Tribun Wiki
TRIBUNWIKI: Ada Apa di 19 Oktober 1669? Inikah Dasar Hari Jadi Sulsel?
Setelah Perang Makassar berakhir pada 24 Juni 1669, Kompeni dan Raja Gowa berpacu dengan waktu menghimpun sekutu.
Saat Sultan Hasanuddin berhasil membawa sebagian peralatan perang ke Benteng Kale Gowa, Mangkubumi Kerajaan Gowa Karaeng Karunrung yang masih tetap menyala semangatnya menyingkir dari Istana Bontoala ke Benteng Ana’Gowa di Taeng, di seberang Sungai Jeneberang.
Leonard Y Andaya dalam Buku Warisan Arung Palakka Sulawesi Selatan Abad Ke-17, Penerbit Ininnawa, 2004, menulis, “Bagi kebanyakan orang di Sulawesi Selatan, jatuhnya Benteng Sombaopu pada tanggal 24 Juni 1669 menjadi symbol dimulainya era baru di semenanjung ini.”
Menurut Andaya, jatuhnya Benteng Sombaopu menyadarkan semua pihak bahwa kesuksesan hanya bisa diperoleh dengan bantuan pihak lain. Tidak pernah terpikirkan sebelumnya bahwa akan ada kekuatan yang bisa mengalahkan Kerajaa Gowa pada masa itu.
“Bone dan Belanda menyadari bahwa tanpa masing-masing pihak , tidak ada yang akan mampu mencapai sukses gemilang ini. Bahkan setelah jatuhnya Benteng Sombaopu, kedua penguasa atasan ini (Belanda dan Bone) masih harus bergantung satu sama lain,” tulis Andaya.
Lima hari setelah jatuhnya Benteng Sombaopu, 29 Juni 1669, Sultan Hasanuddin menyerahkan kekuasaan ke putranya, I Mappasomba Sultan Amir Hamzah. Menurut Mattulada, usaha pertama ialah melakukan hubungan dengan Kerajaan Mataram untuk meminta bantuan.
Sementara usaha pertama Speelman, menurut Andaya, setelah menguasai Benteng Sombaopu adalah penegasan kembali berlakunya Perjanjian Bungaya.
“Bagi Kompeni, Perjanjian Bungaya adalah dokumen hukum yang menurut Hukum Internasional Eropa membenarkan hak khusus yang baru saja mereka peroleh untuk berkuasa di dalam dan di luar Sulawesi Selatan. Namun bagi Arung Palakka, perjanjian itu adalah dokumen simbolis yang menurut praktik perjanjian masyarakat Sulawesi Selatan, menegaskan hierarki kekuasaan baru di pulau ini,” jelas Andaya.
Kompeni dan Raja Gowa berpacu dengan waktu. Tapi usaha I Mappasomba, menurut Mattulada, sia-sia karena keretakan di internal pembesar Kerajaan Gowa-Tallo semakin tak terelakkan. Karaeng Tallo dan Karaeng Lengkese sudah terikat kepada perjanjian ‘pasal-pasal tambahan’.
Menurut Andaya, Kerajaan Tallo paling pertama mengakui “berlakunya kembali Perjanjian Bungaya”, yakni pada 15 Juli 1669. Kemudian menyusul Kerajaan Gowa pada 27 Juli 1669.
Namun menurut Mattulada, pada 27 Juni 1669, terjadi lagi perjanjian baru untuk perdamaian. Perjanjian ini dibubuhi zegel dan tandatangan Sultan Hasanuddin mewakili Raja Gowa yang sedang sakit. Juga Karaeng Karunrung membubuhkan tandatangannya dan sekali di bawah sumpah Al Quran perdamaian itu ditetapkan.
Demikianlah! Nyaris tak ada lagi perang besar di Sulawesi Selatan perjanjian pemberlakukan kembali “Perjanjian Bungaya” itu pada Juli 1669. Andaya hanya mencatat, pada 1 Agustus 1669, pasukan Wajo dan Lamuru terlibat petempuran dengan pasukan Kompeni dan pasukan Arung Palakka. Namun pertempuran ini dimenangkan telak Kompeni-Arung Palakka.
Setelah perang Wajo-Lamuru vs Kompeni-Arung Palakka itu, Andaya menyebut Speelman semakin yakin bahwa tidak akan ada lagi mantan sekutu Kerajaan Gowa yang mau bertindak sia-sia melakukan perlawanan. Itulah sebabnya, pada 29 Agustus 1669, dia mengirim utusan ke Kerajaan Wajo untuk menawarkan permintaan maaf atas terjadinya perang yang baru lewat.
Menurut Andaya, permintaan maaf Speelman akhirnya diterima oleh Kerajaan Wajo. Dan Mattulada menulis, kemenangan Speelman di Makassar disambut dengan gembira para pembesar Kompeni. Lalu pada tanggal 20 Desember 1669, dilakukan pesta besar-besaran di Batavia.
Menurut Mattulada, Karaeng Tallo dan Karaeng Lengkese datang dengan 400 pengikut ke Batavia mengikuti pesta itu. Karaeng Bisei hadir mewakili ayahandanya, Raja Gowa I Mappasomba bersama 140 orang pengikut. Karaeng Karunrung mengirim putranya mewakili dirinya. Arung Palakka datang dengan 800 orang pengiring.
Hadir juga anak Raja Ternate bernama Kalamata yang menikah dengan saudara Karaeng Tallo bersama 150 orang pengikutnya. Pokonya, tulis Mattulada, pada upacara itu hadir tidak kurang dari 1.500 orang.