Berkah Sungai Mandar Bagi Panduru' Batu di Polman
Sungai Mandar melintasi beberapa kecamatan di daerah ini. Diantaranya Kecamatan Tubbi Taramanu, Alu, Limboro hingga Tinambung.
Penulis: edyatma jawi | Editor: Imam Wahyudi
Laporan Wartawan Tribun Timur, Edyatma Jawi
TRIBUNPOLMAN.COM, POLMAN - Sungai Mandar merupakan salah satu daerah aliran sungai (DAS) terbesar di Kabupaten Polewali Mandar (Polman), Sulawesi Barat (Sulbar).
Sungai Mandar melintasi beberapa kecamatan di daerah ini. Diantaranya Kecamatan Tubbi Taramanu, Alu, Limboro hingga Tinambung. Bahkan sungai ini memiliki hulu yang berada di Kabupaten Majene.
Berdasarkan data di website Polman.go.id, terdapat enam DAS di daerah ini. Diantaranya Sungai Maloso, Matakali, Binuang, Silopo, Timbo dan Sungai Mandar.
Sungai Maloso merupakan yang terbesar dengan luas 99.299,51 hektar. Sementara Sungai Mandar merupakan yang terbesar kedua dengan luas 48.034,74 hektar.
Sungai Mandar juga sarat nilai histori. Salah satunya penanaman Mandar yang kelak menjadi identitas kedaerahan dan kesukuan memiliki benang merah dengan sungai ini.
Sejak dulu, aktivitas warga di daerah ini tak terlepas dari Sungai Mandar. Sungai ini menjadi sumber air utama sekaligus jalur transportasi.
Selain itu, sungai ini juga menjadi lahan penghidupan bagi penambang batu tradisional. Dalam istilah lokal Mandar disebut panduru' batu atau dapat diartikan pengambil batu kerikil.
Aktivitas penambangan batu di Sungai Mandar diyakini berlangsung sudah sejak lama.
Seperti yang kini digeluti Sahabuddin, warga Desa Lembang-Lembang, Kecamatan Limboro, Polman.
Sahabuddin merupakan satu diantaranya banyaknya warga yang menggeluti aktivitas sebagai penambang batu di Sungai Mandar.
Ia dan warga lainnya, mengambil batu dari sungai menggunakan alat seadanya. Hanya dibutuhkan keranjang plastik untuk menampung batu sekaligus menyaring air sungai. Serta gerobak untuk mengangkut batu dan dikumpulkan di pinggiran sungai.
Aktivitas menambang batu ini dilakukan Sahabuddin tiap pagi. Mulai pukul 08.00 wita, Sahabuddin telah berangkat dari rumahnya menuju Sungai Mandar. Tak lupa membawa seluruh peralatan yang dibutuhkan.
Sesampainya di Sungai Mandar, ia menempatkan gerobak di pinggir sungai. Ayah dua anak ini lalu membawa keranjang dan langsung menceburkan diri ke sungai.
"Mandiu tomi tau (sekaligus mandi juga,red)," ujar Sahabuddin, Kamis (10/1/2019).
Setelah menemukan posisi pas untuk mengambil batu, Sahabuddin lalu menyelam. Ia menyelam beberapa detik untuk mengumpulkan batu ke dalam keranjang.
Hal ini dilakukan berulang kali hingga keranjangnya penuh. Setelah penuh, batu kerikil itu diangkat ke atas gerobak yang ditempatkan di pinggiran sungai.
Dibutuhkan hingga belasan keranjang batu untuk bisa memenuhi gerobak tersebut. Setelah gerobak penuh, batu lalu diangkut hingga puluhan meter ke pinggiran sungai. Batu itu dikumpul di lokasi yang jauh dari jangkauan air pasang.
Tiap harinya, Sahabuddin bersama warga lain mengumpulkan satu kubik batu kerikil. Untuk mencukupi itu, dibutuhkan sepuluh kali pengangkutan batu menggunakan gerobak.
"Biasa juga dua kubik, kalau sampai siang disini," ujarnya.
Kata Sahabuddin, satu kubik batu kerikil itu dijual pada kontraktor proyek seharga Rp 80 ribu. Biasanya kontraktor itu datang mengangkut batu yang sudah dikumpulkan menggunakan truk.
Ia mengatakan, batu itu terkumpul hingga empat hari sebelum diangkut. Kadang pula tersimpan lama kemudian datang pembeli.
Namun yang jadi kendala saat proyek infrastruktur sedang sepi. Kendala lainnya, batu kadang hanyut saat air sungai meluap.
Meski begitu, Sahabuddin tetap bersyukur menjalani aktivitas tersebut. Baginya menjadi penambang batu sungai merupakan pekerjaan sampingan yang cukup membantu penghasilan keluarga.
Apalagi Sahabuddin memiliki dua anak yang butuh biaya pendidikan. Keduanya masih duduk di bangku Sekolah Dasar (SD).
Untuk memenuhi kebutuhan keluarga, Sahabuddin juga beternak kambing. Untuk mengurusi ternaknya, Sahabuddin memanfaatkan waktu di sore hari.
"Pagi ambil batu, sore ambil makanan kambing," pungkasnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/krikile.jpg)