9 Tokoh Sulsel yang Disebut Wali-Wanua Imajiner oleh Taslim Arifin

Menurut Taslim, Arung Palakka adalah pemersatu kerajaan lokal di tanah Boegis Makassar dan pencetus antiperbudakan jauh sebelum Eropah membayangkannya

9 Tokoh Sulsel yang Disebut Wali-Wanua Imajiner oleh Taslim Arifin
dok.tribun
Taslim Arifin, pencetus Wali Wanua Sulsel 

Dilahirkan pada awal abad XX, 14 Mei 1903 di Desa Mangasa-Gowa, dan meninggal dunia pada 12 Agustus 1975. Dia putra Raja Bone XXXII Andi Mappanyukki, ibunya I Batasai Daeng Taco.

“Lahir dari kalangan elite feodal, belajar dan menekuni nilai-[nilai leluhur etno-nationalism Bugis Makassar, mengecap pergaulan dengan kelompok revolusioner, bersentuhan dengan budaya barat yang pragmatis, efisien, dan fungsional,” jelas Taslim.

Dalam catatan Taslim Arifin, Andi Pangerang Pettarani sangat menyayangi rakyatnya melebihi dirinya. Bangsawan ini naik becak ke tukang cukur, tidak naik mobil dinas dan atau mobil pribadi untuk lebih dekat menyapa rakyatnya yang fakir miskin,” ujar Taslim.

Pangerang Pettarani juga pelopor pendidikan moderen di Sulawesi. “Dia mendorong pemuda, termasuk pemuda Achmad Amiruddin meraih pendidikan tertinggi di negeri paling jauh dan paling bermutu kualitas pendidikannya,” ujar Taslim.

Selama menjadi Gubernur Sulawesi, Andi Pangerang Pettarani memimpin pulau ini yang merdeka berhubungan dengan pemimpin nasional Soekarno dengan kepala tegak, menyatu dan memperjuangkan kepentingan rakyat di daerahnya, tanpa harus berseberangan.

“Dia tidak dibesarkan oleh partai, tidak pula dipilih melalui pemilihan langsung, apalagi dibela dan dicukongi oleh pemilik modal. Cukongnya adalah hati nurani yang merupakan bahagian modal sosial Bugis Makassar. Dia, sang pemimpin yang mengendalikan yang besar dan melindungi yang kecil. Kemanunggalan elite pemerintahan dan rakyat jelata, melalui teladannya, tercipta di Sulawesi, dan menjadi contoh bagi para pemimpin nasional pada zamannya,” jelas Taslim.

Jenderal M Jusuf
Tokoh legendaris keenam adalah Jenderal M Jusuf. Taslim Arifin menulis, lahir dari kalangan feodal menengah, memiliki nasionalisme yang 24 karat, dan dikenal sebagai seniman politik yang menghantar fase transisi aman Bangsa Indonesia dan memiliki peran strategis dalam mengendalikan pancaroba perubahan kepemimpinan nasional.

“Tokoh ini berhasil melahirkan kesatuan tertiinggi di kalangan angkatan perang Republik Indonesia, menempatkan kekuatan dan kedaulatan strategis bangsa diantara negara negara ASEAN, dan melahirkan angkatan bersenjata sebagai elemen strategis kekuatan dan kedaulatan rakyat dan menyatukan semangat militer dan rakyat melalui gerakan ‘Kemanunggalan ABRI Rakyat’,” jelas Taslim.

Taslim Arifin memberi bobot perhatian pada kebiasaan Jenderal M Jusuf saat kunjungan kerja. Dia menyapa seluruh wilayah kedaulatan, drama dialog antara jenderal prajurit yang sering mengharukan dan menerbitkan patriotisme di kalangan prajurit yang diamini khusyu oleh seluruh lapisan masyarakat, menjadikan sekat lembaga perang menjadi pelindung tanah tumpah darah dan seluruh rakyat, tumbuh subur menjadi cakrawala baru pada zamannya.

