Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Dari FTI UMI, Buku Karya Anak Makassar Dibedah Mantan Bupati-Akademisi di Kampus IAIN Kendari

Sejumlah narasumber hadir membedah buku karya alumni Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) Unggulan Tinggi Moncong Gowa ini.

Penulis: Munawwarah Ahmad | Editor: Mahyuddin
Munawwarah/tribuntimur.com
Mantan Presiden Mahasiswa Telkom University (Tel-U) Bandung, Aidil Afdan Pananrang, melanjutkan roadshow bedah bukunya di kampus Institut Agama Islam Negeri (IAIN), Kendari, Sulawesi Tenggara (Sultra), Sabtu (02/06/2018). 

TRIBUN-TIMUR. COM, MAKASSAR - Mantan Presiden Mahasiswa Telkom University (Tel-U) Bandung, Aidil Afdan Pananrang, melanjutkan roadshow bedah bukunya di kampus Institut Agama Islam Negeri (IAIN), Kendari, Sulawesi Tenggara (Sultra), Sabtu (02/06/2018).

Setelah sebelumnya dibedah sejumlah narasumber di kampus Fakultas Teknologi Industri Universitas Muslim Indonesia (FTI-UMI) Makassar, Sulawesi  Selatan (Sulsel),  Kamis (31/05/2018). 

Buku kumpulan puisi karya aktivis Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Bandung tersebut berjudul Besok Lusa Langit Tak Lagi Biru. Kegiatan di Kendari digelar pengurus HMI Komisariat IAIN.

"Alhamdulillah antusiasme mahasiswa dan berbagai kalangan di Kendari cukup besar.

Begitupun saat bedah buku di FTI UMI Makassar," kata alumni Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) 6 Makassar ini. 

Baca: Tiga Tema Buku Puisi Aidil Pananrang Dibedah di FTI UMI

Sejumlah narasumber hadir membedah buku karya alumni Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) Unggulan Tinggi Moncong Gowa ini. 

Mereka mantan Bupati Wakatobi dua periode Hugua.

Pemilik buku berjudul Lelaki Itu Hugua tersebut saat ini merupakan calon Gubernur Sultra. 

Ketua LPM IAIN Kendari DR Ihsan dan sastrawan Kendari sekaligus penulis buku Syaifuddin Gani.

Hugua dalam pemaparannya mengapresiasi terbitnya buku tersebut. 

Sebelumnya, pada bedah buku di Makassar yang dihelat pengurus HMI Komisariat TI UMI bekerja sama BEM FTI UMI, Dekan FTI UMI Zakir Sabara Haji Wata senada. 

Baca: FOTO: FTI UMI Luncurkan Sarjana Ahli K3 Umum

"Saya sangat senang. Aidil ini contoh aktivis dan saya lihat banyak aktivis yang saya liat hadir ini. kita akan terus berbuat untuk membangun citra mahasiswa Makassar agar tidak dianggap kasar. Dan kehadiran Aidil, bisa menjadi simbol bahwa anak Makassar tidak hanya melankolis tapi cukup romantis," ujar Zakir Sabara.

Sejumlah narasumber membedah buku milik finalis Stand Up Comedy Akademi (SUCA) 2 Indosiar tersebut di Makassar. 

Mereka Ketua Ikatan Penerbit Indonesia Sulawesi Selatan (Ikapi Sulsel) yang juga Direktur Penerbit De La Macca, Inisiator Komunitas Indonesia Literasi dan Founder Nas Media Pustaka Nur Amin Saleh, dan penulis buku puisi Duka Cita Alif A Putra.

Bedah buku dipandu Rachmi Chaer, penulis buku Kubur Aku dengan Mawar.

Sebelumnya buku karya Aidil diluncurkan di Lantai 2 Eduplex Indonesia, Jl Ir H Djuanda, Bandung, 7 Mei lalu.

Peluncuran buku ini dihadiri Komisaris Utama Bank Rakyat Indonesia (BRI) Andrinof A Chaniago yang juga mantan Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas.

Baca: Aktivis HMI Sekaligus Mahasiswi UMI Bikin Cover Deen Assalam, Suaranya Juga Merdu

 Selain itu Untung Wardjojo, penulis buku puisi “Ujung Waktu”, serta Didi Ruswandi, Kepala Dinas Perhubungan Bandung Didi Ruswandi. 

“Aidil merupakan aktivis pemuda yang multitalenta. Selain menjadi aktivis, setahu saya dia juga seorang pesulap dan stand-up comedian. Dia meluncurkan buku puisi. Puisi-puisi yang ditulispun sangat mendalam dan memiliki pilihan diksi yang sangat menarik,” ujar Andrinof di sela-sela Talkshow pada peluncuran buku ini.

Menurut Aidil Pananrang, buku puisinya tersebut memiliki tiga tema utama. Yaitu tentang pergolakan perasaan, pemikiran ketuhanan dan pergerakan.

"Buku ini dibuat tahun 2014-2018,"kata Aidil Pananrang saat diminta moderator menceritakan secara singkat isi bukunya.

Lewat puisi, Aidil ingin menyadarkan masyarakat tentang pergerakan melalui kata-kata yang lembut. 

Dan mengajak aktivisi hari ini agar mulai memikirkan tentang pergerakan melalui tulisan dengan kata-kata yang ringan dan renyah.

"Dengan bahasa-bahasa yang lebih renyah, media demo masa kini dibungkus puisi," jelas Aidil yang pernah menjadi delegasi Indonesia pada kompetisi teknologi informasi Asia-Pasifik di Bangladesh, akhir 2017 lalu.(*)

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved