Kajian Wali wanua
9 Tokoh Sulsel yang Disebut Wali-Wanua Imajiner oleh Taslim Arifin
Menurut Taslim, Arung Palakka adalah pemersatu kerajaan lokal di tanah Boegis Makassar dan pencetus antiperbudakan jauh sebelum Eropah membayangkannya
“Beliau disamping tokoh pemerintahan, mentor para putra mahkota, baik sebagai calon kepala pemerintahan, maupun sebagai panglima perang, tokoh ini juga merupakan peletak dasar pemerintahan moderen, memiliki kapasitas sebagai intelektual yang menguasai belasan bahasa asing, penginisiatif dan peletak dasar ilmu perbintangan dengan pemesanan teropong bintang ketiga di dunia,” jelas Taslim.
“Karang Pattingalloang juga penggagas liberalisasi hukum laut yang jauh melampaui kemajuan berfikir para ilmuwan hukum di Francis yang dikenal sebagai peletak dasar hukum internasional. Tokoh inilah yang menempatkan bangsa Boegis Makassar sebagai salah satu berlian peradaban yang telah memperkaya peradaban global pada zamannya,” kata Taslim menambahkan.
Sultan Hasanuddin
Tokoh legendaris ketiga dalam padangan Taslim Arifin adalah Sultan Hasanuddin.
Hidup Sultan Hasanuddin hanya singkat, 39 tahun. Lahir pada 12 Januari 1631 dan wafat di Gowa pada 12 Juni 1670. Dia bernama lengkap I Mallombasi Muhammad Bakir Daeng Mattawang Karaeng Bonto Mangape.
“Sultan Hasanuddin merupakan tokoh perlawanan terhadap kolonial. Dia menempatkan Kerajaan Gowa sebagai salah satu kerajaan Nusantara dalam perlawannya menguras habis tenaga dan sumberdaya kekuatan kolonial,” kata Taslim Arifin.
Taslim Arifin menobatkan Sultan Hasanuddin sebagai penggagas pertama ASEAN. Di masa kepemimpinan Sultan Hasanuddin, Kerajaan Gowa menjalin aliansi kekuatan lintas Asia Tenggara jauh sebelum ASEAN lahir di era moderen, khususnya dengan kerajaan Melayu.
Bahkan, kata Taslim, Kerajaan Gowa di masa Sultan Hasanuddin telah memiliki kesepahaman dengan Kerajaan Ottoman di Turki dalam upaya membangun kekuatan global kerajaan-kerajaan Islam, kendatipun tidak pernah dideklarasikan secara eksplisit.
“Pada era pemeritahannya, Sultan Hasanuddin berhasil menempatkan Kerajaan Gowa sebagai sala satu pusat kekuatan ekonomi dan geopolitik global, yang membuat Raffles dalam autobiografinya menyarankan untuk lebih baik menghindari pasukan kerajaan Gowa dari pada menghadapinya secara frontal,” jelas Taslim.
Arung Palakka
Tokoh fenomenal keempat adalah Arung Palakka. Menurut Taslim Arifin, tokoh ini adalah pemersatu kerajaan lokal di tanah Boegis Makassar. Dia berhasil merumuskan bangunan dan jalinan pemerintahan konfederasi longgar pada abad ke-17 pada saat Rusia gagal memelihara pemerintahan konfederasi para era moderen.
“Tokoh ini pencetus awal antiperbudakan di Tanah Boegis Makassar, sebagai penjabaran ajaran Islam yang antiperbudakan, jauh sebelum bangsa Eropah membayangkan gerakan dan menentang perbudakan,” tegas Taslim.
Arung Palakka lahir di Lamatta, Mario ri Wawo, Soppeng, 15 September 1634, dan wafat di Bontoala, Makassar, 6 April 1696 pada umur 61 tahun. Dia bernama lengkap La Tenri Tatta To Erung To Risompi Petta Malampei Gemme’na Daeng Serang To' Appatunru Paduka Sri Sultan Sa'aduddin.
“Tokoh ini juga memiliki peranan strategis dalam membangun keutuhan dan kemanunggalan budaya Boegis Makassar sebagai bangsa yang memiliki hubungan darah dalam makna yang harfiah yang dicanangkan dalam Deklarasi Pancana,” tulis Taslim Arifin.
Ekonom itu menilai, politik perkawinan tokoh lintaskerajaan lokal yang diprakarsai Arung Palakka merupakan wujud persatuan yang sangat kuat, membuat para elite pemerintahan. Lewat perkawinan tokoh lintaskerajaan lokal ini, tokoh agama dan budaya disatukan dalam suatu "bio-sistem" yamg merekat kuat antara berbagai kekuatan sosial.
“Gerakan assimilasi, kohesi sosial, dan persatuan dalam kebhinnekaan, serta apa yamg dikenal sebagai ‘melting pot’ di AS telah dijabarkan dengan sempurnah oleh Arung Palakka, jauh sebelum declaration of independence di AS, dan Uni Eropah di Eropah,” kata Taslim Arifin.
Andi Pangerang Pettarani
Tokoh moderen yang legendaris kelima yang disebut Taslim Arifin adalah Andi Pangerang Pettarani. Dia bernama lengkap Andi Pangerang Pettarani Karaeng Bontonompo Arung Macege Matinroe Ri Panaikang.