Achmad Amiruddin
Taslim Arifin menempatkan mantan Rektor Unhas Prof Dr Achmad Amiruddin sebagai tokoh legendaris ketujuh. Menurutnya, tokoh ini telah melakukan prubahan strategis pada bidang pendidikan dan pemerintahan yang moderen.

“Bila di Jepang dikenal ‘Restorasi Meiji’, maka di Sulawesi Selatan dikenal ‘Restorasi Amiruddin’,” tegas Taslim Arifin.

Menurutnya, lewat ‘Restorasi Amiruddin’, hampir separuh tenaga pengajar di Universitas Hasanuddin diperintahkan melanjutkan pendidikan di negara-negara maju, infrastruktur kampus dibangun setara perguruan tinggi ternama dunia.

Taslim menilai Prof Amir, sapaan Achmad Amiruddin, memberi perhatian yang sangat tinggi terhadap pemuda dan khususnya mahasiswa, dan menempatkan dan memberi teladan kepemimpinan kepada pemuda dan mahasiswa.

Bukan hanya sebagai sumber tenaga terampil korporat, Prof Amir juga menjadi pemimpin bangsanya, mengisi ruang kelompok menengah sebagai penggerak modernisasi bangsa, dan sebagai ujung tombak serta pemikir dalam berbagai bidang, dan menempatkan perguruan tinggi sebagai pusat kemajuan bangsa secara keseluruhan.

“Dalam bidang pemerintahan, tokoh ini merumuskan peranan pemerintah yang nonkonvensional. Pemerintah bukan hanya sebagai regulator, melainkan berperan sebagai innovator, pencetus berbagai alternatif dari berbagai kebintuan yang dihadapi, dan membimbing rakyatnya dalam cara dan pola berpikir dalam menyikapi dinamika lokal, regional, dan global,” tulis Taslim Arifin.

Menurut Taslim, pria kelahiran sebuah kampung pertanian di Desa Doping, Wajo, itu adalah pencetus Tri Konsep pembangunan Sulsel: Perubahan Pola Pikir, Pengwilayahan Komoditas, dan Petik Olah Jual.

“Tokoh ini tidak pernah diperalat oleh kekuasaan, melainkan kekuasaanlah yang diperalat untuk kesejahteraan rakyat. Dia adalah lelaki Bugis pertama yang meraih gelar Doctor of Philosophy (PhD) dari Universitas Lexington, Kentucky, Amerika 1958-1961. Ia doktor atom, inti dari segala material di bumi, dan pendiri Lembaga Atom Malaysia,” kata Taslim.

Baharuddin Lopa
Prof Dr Baharuddin Lopa adalah tokoh ke-8 asal Sulsel yang paling berpengaruh. Dalam hemat Taslim Arifin, tokoh ini memiliki integritas sebagai penegak hukum sekuat karang yang kokoh diterpa ombak dan badai.

“Tokoh ini selalu memperingatkan dirinya dan membuat para pendosa bergidik, dan menjadi suri teladan bagi para penerus bangsa bahwa ‘Keadilan harus ditegakkan hari ini, kendatipun besok dunia akan kiamat’,” kata Taslim.

Menurut Taslim, kesederhanaan hidup Baharuddin Lopa mencengangkan sejalan dengan jabatannya yang penuh godaan. Para pelanggar hukum frustrasi mencari celah kelemahan untuk digunakan mempermainkan hukum, dan para koleganya yang setara tidak pernah merasa aman untuk tidak dipenjarakan oleh Lopa, bila melakukan pelanggaran hukum.

“Kalau dalam legenda China hadir Judge Bao yang tanpa berkedip dapat menjatuhkan hukuman mati bagi pelanggar hukum, maka di Indonesia hadir Baharuddin Lopa yang dicintai oleh rakyat jelata dan disegani oleh para pejabat negara, serta sangat ditakuti oleh pera pelanggar hukum,” jelas Taslim.

Taslim menyebut Lopa sebagai putra terbaik daerah ini yang menjadi tokoh nasional, tanpa perlu menyandarkan diri kepada rezim yang berkuasa untuk menjadi Jaksa Agung.

