Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Opini

OPINI: Mengelola Risiko Bencana

Penulis adalah alumnus Fakultas Kedokteran Unhas dan Master of Emergency and Disaster Management, Auckland University of Technology (AUT), New Zealand

Editor: Jumadi Mappanganro
handover
dr Ihsan Nasir 

Persepsi jenis ini biasanya mendatangkan perilaku antisipatif terhadap risiko banjir.

Berbeda dengan reaksi perilaku yang mengiringi emosi atau takut yang sifatnya lebih spontan, persepsi terhadap risiko manghasilkan dua jenis pertimbangan: fight atau flight (menghadapi atau menjauhi bencana).

Fight-or-flight merupakan reaksi manusia terhadap kondisi yang dianggap mengancam atau membahayakan dirinya.

Karena ketidaktahuannya, seseorang akan mempertimbangkan untuk mendekat atau memilih lari menjauh ketika melihat sesuatu yang bergerak di balik semak belukar.

Reaksi ini sering dianggap sebagai salah satu reaksi adaptasi manusia terhadap lingkungan yang paling purba karena berkembang sejalan dengan perilaku bertahan hidup nenek moyang kita terdahulu.

Reaksi adaptasi ini kemudian berevolusi seiring dengan kemampuan manusia memahami alam semesta.

Reaksi Bencana
Berkaitan dengan bencana, reaksi fight-or-flight sangat ditentukan oleh waktu, pengalaman bencana dan kerentanan yang dimiliki masing-masing individu.

Banyak tidaknya waktu yang dimiliki seseorang yang terancam bencana berbanding lurus dengan jumlah waktu yang dimilikinya untuk berpikir dan menimbang lebih jauh reaksi apa yang akan diambil selanjutnya.

Seseorang yang menghadapi bencana yang sama berulang kali juga akan mengembangkan mekanisme tersendiri dalam menghadapi jenis bencana tersebut.

Baca: FKG Unhas Lakukan Perawatan Orto Cekat Gratis untuk Anak Pascaoperasi Bibir Sumbing

Contoh paling jelas dari repetisi ini adalah bencana banjir di lokasi rawan banjir.

Menurut Roanne Van Voorst dalam bukunya “Tempat Terindah di Dunia” (2016), orang-orang sekitar Bantaran Kali mengembangkan sendiri mekanisme pertahanan diri dan harta-bendanya dari banjir yang kerap datang.

Terakhir, kerentanan individu juga sangat berperan penting dalam proses reaksi terhadap bencana.

Lebih lanjut dibukunya, Van Voorst menunjukkan betapa kemiskinan dan rendahnya taraf hidup orang-orang yang tinggal di Bantaran Kali membuat mereka tidak memiliki pilihan flight.

PRB
Mengurangi risiko bencana dan membangun ketangguhan dalam menghadapi bencana merupakan salahsatu komitmen dalam Sendai Framework 2015-2030 dalam mengurangi risiko bencana global.

Dalam usaha mengurangi risiko bencana di Indonesia, integrasi dan kerjasama lintas sektoral sangat diperlukan dalam membangun ‘bahasa’ yang sama dalam mempersepsikan risiko bencana.

Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved