Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Opini

OPINI: Mengelola Risiko Bencana

Penulis adalah alumnus Fakultas Kedokteran Unhas dan Master of Emergency and Disaster Management, Auckland University of Technology (AUT), New Zealand

Editor: Jumadi Mappanganro
handover
dr Ihsan Nasir 

Oleh: Ihsan Nasir
Alumnus Fakultas Kedokteran Unhas dan Master of Emergency and Disaster Management, Auckland University of Technology (AUT), New Zealand

Dalam kurun waktu hanya dua bulan telah terjadi dua kejadian bencana alam. Tepatnya gempa bumi yang cukup besar di Indonesia.

Kejadian bencana tersebut tidak hanya mendatangkan dampak sosial-ekonomi yang luas, namun yang terburuk adalah munculnya korban jiwa yang jumlahnya hingga ribuan.

Belum hilang dari linimasa media cetak maupun sosial mengenai rentetan gempa yang meluluhlantakkan Pulau Lombok pada Juli lalu, beberapa hari lalu (28/09/2018) terjadi lagi gempa dengan kekuatan M7,7 yang berpusat di daerah Donggala, Sulawesi Tengah.

Tidak pelak, dua kejadian gempa yang jarak waktunya berdekatan ini baru menyadarkan banyak orang bahwa Indonesia merupakan daerah dengan potensi kejadian gempa yang besar.

Banyak orang yang mengaku terkejut sekaligus khawatir setelah mengetahui bahwa Indonesia sangatlah rawan terhadap efek gerakan patahan bumi ini.

Baca: Dulu Berseteru, Mulan Jameela dan Maia Estianty Akhirnya Tampil Sepanggung, Ini Terjadi Selanjutnya

Namun, besarnya potensi gempa di Indonesia bukanlah pengetahuan yang baru muncul kemarin sore.

Risiko geofisika ini memiliki hubungan erat dengan letak Indonesia yang berada tepat di atas pertemuan lempeng Asia dan Australia dan telah dikemukakan banyak pakar (Djalante, 2016).

Lalu, mengapa kebanyakan masyarakat kita tidak menyadari risiko bencana ini sejak lama?

Penting diingat bahwa Indonesia adalah salahsatu negara yang dianggap sebagai ‘gudangnya’ bencana.

Selain gempa, terdapat banjir, tanah longsor, kebakaran, dan kekeringan, yang semuanya mengisi daftar panjang jenis bencana alam di Indonesia.

Sehingga, tentu saja menarik bagi kita mencermati bagaimana masyarakat Indonesia mempersepsikan risiko bencana-bencana tersebut.

Mempersepsikan Risiko
Bencana alam dapat mempengaruhi perilaku masyarakat yang terimbas dampak bencana karena kejadian tersebut hampir pasti menghadirkan efek traumatis.

Menurut pakar sosiologi bencana Quarantelli (2008), seseorang yang mengalami kejadian bencana akan memandang daerah dimana ia mengalami kejadian tesebut sebagai daerah yang tidak aman dari jenis bencana tertentu.

Anggaplah seseorang yang tinggal di daerah yang mengalami bencana banjir tentu akan menghadirkan persepsi di kepalanya bahwa daerah yang ditinggalinya tersebut adalah daerah yang rawan terhadap banjir.

Baca: Evi Masamba Pingsan di Pelaminan, Ini Yang Terjadi Kemudian Berikut Kesaksian Tetamu

Istilah yang digunakan para pemerhati dan akademisi dalam bidang manajemen krisis adalah ‘risk perception’ atau persepsi terhadap risiko.

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved