Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

OPINI: Percepatan Pertumbuhan Berkualitas

Yang sepatutnya digagas bagaimana menjaga momentum pertumbuhan yang telah dicapai, sambil berupaya memperluas basis pertumbuhan di tengah masyarakat.

Editor: AS Kambie
dok.tribun
Opini AM Sallatu di Tribun Timur cetak edisi Sabtu, 16 September 2017, halaman 10 

AM Sallatu
(dok.tribun)

AM Sallatu
Pengamat Sosial Pemerintahan/Koordinator Jaringan Peneliti Kawasn Timur Indonesia (JiKTI)

TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Tiga kata yang terangkum dalam judul di atas, sungguh membesarkan hati. Bisa diduga sasarannya adalah kehidupan berkembang pesat yang tercermin pada bahagian terbesar masyarakat. Kelestarian lingkungan hidup tetap terjaga, sebagaimana amanah kata berkualitas tersebut.

Dalam ungkapan lain, juga disebut sebagai pembangunan yang inklusif. Seperti itulah wawasan pembangunan dalam kaitan pertumbuhan yang mengemuka saat ini. Akan digagas rumusannya melalui serangkaian rembuk nasional, yang pelaksanaannya juga dilangsungkan di Kampus Tamalanrea Unhas, Kamis, 14/09/2017. Oleh karena itu, patut dicermati dan diberi masukan.

Bila wawasan di atas diinginkan tertuang dalam kerangka rencana strategis, maka dapat dikatakan bahwa pertanyaan strategis awalnya, yaitu ‘where to go’ sudah terjawab. Langkah berikutnya adalah menjawab secara analitik pertanyaan ‘where we are’, dalam pertumbuhan berkualitas ataupun pembangunan yang inklusif. Oleh karena dengan demikian akan mampu diformulasikan jawaban ‘how to get there’. Bagaimana memacu pertumbuhan yang berkualitas tersebut ?

Bila wawasan rencana memang sudah mampu tersusun seperti di atas, maka nampaknya tantangannya hanya konsistensi dan disiplin mengimplementasikan agenda aksinya. Artinya, ada tiga kata lain yang selanjutnya menjadi persyaratan untuk mencapai hasil yang disasar, sebagai peluang untuk mewujudkan hasilnya. Yaitu strategi, konsisten dan disiplin.

AM Sallatu
AM Sallatu

Oleh karena itu gambaran implementasi dalam rumusan perlu tegas dan terukur.
Pasti dan akan segera saja terbayangkan bahwa betapa tidak sederhananya atau bahkan kompleksnya upaya untuk menata dan memanfaatkan peluang di atas untuk mewujudkan kinerjanya. Yaitu, kehidupan bahagian terbesar masyarakat dapat berkembang pesat dengan lingkungan hidup yang terjaga. Apalagi untuk melengkapi daftar pertanyaan dengan, peran dan kontribusi seperti apa yang diharapkan mampu dilakukan oleh masyarakat luas sendiri.

Patut disadari bahwa kemanfaatan pertumbuhan yang pesat dan berkualitas, sepatutnya bukan sekedar sebagai pemberian atau anugerah belaka kepada masyarakat luas. Melainkan menjadi premis bahwa pertumbuhan yang dimaksud sekaligus memuliakan dan mengangkat martabat kehidupan masyarakat luas melalui peran dan kontribusinya. Itulah esensi dari inklusifitas dalam mencapai pertumbuhan melalui pembangunan. Sudah sangat lama dikenal ungkapan bahwa manusia adalahobyek dan sekaligus subyek dari pada pembangunan.

Tema utama yang diangkat dalam seri rembuk nasional dalam bidang ekonomi, industri dan perdagangan nampaknya mengesampingkan pembahasan tentang kelembagaan masyarakat. Itu berarti, kelembagaan masyarakat lebih dipandang sebagai potensi konsumen yang ingin dipacu peningkatan kepuasannya. Dimana peran dan kontribusi dominan nampaknya lebih banyak diberikan pada pelaku ekonomi, bisnis dan keuangan mulai dari yang berskala besar sampai kecil. Percepatan pertumbuhan lebih banyak dilihat dari sisi supply saja.

Padahal bahagian terbesar masyarakat melalui kelembagaannya yaitu rumah tangga adalah juga potensi untuk mencipta nilai tambah. Sejauh ini, di semua sektor ekonomi, memangkelembagaan masyarakat ini sering diabaikan dalam perhitungan penciptaan nilai tambah ekonomi.

Oleh karena nyaris semuanya hanya berada di sekitar cukup untuk hidup (subsistence level). Tetapi betapapun mereka adalah rumah tangga produksi. Dan tidakkah justru mereka ini yang sepatutnya didorong bahkan dipacu perkembangan kehidupan ekonominya, dan tidak semata-mata dianggap sebagai konsumen belaka. Ini adalah jawaban untuk where we are.

Bila dicermati lebih jauh, kelembagaan rumah tangga produksi di atas, dalam wawasan makro maupun mikro, meliputi antara lain 40 persen kelompok masyarakat berpendapatan paling rendah, pengeluaran konsumsinya lebih besar dari pada ukuran pendapatannya, mereka tersebar di seluruh pelosok wilayah, memiliki dan menguasai sumberdaya yang sangat kecil dan tersebar, mereka yang tergolong terabaikan dalam sektor dan komoditas unggulan, dst. Selama ini, kapasitas dan kemampuan mereka nyaris tidak pernah dikonsolidasikan. Dan inilah, suka atau tidak suka, kelemahan bila tidak ingin dikatakan kegagalan strategi pembangunan selama ini, yang sangat mengandalkan pertumbuhan pada yang telah berskala ekonomi.

Teori kompleksitas mengajarkan pada kita semua, jangan pernah abai pada hal-hal yang kecil. Dalam teori ini, merekalah (yang kecil-kecil ini) sebenarnya yang bisa dimaksudkan sebagai kupu-kupu (butterfly). Teori ini mengenalkan pada kita apa yang disebut ‘butterfly effects’. Bahwa secara bersama-sama kepakan kupu-kupu justru mampu menciptakan tsunami. Inilah bahagian dari pada apa yang disebut Sains Baru (New Science).

Sudah perlu ada kesadaran dalam wawasan pembangunan untuk tidak mengabaikan hal-hal kecil atau yang dianggap tidak signifikan. Oleh karena realitas perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi membuktikan bahwa hal-hal kecil pun bisa menghasilkan hal-hal besar dan signifikan. Konon, revolusi industri jilid IV memperlihatkan Grab bisa mematikan perusahaan taxi misalnya.

Jangan ada yang terabaikan sejak dari merumuskan konsepsi dasar percepatan pertumbuhan. Apalagi sudah menjadi realitas yang tak terbantahkan bahwa tidak pernah ada tetesan ke bawah (trickle down effects) dalam pertumbuhan. Sejalan dengan itu, tidak ada pula tetesan perkembangan sektor dan komoditas unggulan bagi lapisan terbesar masyarakat pada skala akar rumput.

Akumulasi kapital berikut kesejahteraan ekonomi yang mengiringinya hanya menggulung ke atas (scrolling-up). Apa yang tersisa bagi kelompok masyarakat lapisan bawah hanya ketimpangan, ketertinggalan dan kemiskinan. Wawasan pembangunan dewasa ini sepatutnya jujur menyikapi realitas yang ada ini.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved