluh kali pengangkutan batu menggunakan gerobak.
"Biasa juga dua kubik, kalau sampai siang disini," ujarnya.
Kata Sahabuddin, satu kubik batu kerikil itu dijual pada kontraktor proyek seharga Rp 80 ribu. Biasanya kontraktor itu datang mengangkut batu yang sudah dikumpulkan menggunakan truk.
Ia mengatakan, batu itu terkumpul hingga empat hari sebelum diangkut. Kadang pula tersimpan lama kemudian datang pembeli.
Namun yang jadi kendala saat proyek infrastruktur sedang sepi. Kendala lainnya, batu kadang hanyut saat air sungai meluap.
Meski begitu, Sahabuddin tetap bersyukur menjalani aktivitas tersebut. Baginya menjadi penambang batu sungai merupakan pekerjaan sampingan yang cukup membantu penghasilan keluarga.
Apalagi Sahabuddin memiliki dua anak yang butuh biaya pendidikan. Keduanya masih duduk di bangku Sekolah Dasar (SD).
Untuk memenuhi kebutuhan keluarga, Sahabuddin juga beternak kambing. Untuk mengurusi ternaknya, Sahabuddin memanfaatkan waktu di sore hari.
"Pagi ambil batu, sore ambil makanan kambing," pungkasnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/krikile.jpg)