“Lopa telah menempatkan daerah ini dan orang yang berasal dari daerah ini, memiliki stigma ‘tidak mengemal kompromi’ dalam penegakan hukum dan keadilan, wilayah abuabu tidak dikenal dalam hukum,” tulis Taslim.

Jusuf Kalla
Muhammad Jusuf Kalla adalah satu-satunya tokoh yang masih mengabdi kepada bangsa dan negara yang dimasukkan Taslim dalam sembilan “Wali Imajiner” adal Sulsel.

“Tokoh perdamaian yang diakui dengan sangat hormat, Honoris Causa, oleh belasan Perguruan Tinggi di dalam dan luar negeri, berbagai kelembagaan sosial, dalam dan luar negeri, dan merupakan tokoh pemerintahan yang tidak mengenal jalan buntu,” jelas Taslim.

Demi perdamaian bangsanya, lanjut Taslim, Jusuf Kalla mempertaruhkan segalanya. Bahkan nyawapun akan dipersembahkannya yang merupakan kharakter yang "anti dot" sebagai saudagar dan enterpreneur.

“JK adalah tokoh yang menempatkan dirinya sebagai pribadi yang fenomenal diantara tokoh yang kejangkitan ‘pencitraan’,” ujar Taslim.

Menurutnya, dalam berbagai tindakanndannpernyataannya, tokoh ini nyaris naif dalam memerankan ketokohannya sebagai pemegang amanah publik, dan sebagai pemangku kekuasaan negara, sering menyatakan sesuatu yang tidak populer, kendatipun sesungguhnya benar dan tepat dalam menilai dan memecahkan berbagai kemelut bangsanya, pada saat elite politik yang lain menghindar, dan melakukan pembiaran demi risiko politik yang begitu berat yang mungkin akan mereka hadapi.

Wali Wanua
Di bagian akhir catatannya, Taslim Arifin menulis, “Akhirnya wahai para pemuda dari daerah ini, telah cukup sempurnah tokoh sebagai acuan pengabdian. Telah cukup rahmat Allah atas lahirnya kualitas kepemimpinan dari daerah ini. Dan itu sekaligus berarti bahwa budaya Boegis Makassar adalah merupakan tempat dan lingkungan yang subur bersemainya tokoh harapan bangsa, dan janganlah berprilaku sebaliknya, baik dalam memilih pemimpin, maupun sebagai pemimpin itu sendiri.”

Taslim mencetuskan Komunitas Wali Wanua di Sulsel, Agustus 2006. Komunitas ini awalnya diisi veteran pejuang, mantan gubernur, kepala pemerintahan, tokoh lintasagama, budayawan, akademisi, profesional, pengusaha, dan penggiat sosial.

Pilihan kata wali, katanya, adalah penempatan tokoh yang sudah tidak memiliki banyak kepentingan.

Wali Wanua Sulsel dideklarasikan pada 16 September 2006.
Tugas mereka, jelasnya, hanya memberikan kabar baik, dan nasihat bermanfaat bagi masyarakat.
Sedangkan kata wanua, dipilih karena akar kata ini berasal dari proto Melayu (melayu tua). Kata benua (yang berarti tanah yang luas) juga berasal dari kata ini. negeri-negeri di kepulauan pasifik dan astronesia juga menggunakan suku kata sejenis untuk menunjuk kampung yang damai dan subur.

Dalam tradisi kerajaan Sulsel, wali wanua, akhirnya berfungsi sebagai orang yang diminta pendapat di luar struktur raja dan pemerintahannya. “Ini juga bukan legislatiof atau yudikatif. Pokoknya wali wanua ini adalah orang yang peduli pada kepentingan orang banyak, bukan partai, klan, atau kelompok orang,” kata Taslim yang juga mantan Dekan Fakultas Ekonomi Unhas ini.

Wali wanua ini, katanya, akan terus menggelinding menjadi sebuah harapan baru.
“Ini agar masyarakat Sulsel punya lagi harapan, untuk hidup lebih panjang dengan iklim ekonomi yang tidak mandek seperti sekarang,” katanya beberapa tahun silam.(*)

Penulis: AS Kambie
Editor: AS Kambie
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved